28 February 2012

0 Tantri,Chua kotak & citra idol XXX

Cerita berikut ini sedikit mengikuti cerita panas terdahulu jadi mohon maaf sebelumnya

Tantri & Chua dari kelompok band kotak dan bukan mereka saja mereka juga mengajak patner mereka citra idol salh satu pendatang baru jebolan indonesian idol.mereka sedang berlibur di salah satu pulau di Kepulauan Seribu. Mereka ingin sekali pergi dari hiruk pikuk kota Jakarta, dan juga memanfaatkan waktu kosong selama tiga bulan karena sepinya panggilan untuk show. Akan tetapi ternyata liburan itu berubah menjadi sebuah mimpi bagi mereka bertiga.

Mereka sedang beristirahat di pondok, setelah sehari penuh berlari-lari dan bersenang-senang di pantai, ketika terdengar ketukan di pintu. Citra membuka pintu. Dan dengan segera tiga orang polisi masuk ke pondok itu. Ketiga gadis itu tidak mempunyai kesempatan bertanya apa yang terjadi karena dengan segera tangan mereka diborgol dan mereka digiring ke mobil tahanan yang menunggu di luar. Ketiga polisi itu juga mengemasi semua pakaian ketiga gadis itu dan membawanya pergi sehingga tidak ada tanda-tanda seseorang pernah tinggal di pondok itu. Kemudian mereka dibawa ke sebuah markas polisi. Setelah sampai mereka digiring ke ruang interogasi di bawah tanah. Ketiga gadis itu ditubuh menggunakan exctasy selama mereka berlibur di pulau itu. Mereka memprotes tuduhan itu tapi polisi itu tidak peduli atas sanggahan Citra,Chua dan Tantri. Ketiga gadis itu ditanyai secara bersamaan pada awal pemeriksaan. Mereka sangat ketakutan, tapi karena tuduhan itu sama sekali tidak benar, mereka sama sekali tidak bisa menjawab pertanyaan dari para polisi itu. Dua dari polisi tersebut yang satu berbadan besar dan hitam, sedang yang satu lagi berkepala botak. Kemudian Citra ditarik berdiri untuk digeledah. Sedangkan Chua dan Tantri masih terborgol dan duduk di atas kursi melihat penggeledahan tersebut.

Polisi yang berkulit hitam berdiri di belakang Citra dan memegangi bahunya. Tangan Citra masih terborgol ke belakang. Lalu mulai menggeledah seluruh tubuh Citra, mulai dari dada, pinggang kemudian turun ke paha dan kakinya. Ketika ia tidak menemukan apapun ia mengangguk kepada polisi yang berkepala botak dan melanjutkan pencarian secara lebih seksama. Polisi yang berkepala botak itu mendekat dan mulai melepaskan kancing baju Citra. Citra ketakutan dan mulai berteriak dan meronta-ronta. Ia menutup mulut dengan tangannya dan menyuruhnya untuk diam.

Citra terus berteriak, ia kemudian menjepit hidung Citra dan menutup mulut Citra. Citra mulai kehabisan nafas dan terus meronta-ronta. Polisi yang berkulit hitam itu menyuruhnya untuk diam. Temannya yang berkepala botak melepaskan tangannya dan berkata "Diam, atau kamu mati!" Citra tidak dapat berbuat apa-apa selain mematuhi perintah itu.

Polisi yang berkepala botak melanjutkan menelanjangi Citra. Ia melepaskan kancing baju Citra dan melepaskannya hingga bagian depan tubuh Citra terbuka. Kedua polisi itu sejenak memandangi buah dada Citra yang tertutup oleh BH putih berenda. Polisi yang berkulit hitam meraba toket Citra yang masih tertutup BH itu. Kemudian ia mulai melepaskan kancing dan restleting jeans Citra. Jenas itu dengan segera dapat ditarik turun. Ia menarik sepatu Citra dan kemudian melepaskan jeans dan kaki Citra. Selangkangan Citra juga tertutup oleh celana dalam putih yang dihiasi oleh renda kecil, ia dengan tidak sabar langsung menarik celana dalam itu membuat memek Citra terlihat. Jembut memek Citra yang ditumbuhi bulu bulu halus menutupi bukit memek yang tampak sempit itu. Keduanya memperhatikan memek itu selama beberapa saat tapi tanpa menyentuhnya.

Karena tangan Citra masih terborgol ke belakang, baju dan BH Citra tidak bisa dilepaskan. Polisi yang berkepala botak mengambil kunci borgol dan melepaskan borgol itu dari tangan Citra. Kemudian baju dan BH Citra segera dilucuti dari tubuh Citra. Itu membuat buah dada Citra yang bulat sedang terpampang dengan jelas di hadapan kedua polisi itu dihiasi pentilnya yang berwarna kemerahan. Citra sekarang berdiri telanjang bulat ditengah ruangan dihadapan polisi itu. Kedua polisi itu seakan-akan lupa dengan tugas penggeladahannya dan mulai merabai tubuh Citra. Ketika Citra mulai meronta, yang berwajah hitam memukul buah dada Citra dengan tangannya keras-keras. Jerit kesakitan Citra segera diredam oleh tangan yang berkepala botak yang menutup mulutnya. Citra diperingati untuk tetap diam dan tidak bersuara. Citra denga putus asa diam ketika tubuhnya diraba-raba oleh tangan kedua polisi tadi. Sementara Chua dan Tantri melihat semua yang terjadi dan ketakutan menyadari mereka akan mendapat perlakuan yang sama.

Citra yang kadang masih meronta, membuat kedua polisi tersebut sadar tujuan mereka menelanjangi Citra. Mereka segera mulai menggeledah tubuh Citra secara seksama. Rambut Citra diperiksa diikuti dengan mulut kemudian kulitnya. Kemudian Citra dibaringkan di atas sebuah meja dan dipaksa untuk menangkat kakinya hingga menempel ke dadanya, membuat memek itu terlihat dengan sangat jelas ke atas. Tampak liang memek yang dikelilingi bulu bulu halus itu menganga berwarna kemerahan. Yang hitam memasukan jari tengahnya ke dalam memek Citra dan mulai mencari-cari dengan jarinya itu. Citra merasa sangat kesakitan, dan malu mendapati seseorang memasukan jarinya ke dalam alat kelaminya.

Ketika tidak juga ditemukan sesuatu, kedua polisi tadi memutuskan untuk memeriksa anus Citra. Citra ditarik berdiri dan diperintahkan untuk membungkuk berpegangan pada meja tadi. Yang hitam membuka kaki Citra dan berjongkok di belakang Citra. Kemudian ia mendorong jari tengahnya masuk ke dalam liang anus Citra. Citra mulai menjerit kesakitan lagi, tapi yang berkepala botak mendekatinya dan mengancamnya akan memukuli Citrajika ia terus berteriak. Citra dipaksa untuk merasakan anusnya diperiksa secara brutal oleh si hitam tanpa mengeluarkan suara. Chua dan Tantri dapat mendengar nafas Citra tersentak dan tubuh Citra mengejang setiap kali jari si hitam berputar-putar di dalam anus Citra.

Setelah mereka selesai memeriksa tubuh Citra, dengan tangan kembali terborgol ke belakang dan telanjang bulat, Citra dibawa mendekati Chua dan Tantri. Citra didudukan di atas kursi sementara kedua polisi tadi membawa Chua ke tengah ruangan. Proses pencarian pada Chua sama dengan yang dilakukan pada Citra, tapi Chua ditemukan membawa beberapa obat-obatan untuk dirinya. Ketika polisi menemukan itu, si hitam langsung segera menelanjangi Chua kembali memeriksa tubuh Chua secara seksama. Tubuh Chua yang putih mulus itu tampak sangat terawat dengan baik dengan susunya yang juga berukuran sedang dihiasi dengan puting susunya yang berwarna merah kecoklatan, sementara memeknya tampak juga ditumbuhi dengan jembut jembut yang tipis , sungguh pemandangan yang sangat merangsang bagi kedua polisi itu maupun bagi siapapun yang melihatnya. Kedua polisi itu secara bergantian memasukan jari mereka ke lubang dan anus Chua. Setelah mereka selesai air mata sudah meleleh di seluruh wajah Chua.

Selanjutnya Tantri mendapat giliran untuk diperiksa. Dan tetap tidak ditemukan sesuatu. Kedua polisi itu juga memeriksa memek dan pantat Tantri dengan jarinya. Rontaan Tantri hanya membuat mereka semakin brutal memeriksa memek dan anusnya. Si hitam memasukan jari tengah dan telunjuknya ke dalam memek Tantri, kemudian menekuknya dan memutarnya sehingga ia bisa memeriksa seluruh bagian dalam dari memek Tantri. Kemudian setelah mereka selesai mereka mulai menanyai ketiga gadis itu yang masih duduk terborgol, telanjang bulat.

Karena obat yang ditemukan pada dirinya kedua polisi itu mulai menanyai Chua. Ketiga gadis itu digiring masuk ke ruangan kedua. Ketika masuk terlihat bahwa ruangan itu kedap suara. Borgol pada tangan Citra dan Tantri diikatkan pada rantai di dinding ruangan itu sehingga terikat di atas kepala mereka. Sedangkan Chua dibawa di tengah ruangan. Tangan dan kaki Chua diikat, pertama kedua tangannya ditarik oleh tali itu hingga tubuh Chua terangkat dari lantai dengan hanya bergantung pada tangannya. Kemudian kaki Chua dikat dan ditarik hingga terbuka dan kedua talinya diikat ke gelang besi di lantai.

Sekarang Chua tergantung tanpa menyentuh lantai menyerupai huruf X, seluruh berat badan Chua bergantung pada tangan Chua yang terikat ke atas.

Kedua polisi itu mulai menanyai Chua mengenai obat yang dibawanya. Chua berusaha keras menjelaskan itu adalah obat yang diberikan dokter pada dirinya dan bukan obat terlarang. Keterangan itu hanya membuat polisi itu semakin marah. Hitam mendekati lemari yang ada di ruangan itu dan kembali dengan membawa sebuah pecut. Pecutannya yang pertama tepat mendarat di puting susu Chua. Sunyi sejenak selama Chua berusaha menghirup udara, sebelum akhirnya sebuah jerit kesakitan terdengar dari mulutnya. Chua merasa puting susunya serasa terbakar. Pecutan kembali datang dan jeritan Chua kembali membahana ke seluruh ruangan. Kedua polisi itu menyiksa Chua dengan sekuat tenaga, tanpa peduli dengan aturan dalam menanyai seorang tersangka. Dua pecutan kembali diarahkan ke kedua puting susu Chua. Kemudian si hitam berhenti sejenak menunggu hingga Chua dapat mengumpulkan tenaga untuk berbicara lagi.

Chua memohon pada mereka untuk berhenti menyiksanya, tapi mereka tetap terus menanyai Chua tentang obat yang ia punyai dan hubungannya dengan para pengedar exctasy. Botak kemudian berbalik menuju lemari, dan kembali dengan mendorong sebuah unit yang mirip dengan mesin las yang biasa dibawa oleh tukang las keliling. Unit itu disambungkan dengan saluran listrik di dinding. Si botak kemudian mengambil dua buah sambungan dari mesin itu dan mendekati Chua. Di ujung sambungan itu terdapat jepitan buaya berukuran besar yang biasa digunakan untuk mengisi sebuah aki. Si botak kemudian memilin dan memijat puting susu Chua hingga perlahan tapi pasti puting susu Chua mengeras dan mengacung, yang dengan segera dijepit oleh jepitan buaya tadi. Kembali Chua menjerit-jerit kesakitan. Si botak kembali mengulangi itu pada puting susu Chua yang lain. Chua hanya bisa menjerit-jerit ketika rasa sakit menyerang kedua puting susunya sekaligus.

Mesin yang terletak dihadapan Chua mempunyai tombol putar yang berguna untuk mengatur besar arus listrik yang mengalir ke kabel yang tersambung ke jepitan buaya tadi. Chua melihat dengan mata ketakutan melihat si botak meletakan tangannya di atas tombol putar tadi. Si botak memutar tombol itu sedikit dan jarum penunjuk tampak melompat sedikit. Chua dapat merasakan getaran di kedua puting susunya. Kembali si botak menanyai Chua tentang obat-obatan tadi. Dan ketika jawaban Chua tidak memuaskan dirinya, si botak memutar tombol tadi lebih jauh.Chua kembali menjerit kesakitan ketika getaran di puting susunya berubah menjadi sesuatu yang menyakitkan dan terus menyebar hingga menyakiti seluruh buah dadanya. Akhirnya rasa sakit itu menjalar keseluruh tubuhnya yang terkejang-kejang. Itu berlangsung selama beberapa menit, dan setiap kali si botak memutar tombol itu lebih jauh lagi setelah berhenti untuk beberapa detik. Dan setiap kali rasa sakit yang terasa membuat Chua menjerit semakin keras. Kemudian si botak melepaskan salah satu jepitan buaya tadi dari puting susu Chua dan menjepitkannya ke itil Chua yang berwarna merah. Chua sangat berharap ia bisa pingsan saat itu juga tapi tidak berhasil, dan ia harus merasakan rasa sakit yang kali ini menyerang puting susu dan itilnya sekaligus.

Chua masih tetap tidak bisa memberikan jawaban yang memuaskan pada si botak. Dan ia hampir tidak bisa menahan rasa sakit karena aliran listrik yang dialirkan ke seluruh tubunya. Tetapi tetap saja kedua polisi tadi terus menyiksanya. Kaki Chua terbuka lebar membuat lubang memek itu terbuka terlihat jelas dengan tubuhnya yang tergantung. Si botak kemudian melepaskan jepitan buaya itu dari puting susu dan itil Chua. Dan mengambil sebuah ******* ******an yang terbuat dari logam. Panjangnya sekitar 30 senti dengan diameter sekitar 5 senti. Si botak kemudian menyambungkan kabel yang tadi tersambung ke jepitan buaya tadi, ke pangkal ****** ******an tadi. Si botak kemudian mendekati Chua. Ia mengacungkan ****** ******an tadi di wajah Chua sambil mengulangi pertanyaannya soal obat tadi. Chua sangat ingin menjawab pertanyaan itu, tapi ia sama sekali tidak tahu menahu soal obat-obatan terlarang yang selalu ditanyakan. Si botak kemudian menyalakan mesin tadi. Si botak memegang ****** ******an tadi pada pangkalnya yang dilapisi oleh karet dan plastik keras. Dan ujung ****** ******an tadi didekatkan pada memek Chua.

Si botak menyeringai ketika ia menempelkan ujung ****** ******an itu pada itil Chua. Dan arus listrik kembali mengalir dari ****** ******an tadi ke itil Chua. Tubuh Chua kembali mengejang kesakitan ketika aliran listrik kembali mengalir ke seluruh tubuhnya. Chua kembali menjerit kesakitan. Si botak kemudian mengarahkan ujung ****** ******an tadi ke bibir memek Chua dan memasukannya ke dalam memek Chua.

Rasa sakit karena aliran listrik tadi dan masuknya ****** ******an besar tadi yang membuka liang memek dan merobek selaput daranya dengan brutal, membuat Chua tidak bisa lagi bertahan, setelah dua puluh detik Chua jatuh lemas dan pingsan.

Si botak terus menggerakan ****** ******an tadi keluar masuk ke memek Chua selama sepuluh detik lagi. Kemudian ia menarik ****** ******an itu keluar dan mematikan mesin tadi. Setalah ****** ******an itu lepas dari lubang memek Chua tampaklah lendir kental dan berwarna putih bening yang cukup banyak mengalir dari dalam memek itu bercampur dengan darah keperawanan Chua. Ia membiarkan Chua yang tak sadarkan diri tetap tergantung dan berbalik mendekati Citra dan Tantri. Kedua gadis itu melihat semua penyiksaan pada diri Chua dengan penuh ketakutan. Mereka sangat ketakutan membayangkan apa yang akan terjadi pada diri mereka selanjutnya.

Kedua polisi itu sudah menyadari ketiga gadis itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan pengedar obat terlarang tapi mereka memutuskan untuk tetap menanyai Citra dan Tantri. Giliran selanjutnya adalah Citra. Citra dibawa ke tengah ruangan tepat disebelah Chua dan diikat dengan cara yang sama dengan Chua. Tapi tangan dan kakinya tidak terlalu ditarik hingga Citra bisa berdiri di atas kedua kakinya di lantai. Dan Citra kembali ditanyai, dan jawaban yang di dapat tetap tidak memuaskan.

Si hitam mengambil sebuah kuda-kuda dari lemari. Kemudian ia memasang ****** ******an logam tadi pada kuda-kuda tadi hingga berdiri tegak dengan ujung menghadap ke atas. Si hitam kemudian mendorong kuda-kuda tadi hingga terletak diantara kedua kaki Citra yang terbuka. Si hitam kemudian merendahkan kuda kuda tadi untuk kemudian memasukan ****** ******an tadi ke dalam memekCitra. Mesin tadi masih belum dinyalakan sehingga ****** ******an tadi tidak dialiri oleh listrik. Ketika kuda kuda tadi telah mencapai tingginya, ****** ******an tadi telah masuk sekitar 20 senti ke memek Citra. Citra dengan kesakitan berusaha berjingkat untuk mengurangi rasa nyeri di selangkangannya.

Si botak kemudian mengambil sepasang jepitan dan menjepitkannya ke kedua puting susu Citra. Jepitan itu mempunyai desain khusus, sehingga setiap kali kabel yang ada diujungnya ditarik, jepitan itu akan semakin menjepit dengan gigi giginya yang tajam. Citra menjerit kesakitan ketika kedua puting susunya dijepit oleh jepitan tadi. Si botak kemudian memasukan kabel yang ada diujung jepitan itu pada gelang besi yang ada di langit langit hingga sekarang setiap kali kabel itu ditarik Citra akan menjerit kesakitan karena gigi jepitan itu menancap makin dalam di puting susunya. Dan kedua polisi tadi mulai penyiksaan pada Citra. Si hitam memulai dengan menanyai Citra. Dan setiap kali jawaban Citra tidak memuaskan, sebuah pemberat digantungkan pada ujung kabel tadi. Dengan pemberat tadi kabel itu langsung tertarik dan menyebabkan jepitan tadi makin menancap ke puting susu Citra. Dengan segera puting susu dan buah dada Citra tertarik oleh pemberat yang terus ditambah di ujung kabel tadi. Citra berusaha bergerak maju untuk mengurangi rasa sakit yang ditimbulkan, tapi kuda kuda dan ****** ******an yang dimasukan dalam memeknya membuat ia tidak bisa bergerak. Setiap pemberat ditambah semakin keras Citra menjerit-jerit minta ampun. Jeritan Citra makin lama makin keras, karena Citra merasa puting susunya seakan telah dijepit hampir putus oleh jepitan tadi.

Akhirnya, si hitam mendekati mesin listrik tadi dan mulai menyalakannya. Tubuh Citra melonjak ketika aliran listrik tiba-tiba mengalir, membuat tubuhnya menarik jepitan itu mundur dan membuat puting susunya makin sakit. Setiap lima detik sekali sebuah kejutan listrik mengalir melalui ****** ******an tadi. Dan si botak terus menambah pemberat di ujung kabel jepitan tadi. Si hitam terus menanyai Citra, tapi Citra terlalu kesakitan untuk bisa menjawab setiap pertanyaan. Citra hanya bisa menagis dan menjerit-jerit, berteriak minta ampun setiap kali kejutan listrik itu mengaliri tubuhnya. Kedua polisi tadi akhirnya memutuskan bahwa Citra tidak bisa memberikan keterangan apapun. Aliran listrik tadi mulai dilemahkan kekuatannya hingga tidak sekuat tadi, tapi Citra tetap dibiarkan tergantung pada posisi seperti semula, sementara kedua polisi itu mendekati Tantri untuk mulai menanyainya.

Chua masih tergantung tak sadarkan diri, sementara Citra dengan kaki terbuka, dan ****** ******an logam dengan aliran listrik dimasukan dalam memeknya, dan Tantri mulai dipersiapkan untuk mulai ditanyai. Kedua polisi tadi menurunkan Chua dan memborgolnya untuk kemudian menggantungkan borgol tadi pada gelang besi di dinding dan kakinya yang tergantung diikat pada gelang besi di lantai. Borgol di tangan Tantri dilepaskan dan Tantri digiring ke tengah ruangan tepat di tempat Chua tergantung tadi. Tantri diperintahkan untuk berbaring terlentang. Kemudian kedua pergelangan kakinya diikat dengan tali yang tergantung pada gelang di langit-langit. Kemudian tali-tali itu ditarik, menyebabkan Tantri tergantung dengan kepala di bawah, dan kakinya di atas terbuka lebar. Kepala Tantri tergantung sekitar 15 senti dari lantai, dan kedua tangannya diikatkan pada gelang besi yang ada di lantai.

Si hitam mulai menanyai Tantri, masih tentang pengedar obat terlarang. Si hitam menyadari Tantri juga tidak akan bisa memberinya informasi, tapi ia dan si botak akan tetap menanyainya untuk memuaskan mereka.

Si botak mendekati Tantri dari belakang. Dengan posisi tergantung terbalik dan kaki terbuka lebar, memek Tantri terlihat jelas oleh si botak. Kemudian ia mengambil pentung polisi yang dibawanya dan memasukkanya ke dalam memek Tantri. Tantri menjerit-jerit kesakitan, berteriak memohon si botak berhenti menyakiti dirinya, tapi si botak tidak mempedulikannya. Ia malah terus menekan petungannya makin dalam ke memek Tantri. Tantri meronta-ronta menarik-narik ikatan di tangannya tanpa hasil. Ia mulai menggerakan pentungan itu keluar masuk memek Tantri, sementara si hitam melihatnya sambil tertawa senang. Si botak akhirnya menarik pentungan itu keluar dan memasukan jarinya ke dalam memek Tantri untuk memeriksa apakah memek Tantri sudah mengeluarkan cairan.

Si botak melihat selain cairan lendir birahi menempel pada jarinya, darah perawan Tantri terlihat melumuri jarinya. Si hitam masih terus menanyai Tantri tanpa bisa dijawab oleh Tantri. Ia kemudian mengambil sebuah pecut. Pegangan pecut tadi adalah sebuah ****** ******an dan pecut itu terdiri dari sepuluh jalinan sekaligus dengan panjang sekitar 40 senti. Si hitam memperlihatkan pecut itu pada Tantri, dan Tantri kembali menjerit-jerit minta ampun. Ia hanya tersenyum dan kembali menanyainya. Ketika Tantri masih tidak bisa menjawab, Ia mendekati Tantri dan mengayunkan pecutnya ke selangkangan Tantri. Sepuluh jalinan pecut tadi tepat mendarat di memek Tantri, berlanjut ke perutnya. Rasa sakit yang ditimbulkan membuat Tantri tersentak dan tidak bisa bernafas selama beberapa detik. Selanjutnya jerit kesakitan Tantri terdengar melengking. Ia terus mengayunkan pecutnya ke selangkangan Tantri. Sebelum akhirnya ia berhenti sejenak beristirahat. Sedangkan Tantri terus menjerit-jerit ketika rasa sakit di memeknya terus menyegat menyakiti seluruh tubuhnya. Ketika jeritan Tantri berhenti, kembali ia mengajukan pertanyaan. Ketika masih tidak bisa dijawab oleh Tantri, empat ayunan pecut kembali diayukan ke selangkangan. Tantri. Jeritan Tantri kembali terdengar. Tantri tak berdaya melindungi dirinya. Dan ia tidak bisa menjawab pertanyaan si hitam untuk bisa menghentikan ia terus memecuti dirinya. Tantri masih terus dipecut untuk beberapa menit kemudian.

Akhirnya kedua polisi tadi berhenti dan menjauhi Tantri sambil berdiskusi. Mereka berbisik dan menunjuk nunjuk ketiga gadis itu, kadang tertawa senang, sampai akhirnya mencapai sebuah keputusan. Si botak mengambil sebuah botol minuman keras dari lemari. Kedua polisi itu masing-masing meneguk botol itu, sebelum mereka kembali mendekati ketiga gadis itu. Tangan Tantri dilepaskan dari ikatan di lantai. Kemudian kedua pergelangan tangan Tantri diikat dengan tali yang tergantung pada langit-langit. Ketika tali-tali itu ditarik dan dikencangkan, Tantri sudah tergantung pada kaki dan tangannya. Posisi tubuh Tantri tergantung dengan bagian depan menghadap ke atas, kepalanya terdongak tergantung, dengan ketinggian tepat untuk diperkosa. Sedangkan Citra hampir kehabisan nafas, setelah sekian lama disengat oleh aliran listrik setiap lima detik sekali. Setiap kali listrik itu mneyengat rintihan terdengar dari bibir Citra yang memucat. Si hitam kemudian mematikan mesin listrik tadi, membuat tubuh Citra terjatuh lemah lunglai, membuat ****** ******an logam tadi terbenam makin dalam ke memek Citra, dan Citra mengerang kesakitan. Tubuhnya masih tergantung dengan tangan terikat ke langit langit dan kakinya masih terbuka lebar.

Kuda kuda tadi dipindahkan, ****** ******an logam juga dikeluarkan dari memek Citra. Ikatan pada kaki Citra dikendorkan, sedangkan tali pada pergelangan tangan Citra ditarik. Sekarang Citra tergantung terangkat dari lantai dengan kaki terbuka lebar dan seluruh berat badannya bergantung pada ikatan pada tangannya. Persis dengan posisi Chua pada permulaan tadi. Citra baru berusaha mengumpulkan tenaganya kembali ketika si botak mendekati dirinya. Ia kemudian menuangkan minuman keras dari botol yang dipegangnya ke dalam mulut Citra. Citra menelan cairan itu, lalu terbatuk-batuk ketika tenggorokannya terasa panas karena minuman itu.

Kemudian ikatan pada tangan Citra dilepaskan dan Citra dibantu untuk berdiri di kedua kakinya. Ia terus menuangkan minuman keras ke mulut Citra, perlahan pucat dari wajah Citra mulai menghilang. Ketika kesadaran Citra pulih seluruhnya, ia melihat Chua yang tergantung di dinding dan Tantri yang digantung pada kedua tangan dan kakinya di tengah ruangan. Kedua polisi tadi telah melepaskan seluruh pakaiannya.


Si botak kemudian mendorong tubuh Citra hingga jatuh berlutut.
Kemudian si botak mendekatkan ******nya yang masih lemas ke mulut Citra dan memerintahkannya untuk mengulum ****** itu.


Citra teringat pada sebuah film dewasa yang pernah dilihatnya bersama Chua dan Tantri, dan ia menyadari apa yang diinginkan oleh polisi itu, Citra juga terlalu takut untuk menolak perintah itu. Citra kemudian memasukan ****** itu dalam mulutnya dan mulai mengulumnya membuat ****** itu mengeras dan membesar. Si hitam berbalik mendekati Tantri. Kepala dan memek Tantri tepat tergantung setinggi pinggang si hitam. Ia kemudian mendekati kepala Tantri. Tantri berusaha mengangkat kepalanya berusaha melihat semua yang dilakukan oleh kedua polisi tadi. Si hitam menarik kepala Tantri hingga terdongak ke atas lagi dan mendekatkan ******nya pada mulut Tantri. Tantri juga menuruti kemauannya, mengulum dan menjilati ******nya, takut akan apa yang mungkin akan terjadi jika ia menolaknya.

Kedua ****** polisi tadi segera mengeras dan membesar. Keduanya sudah sangat bernafsu. Si botak yang sedang memperkosa mulut Citra sedang bersiap-siap untuk memperkosa . Karena tubuh Chua yang tergantung tinggi dari lantai, ia membutuhkan sebuah kotak untuk bisa menambah tingginya hingga ******nya bisa masuk ke memek Chua.

Tapi ternyata kotak itu terlalu tinggi hingga terpaksa ia menekuk kakinya untuk bisa mengarahkan kepala ******nya ke bibir memek Chua. Ketika ia meluruskan kakinya, penisnya terdorong masuk ke memek Chua yang terluka karena penyiksaan tadi. Chua kembali mengeluarkan jerit kesakitan. Kakinya yang terikat erat membuat ia tidak ikut terangkat ke atas ketika ****** si botak mulai masuk ke memeknya. Si botak mulai bergerak keluar masuk, membuat memek Chua yang sudah terluka bertambah sakit dan nyeri. Ia terus bergerak selama beberapa menit sebelum akhirnya mengerang dan menyemburkan pejunya ke dalam memek Chua. Si hitam sudah mulai memperkosa Tantri. Dengan tubuh tergantung demikian, ia dengan mudah dapat berdiri di antara kedua kaki Tantri dan memasukan ******nya ke dalam memek Tantri. Tali-tali yang mengikat. Tantri membuat tubuh Tantri dapat berayun ke segala arah. Si hitam berdiri tepat di depan selangkangan Tantri. Ia memasukan dua jarinya ke dalam memek Tantri dan mulai menggerakannya keluar masuk sampai cairan keluar dari memek Tantri. Ia kemudian mendekat dan memasukan ******nya ke dalam memek Tantri. Tubuh Tantri mulai berayun ke depan. Ia memegangi pinggang Tantri dan menariknya kembali ke belakang membuat ******nya terbenam makin dalam ke memek Tantri. Kemudian si hitam hanya perlu berdiri dan memegangi pinggang Tantri sambil menarik dan mendorong tubuh ke depan dan ke belakang membuat ******nya keluar masuk memek Tantri. Ia terus menikmati memek Tantri untuk beberapa saat. Sedangkan Tantri hanya bisa berteriak kesakitan setiap kali ****** yang besar menerobos masuk ke memeknya yang masih sempit. Akhirnya setelah beberapa menit si hitam mencapai orgasme, dan menyemprotkan pejunya ke memek Tantri.

Kedua polisi itu sudah puas dengan orgasme pertama mereka, dan mereka berdua bersiap untuk kembali mempermaikan ketiga gadis itu lagi. Citra, Tantri dan Chua masing-masing diberi minuman keras oleh mereka untuk menyadarkan mereka dari shock perkosaan yang baru mereka alami. Chua dan Tantri dibiarkan tergantung pada posisi mereka ketika diperkosa tadi. Si hitam mendekati lemari dan kembali dengan membawa sebuah alat kejutan listrik. Di ujung alat yang berbentuk seperti ketapel itu terdapat bulatan lugam. Jika bulatan logam itu ditempelkan pada tubuh seseorang maka tubuh orang itu akan disengat oleh aliran listrik yang kuat. Ia mendekat pada Citra dan menempelkan ujung alat itu pada pantat Citra. Kejutan listrik yang terjadi membuat tubuh Citra terlompat dan mengejang disertai jerit kesakitan Citra.

Kemudian Citra ditarik mendekat pada Chua. Citra berlutut di hadapan Chua. Kemudian ia diperintahkan untuk memasukan jarinya ke memek Chua. Citra mulanya menolak, tapi ia berubah pikiran melihat ujung alat yang dipegang oleh si hitam mendekat ke susunya. Citra mulai memasukan dua buah jarinya ke memek Chua yang baru saja diperkosa oleh si botak. Jari Citra dengan mudah masuk karena peju si botak masih terlihat mengalir keluar dari memek Chua. Si hitam kemudian memerintahkan agar Citra memasukan satu jari lagi. Tiga jari Citra masih dapat dengan mudah masuk ke memek Chua. Ketika Citra mendorong masuk keempat jarinya sekaligus, memek Chua mulai terasa sempit. Citra harus mendorong lebih keras agar jari-jarinya bisa masuk, yang mengakibatkan Chua mengerang kesakitan. Akhirnya dengan dorongan keras keemapt jari Citra bisa masuk ke memek Chua. Setelah itu si hitam akhirnya menyuruh Citra memasukan seluruh jari dan tangannya masuk ke memek Chua.

Citra menarik jarinya dari memek Chua dan menggelengkan kepalnya menolak perintah si hitam. Ujung alat si hitam menempel ke buah dada Citra. Citra berteriak kesakitan, dan tubuhnya terlempar ke lantai. Ia terus mendekati tubuh Citra. Alat itu selanjutnya menempel di selangkangan Citra. Citra kembali berteriak kesakitan. Citra kemudian merangkak mendekati Chua yang tergantung di dinding. Ketika tubuh Citra kembali disentuh oleh alat tadi, Citra memasukan seluruh jarinya ke memek Chua. Chua menjerit-jerit kesakitan. Citra berusaha keras agar dirinya tidak disakiti lagi oleh si hitam, berusaha memasukan tangannya ke memek Chua yang makin lama menjerit makin keras dan memilukan. Citra terus berusaha mendorong kelima jarinya masuk ke memek Chua, perlahan berusaha mengurangai rasa sakit yang diderita oleh Chua. Tapi tangan Citra adalah benda terbesar yang pernah berusaha masuk ke memek Chua. Dan ketika bibir memek Chua melebar berusaha dimasuki oleh tangan Citra, rasa sakit yang ditimbul semakin menjadi-jadi.

Akhirnya dengan satu dorongan keras seluruh jari Citra masuk ke dalam memek Chua. Ketika pangkal ibu jari Citra masuk bersamaan dengan keempat jari Citra dan membuat bibir memek Chua membuka tambah lebar,Chua berteriak dan menronta-ronta kesakitan. Ketika seluruh telapak tangan Citra masuk, bibir memek Chua menjepit erat pergelangan tangan Citra. Citra dapat merasakan bagian dalam memek Chua berdenyut-denyut. Sedangkan Chua merasa dirinya seperti hamil merasakan tangan Citra masuk seluruhnya. Si hitam kemudian menempelkan kembali alat listrik tadi ke susu Citra. Ketika tubuh Citra terlompat kesakitan, tangan Citra tertarik dari memek Chua. Tangan Citra tertarik sebagian keluar dan tersangkut pada memek Chua. Chua kembali menjerit kesakitan. Sedangkan Citra hanya bisa menangis. Perlahan Citra berhasil menguasai dirinya dan menyadari sebagian tangannya masih ada di dalam memek Chua. Citra kemudian berusaha menarik tangannya dan setelah beberapa saat tangan itu berhasil ditariknya keluar dari memek Chua. Chua terus berteriak dan menjerit kesakitan sementara si botak dan si hitam menonton sambil tertawa senang melihat Chua meronta-ronta kesakitan. Si hitam kemudian mendekatkan alatnya pada memek Chua. Jeritan Chua, terdengar seperti binatang yang sangat kesakitan, melolong tinggi. Chua terus dibiarkan tergantung pada dinding. Sementara itu Chua sendiri masih terus menangis dan merintih kesakitan, merasakan memeknya yang bagaikan terobek oleh masuknya tangan Citra tadi.

Kedua polisi itu bersiap untuk menyiksa Citra sekarang. Pertama-tama mereka membawa Citra kembali ke tengah ruangan. Si botak kemudian mengambil sebuah benda yang membuat wajah Citra memucat ketakutan. Benda itu berupa logam sepanjang satu meter dengan dua buah ****** ******an logam dilas pada tengah-tengahnya. ****** ******an yang satu berukuran besar, sekitar 25 senti panjang dan berdiameter 10 senti. Yang satu lagi panjangnya 15 senti dan berdiameter sekitar 3 senti. Tangan Citra kembali diborgol ke belakang. Kedua puting susunya dijepit oleh jepitan yang pernah dijepitkan pada puting susunya tadi. Jepitan yang akan menjepit makin keras jika kabel yang ada diujungnya ditarik. Kembali Citra menjerit ketika puting susunya yang sekarang berwarna ungu kembali dijepit oleh jepitan buaya itu. Kemudian kabel tadi ditarik dan kemudian diikatkan pada gelang besi yang ada di langit-langit. Sekarang puting susu dan susu Citra tertarik keatas sehingga Citra berusaha berjinjit untuk mengurangi rasa sakit yang timbul. Selanjutnya batang besi tadi diletakan diantara kedua kaki Citra dengan ****** ******an yang berukuran besar di depan. Tali-tali dari langit-langit diikatkan pada kedua ujung batang logam tadi dan untuk kemudian tali itu ditarik hingga batang logam tadi terangkat ke atas, menuju ke arah memek dan pantat Citra. ****** ******an yang besar bersentuhan dengan bibir memek Citra. Si hitam mengarahkan agar ujung ****** ******an logam itu tepat di liang memek Citra. Si botak terus menraik tali yang mengikat batang tadi. ****** ******an itu mulai membuka bibir memek Citra dan menerobos masuk. Citra menjerit kesakitan ketika memeknya melebar berusaha dibuka oleh ****** ******an logam tadi yang terus masuk karena batang tadi ditarik ke atas oleh si botak. Kemudian ****** ******an yang lebih kecil mulai menempel ke liang pantat Citra. Citra menjerit ketakutan menyadari apa yang akan terjadi selanjutnya.

Ketika ****** ******an kecil itu mulai menempel, tubuh Citra ikut terangkat ke atas. Liang duburnya tidak membuka untuk ****** ******an yang kecil itu. Tapi berat tubuh Citra, membuat tubuh Citra yang pada mulanya ikut terangkat perlahan turun. Dan itu menyebabkan liang pantat Citra mulai membuka perlahan dimasuki oleh ****** ******an kecil tadi. Rasa sakit yang dirasakan oleh Citra tak terkira. Citra belum pernah merasakan satu bendapun masuk ke dalam duburnya yang kecil dan sempit. Tapi sekarang liang dubur itu terbuka perlahan, diterobos oleh ****** ******an logam itu. Untuk sesaat Citra melupakan ****** ******an besar yang juga terus terbenam masuk ke memeknya karena sakit yang terasa amat sangat terdapat pada duburnya. Perlahan seluruh ****** ******an tadi terbenam seluruhnya ke memek dan pantat Citra. Tapi logam itu terus terangkat membuat tubuh Citra juga ikut terangkat dari lantai.

Dengan tangan terborgol ke belakang Citra tidak bisa menjaga keseimbangannya ketika tubuhnya terangkat dari lantai. Tubuh Citra mulai terjatuh ke depan, sampai akhirnya tertahan oleh kabel yang terikat pada jepitan di puting susu Citra. Citra menjerit-jerit ketika jepitan itu menjepit makin dalam karena tertarik oleh tubuhnya yang jatuh ke depan. Citra terus menerus menjerit sampai akhirnya tubuh Citra benar-benar terangkat dari lantai dengan tergantung pada kabel yang ada di puting susunya dan dua ****** ******an yang masuk dan mengangkat tubuhnya dari lantai. Ketika selesai, tubuh Citra tergantung sekitar satu meter dari lantai. Kedua polisi itu bergantian mendorong tubuh Citra hingga terayun-ayun membuat Citra menjerit kesakitan karena kabel jepitan yang ada di puting susunya ikut tertarik. Puting susu dan buah dada Citra tampak memerah dan kemudian berubah menjadi ungu karena terus menerus ditarik dan dijepit makin keras. Akhirnya mereka puas mendengar jerit kesakitan dari Citra. Mereka menurunkan batang logam tadi sehingga sekarang Citra bisa berdiri di atas kedua kakinya tapi kedua ****** ******an yang jepitan tadi masih ada di tempatnya masing-masing.

Penyiksaan pada diri Citra membuat nafsu pada kedua polisi itu bangkit lagi. Satu-satunya gadis yang masih tersisa adalah Tantri, yang masih tergantung terlentang pada kaki dan tangannya. Mereka berdua mendekati Tantri. Si hitam mendekati kepala Tantri sedangkan si botak berdiri di depan selangkangan Tantri. Si hitam memasukan ******nya yang masih lemas ke mulut Tantri, sementara si botak memasukan tiga jarinya ke dalam memek Tantri dan melebarkan bibir memek Tantri. Tantri meronta kesakitan, tapi ia hanya bisa berayun-ayun dalam ikatannya, sedangkan mulutnya sudah dipenuhi oleh ****** yang terus membesar dan mengeras. Ketika ****** telah mengeras seluruhnya, ia memberi tanda pada si botak dan mereka bertukar tempat.

Mereka mulai memperkosa Tantri secara bersamaan. Sebuah ****** yang lemas kembali masuk ke dalam mulutnya dan ****** si hitam yang keras dan tegang masuk ke dalam Memeknya. Kembali tubuh Tantri berayun kedepan dan belakang. Dan ketika ****** si botak telah mengeras seluruhnya ia mendorong ****** itu makin dalam ke tenggorokan. Tantri. Dalam sesaat memek dan tenggorokan Tantri mulai diperkosa oleh ****** si hitam dan si botak. Setelah beberapa menit kedua polisi itu mencapai puncak dan keduanya menyemburkan pejunya ke memek dan mulutTantri.

Ketiga gadis itu tergantung kesakitan dalam ruangan itu. Chua tergantung di dinding. Kakinya terikat pada lantai dan terbuka lebar. Tangannya terasa sakit karena terikat dan menanggung berat tubuhnya. Citra berdiri dengan tangan terborgol ke belakang. Jepitan pada puting susunya membuat Citra tidak berani bergerak sedikitpun. Dan di antara kedua kakinya terdapat batang logam dengan dua buah ****** ******an logam yang terbenam masuk ke memek dan pantatnya. Tantri terikat dan tergantung pada kedua kai dan tangannya. Memeknya teluka karena dipecuti dan dirinya baru diperkosa secara bersamaan.

Setelah beristirahat sejenak kedua polisi tadi mulai lagi membuat ketiga gadis itu saling menyiksa temannya masing-masing. Tantri diturunkan dari ikatan. Si hitam memberinya minuman keras untuk memulihkan seluruh kesadarannya. Ia kemudian menyerahkan pecut yang tadi dipergunakannya pada Tantri sendiri. Sedangkan Chua serta Citra masih terikat dan tergantung di ruangan itu. Si hitam kemudian memerintahkan Tantri agar mulai memecuti mereka, sampai mereka menyuruh Tantri berhenti. Dan jika ia tidak menuruti perintah itu, Tantri sendiri yang akan merasakan pecut itu sekali lagi. Tantri tidak punya pilihan lain selain menuruti perintah itu.

Tantri mendekati tubuh Chua yang masih tergantung. Seluruh tubuh Chua terpampang dan dapat dipecuti oleh Tantri. Tantri berbisik mohon maaf ketika dirinya makin dekat dengan Chua. Dengan ragu-ragu ia mengayunkan pecutnya ke paha Chua. Chua menjerit kesakitan, tapi si hitam berteriak agar Tantri mengayunkan pecut itu lebih keras lagi. Kembali Tantri mengayunkan pecutnya ke paha Chua, yang membuat Chua menjerit lebih keras lagi. Hitam kemudian merampas pecut itu dari tangan Tantri dan menyuruh Tantri membungkukan badannya. Tantri terdiam. Si hitam mengancam akan menghukum Tantri lebih menyakitkan jika Tantri tidak menuruti perintahnya. Tantri berbalik dan membungkukan badannya. Si hitam mengayunkan pecut tadi sekuat tenaga mengarah pada pantat Tantri. Tantri menjerit dan jatuh tersungkur ke lantai, tangannya menutupi bekas merah yang timbul pada pantatnya. "Bangun!" si hitam berteriak. Tubuh Tantri tidak bertenaga untuk bangkit setelah pecutan yang sangat menyakitkan tadi. Ketika melihat Tantri tetap berbaring di lantai ia mulai mengayukan pecutnya lagi. Pecut itu mendarat di perut Tantri kemudian pada punggung Tantri. Tantri berusaha bangkit untuk menghentikan pecutan tersebut. Dan ketika ia berhasil berdiri dengan sempoyongan, ia menghentikan pecutannya.

Ia menunggu hingga Tantri membungkuk lagi. Pecutan yang datang lebih keras dari sebelumnya. Tantri berusaha bertahan dengan menggigit bibirnya agar tidak tersungkur lagi. Ia terus menjerit kesakitan tapi tetap berdiri membungkuk. Ia kemudian menyerahkan pecutnya kembali ke Tantri dan menyuruhnya agar menggunakan tenaganya.

Tantri mengambil pecut itu dan berjalan tertatih-tatih mendekati Chua. Pantatnya terasa sangat sakit dan ia tidak ingin si hitam kembali memecutnya. Tantri kemudian mengayunkan pecut pada paha Chua sekuat tenaganya. Chua kembali menjerit. Si hitam mengangguk dan melihat Tantri mengayunkan pecutnya lagi. Kembali jeritan Chua terdengar.

Ia kemudian menyuruh Tantri memecuti Chua dari depan. Tantri menangis selain karena sakit yang dirasakannya pada pantatnya, juga karena ia menyiksa sahabatnya Chua. Tantri mengayunkan pecutnya ke puting susu Chua. Chua menjerit dan mengejang. Kembali pecut itu mendarat di puting susu Chua. Selanjutnya pecut itu mengarah ke memek Chua. Jeritan Chua makin tinggi dan keras sekarang. Ia membiarkan Tantri memecuti puting susu dan memek. Chua untuk beberapa saat. Si hitam kemudian memerintahkan agar Tantri memasukan gagang pecut yang berbentuk ****** itu ke memek Chua. Tantri memandang gagang itu ketakutan, tapi si hitam mendekatinya membuat ia segera melaksanakan perintah tadi. Tantri mulai mendorong gagang pecut tadi masuk ke memek Chua. Chua mengerang kesakitan ketika dirasakannya ujung gagang itu mulai memasuki memek yang terluka tadi. Tantri perlahan berhasil memasukan sekitar 20 senti dari gagang itu ke dalam memek Chua. Sementara Chua terus merintih kesakitan.

Si hitam kemudian menyuruh Tantri menggerakan gagang pecut itu. Tantri segera menggerakan gagang pecut tadi keluar masuk memek Chua. Chua menrintih dan meronta-ronta ketika memek yang telah terluka karena tangan Citra tadi kembali digesek-gesek oleh gagang pecut yang kasar. Tantri terus menggerakan gagang tadi selama beberapa menit, sebelum si hitam menyuruhnya untuk berhenti.

Si botak kemudian mendekati Chua dan melepaskan ikatannya. Tubuh Chua langsung ambruk ke tanah. Memau-memar dan garis-garis merah terlihat di sekujur tubuh Chua. Ia kembali menuangkan minuman keras ke mulut Chua untuk menyadarkannya. Setelah beberapa saat Chua mampu berdiri di atas kakinya. Sementara itu Tantri kembali diperintahkan untuk memecuti tubuh Citra. Tantri mengayunkan pecutnya ke punggung Citra. Tubuh Citra terlonjak sehingga puting susunya makin terjepit dan membuat ia berteriak kesakitan. Tantri memecut Citra sebanyak empat kali. Perut, pantat, dan susunya mendapat pecutan dari Tantri dan Citra menangis keras ketika akhirnya Tantri berhenti.

Citra kemudian dilepaskan. Jepitan dari puting susunya dilepaskan dan kedua tangannya juga dibebaskan dari borgol. Citra berusaha mengeluarkan kedua ****** ******an tadi dari memek dan pantatnya tapi ia merasa kesakitan setiap kali ia berusaha menariknya keluar. Akhirnya si botak dan si hitam secara bersamaan menarik batang loga tadi dengan brutal. Ketika mereka menarik batang logam tadi, kedua ****** ******an itu tertarik keluar dan membuat Citra menjerit, dan terlihat darah melumuri kedua ****** ******an tadi. Citra menutupi memek dan pantatnya denga tangannya berharap bisa mengurangi rasa sakit yang dideritanya. Sekarang ketiga gadis itu telah selesai disiksa oleh si botak dan si hitam. Kelima orang di ruangan itu semuanya telanjang bulat. Ketiga gadis itu telah dibebaskan dari semua ikatan mereka. Kedua polisi itu lalu berpakaian kembali, dan membakar pakaian ketiga gadis itu.dan akhirnya mereka akn dibiarkan bugil sampai waktu yang ditentukan oleh polisi polisi bejat itu .

0 Pemerkosaan Wanita STW

Bu Misye dalam perjalanan pulang dari tempat ia bekerja terpaksa berteduh karena dia tidak membawa jas hujan. Bu Misye berteduh di sebuah bangunan yang belum jadi namun sudah beratap. Setelah menyandarkan motornya Bu Misye mencari tepat duduk dan ternyata ada sebuah kursi panjang. Pakaian yang dikenakan suadah basah semua, Bu Misye sebelumnya berniat untuk tidak berteduh namun karena hujannya semakin lebat dan disertai angin dan petir maka ia memutuskan untuk berteduh, walaupun dalam hatinya cemas karena hari sudah menjelang gelap namun tanda-tanda hujan akan reda belum muncul.

Belum lama duduk datang seorang pemuda tanggung yang juga akan berteduh. Setelah menyandarkan Tiger yang dipakainya, pemuda itu cepat-cepat masuk ke bangunan yang belum jadi tersebut. Bu Misye pertama agak khawatir dengan pemuda tersebut namun akhirnya kekhawatirannya akhirnya hilang karena melihat penampilannya juga keramahannya. Bu Misye melempar senyum dibalas dengan senyum oleh pemuda tersebut.

Pemuda tanggung tersebut berkulit putih bersih dan wajah yang diakui oleh Bu Misye memang tampan. Pemuda tersebut duduk di kursi panjang agak berjauhan letaknya dengan Bu Misye.
"Cuma sendirian Bu?" pemuda tersebut memulai pembicaraan.
"Iya Dik" Bu Misye menjawab.
"Adik dari mana?" lanjutnya.
"Dari rumah teman, sedang Ibu sendiri dari mana?" pemuda itu menyambung.
"Dari tempat kerja Dik" Bu Misye menjawab.
"Koq sampai sore Ibu, memang tidak dijemput oleh suami atau putra Ibu?" pemuda tersebut kembali bertanya.
"Ndak Dik.. walau udah tua Ibu berusaha sendiri lagian anak-anak Ibu udah berkeluarga semua" Bu Misye menyahut.
"Eh Adik masih kuliah kelihatannya, nama Adik siapa biar enak kalau manggilnya" lanjut Bu Misye, walau dalam hatinya dia agak bingung kenapa harus bertanya namanya.
"Iwan Ibu, masih kuliah semester pertama, nama Ibu?" jawab pemuda tersebut.
"Misye" jawab Bu Misye.
"Ibu umurnya berapa koq ngakunya sudah tua?" Iwan bertanya.
"Udah hampir limapuluh Dik Iwan" jawab Bu Misye.
"Koq masih keliatan lebih muda dari usia Bu Misye lho?" lanjut Iwan.

Pembicaraan terhenti sebentar. Baju yang dipakai oleh Bu Misye yang basah secara jelas mencetak buah dadanya yang sekal terbungkus oleh BH hitam yang keliatan sangat menantang di usianya. Rambutnya yang teruarai lurus sebahu tampak basah juga. Kulitnya yang putih tampak titik air yang masih membasahinya. Iwan terus memandangi tubuh yang Bu Misye.
"Tubuh Ibu masih bagus lho, Bu Misye tentu sangat bisa merawat tubuh" tiba-tiba Iwan memecah kesunyian.
Bu Misye agak kaget dengan pertanyaan Iwan. Dia agak tersinggung dengan pertannyan itu apalagi mata Iwan yang tidak lepas dari dadanya. Anak ini ternyata agak kurang ajar.

Belum lagi keterkejutannya hilang, Iwan berkata lagi, "Tentu suami Ibu sangat sengan dengan istri yang secantik dan semolek Bu Misye" Iwan berkata sambil meremas-remas kemaluannya yang masih dibungkus celananya.
Melihat situasi yang kurang baik itu, Bu Misye tidak menjawab, dia langsung berdiri menuju ke motornya walaupun hujan tampaknya semakin menjadi-jadi. Namun tangan Iwan lebih dulu menyahut tangan Bu Misye. Bu Misye semakin marah.
"Kau mau apa haa?" hardiknya.
"Hujan masih lebat, sedang kita cuma berdua.. saya menginginkan Ibu" sahut Iwan dengan santainya sambil merangkul Bu Misye dari belakang.
"Menginginkan apa?" Bu Misye agak berteriak sambil berusaha melepaskan pelukan Iwan.
"Menginginkan tubuh Ibu.." Iwan berkata sambil tangannya beraksi menggerayangi tubuh Bu Misye dari belakang.
"Jangan Dik Iwan.. apa kamu nggak merasa umurku.. sebaya dengan ibumu" Bu Misye berusaha untuk mengingatkan.
"Justru itu saya suka" Iwan menyahut.
Tangan kirinya merangkul Bu Misye dari belakang, tangan kananya berusaha menyingkap rok yang dipakai Bu Misye setelah tersingkap ke atas Iwan mengeluarkan penisnya yang sudah keras berdiri. Tak ketinggalan CD yang dipakai oleh Bu Misye dipelorotkan ke bawah.

Tangan Iwan meraba-raba memek Bu Misye yang ditumbuhi oleh jembut yang rimbun. Jarinya berusaha masuk ke lubang kenikmatan Bu Misye.
"Dik Iwan.. To.. long.. hentika.. ka.. ka.. ka.. mu nggak se.. harusnya mela.. kuka.. ini.. Dik Iwan Iwan.." Bu Misye berusaha mengingatkan lagi dengan terbata-bata.
"Ah.. Jangan.. Dik Iwan.. Ibu.. sudah tua.. ingat.." tambahnya lagi.
Iwan tidak menggubris kata-kata Bu Misye jarinya sudah masuk ke vagina Bu Misye dan bermain-main di dalamnya. Kemudian Iwan berusaha membalikkan tubuh Bu Misye, setelah itu dengan kasar Iwan mendorong tubuh molek itu sehingga jatuh terjerebab ke tanah. Dengan posisi duduk mengkangkang Bu Misye berusaha bangkit lagi dari duduknya. Pahanya yang mulus tersingkap sampai ke pangkalnya. Pakaian bagian atas acak-acakkan tampak sebagian kutang warna hitam yang seolah tak mampu menahan volume buah dada indah Bu Misye.

Belum sempat berdiri Iwan berkata sambil melepaskan celana dan bajunya, "Bu Misye, anda berteriakpun tak akan ada orang yang mendengar.. tempat ini agak jauh dari rumah penduduk sebaiknya Bu Misye tidak usah macam-macam"
"Aku tak kan sudi melayani kamu.. anak muda" Bu Misye setengah berteriak.
"Sudah jangan banyak bicara lepaskan pakaianmu.. cepat.. daripada aku menyakiti Ibu" sahut Iwan sambil melepaskan celana dalamnya, tampak batang kontolnya yang sudah mengacung keras.

Airmata Bu Misye mulai berlinang. Dia merasa sangat ketakutan dan galau hatinya. Dia merasa tak berharga dihadapan anak muda yang pantas menjadi anaknya. Dia juga merasa menyesal berteduh di tempat itu, dia merasa juga menyesali pakaian kerja yang sering ia kenakan. Rok yang terlalu tinggi dan baju yang transparan yang memperlihatkan BHnya yang seakan tidak muat menahan buah dadanya, sehingga membuat para lelaki yang menatapnya seolah menelanjanginya. Namun dalam hatinya berkata juga bahwa baru sekarang dia melihat kemaluan lelaki yang besar, kontol suaminya tidak sebesar itu. Darahnya berdesir kencang.
Belum hilang keterpanaannya sudah dikejutkan oleh suara Iwan lagi, "Cepatt! Sudah nggak tahan nih.."
Karena dilanda ketakutan, dengan perlahan tangan Bu Misye melepas satu persatu kancing bajunya. Tampaklah payudaranya yang dibungkus oleh BH hitam.
"Cepat lepas kutangmu!" bentak Iwan.

Dalam hati Bu Misye berkata anak muda memang nggak sabaran. Setelah melepas BHnya, tumpahlah payudara Bu Misye yang masih tampak sekal dan menggairahkan, puting susunya yang coklat kehitam-hitaman tampak menantang sekali.
Iwan jongkok di dekat Bu Misye tangannya mulai menggerayangi payudara Bu Misye.
"Uh.. ah.. ah.." rintih Bu Misye ketika tangan Iwan memilin milin putingnya.
Tidak puas memilin-milin mulut Iwan mulai mendarat di pucuk anggur itu. Lidahnya menari-nari dan ketika dihisap keras-keras Bu Misye hanya bisa menggigit bibir bagian bawah dan memejamkan matanya. Setelah puas dengan buah dada Bu Misye Iwan bangkit kemudian mendekatkan kontolnya yang besar tersebut ke mulut wanita paruh baya yang lemah itu.
"Hisap.. Bu Misye" perintahnya.
"Cepatt!" bentak Iwan ketika Bu Misye belum juga melakukan apa yang ia kehendaki.

Akhirnya Bu Misye mengulum batang zakar. Pertama dia melakukan hampir saja dia muntah karena selama hidupnya dia baru melakukan beberapa kali dengan suaminya. Bu Misye seakan tidak percaya apa yang dia lakukan sekarang, dia di tempatnya bekerja adalah orang yang dihormati sedang di kampungnya dia juga orang yang disegani Ibu-Ibu. Namun pada saat ini dia sedang melakukan hal yang jorok hingga tentu kehormatannya sebagai wanita hilang sama sekali.

Iwan dengan kasar memaju mundurkan kontolnya sehingga terdengar suara nyaring menggairahkan. Setelah puas Iwan bangkit lagi kemudian di mengambil posisi ditengah-tengah di antara kaki mulus Bu Misye.
Sambil mengelus-elus kontolnya yang sudah sangat keras, Iwan berkata, "Bu Misye lebarkan lagi agar lebih mudah"
Hal yang sangat mendebarkan bagi Bu Misye akan terjadi dengan perlahan Bu Misye membuka lebar kakinya sehingga tampaklah memeknya yang tampak merekah dengan bibirnya yang agak menggelambir. Perlahan dan pasti Iwan menuntun kontolnya memasuki lobang kenikmatan Bu Misye. Iwan merasakan kehangatan memek Bu Misye dan kekencangannya seakan meremas rudal Iwan. Sebaliknya Bu Misye yang sedari tadi dengan berdebar menantikan hal tersebut seakan terhenti detak jantungnya ketika ia mulai ditusuk oleh anak muda ini. Seakan merobek barang paling berharga yang dimilikinya.

Ketika Iwan mulai mempercepat genjotannya tampaknya Bu Misye juga sudah mulai melambung ke awan. Sementara diluar hujan seakan belum mau berhenti. Iwan semakin mempercepat genjotannya. Buah dada Bu Misye tergoncang-goncang kesana-kemari. Bu Misye yang semula pasif sedikit memberi perlawanan dengan menggoyangkan pantatnya. Tangannya mengepal memukul lantai, kepalanya bergoyang menahan hawa birahi yang semakin meninggi.

Akhirnya Bu Misye tidak kuat menahan cairan yang semula ia bendung-bendung, lobang memek Bu Misye mengerut kencang ketika dia mencapai puncak. Bu Misye malu kenapa dia bisa orgame padahal ia tidak menginginkan itu. Yang lebih membuat dia bertambah malu adalah Iwan seakan mengetahui hal tersebut. Iwan tersenyum sambil terus mempercepat genjotannya. Dalam hatinya dia berkata ternyata kau juga merasakan kenikmatan juga. Dan tampaknya Iwan juga akan sampai ke puncak. Dan terdengar lenguhan panjang Iwan ketika batang kontolnya ia tancapkan dalam-dalam sambil merangkul erat Bu Misye keluarlah cairan sperma membanjiri lobang memek Bu Misye.

Iwan terkulai lemas diatas tubuh telanjang Bu Misye jiwa mereka seolah melayang sejenak.
Setelah itu Iwan bangkit dan mengambil pakaiannya sambil berkata, "Bu Misye berpakaianlah, tampaknya hujan sudah mulai reda, memek Ibu ueenak sekali, terima kasih ya Bu Misye".
Bu Misye menatap Iwan dalam hatinya bercampur antara marah, gundah, galau. Namun satu hal yang dia tidak pungkiri bahwa dia juga menikmati perkosaan yang dilakukan Iwan.

Akhirnya Bu Misye memunguti pakaian kemudian mengenakannya kembali. Mereka berjalan ke arah motor mereka tanpa bersuara.
Tampaknya hujan sudah reda. Bu Misye menghidupkan mesin motornya, namun ia dihentikan lagi oleh Iwan.
Iwan berkata, "Bu Misye saya minta maaf akan kelancangan saya, saya tidak bisa menahan gejolak nafsu saya.."
Bu Misye tak menjawab. Ia hanya menatap wajah Iwan dengan mata yang berkaca-kaca. Iwan diam kemudian Iwan mendekatkan wajahnya dan ciuman hangat ia daratkan ke bibir Bu Misye. Pertama Bu Misye diam namun akhirnya Bu Misye membalas ciuman tersebut. Lidah mereka saling bertautan. Sejenak kemudian Bu Misye tersadar dan melepaskan ciuman tersebut kemudian melajukan kendaraannya.

Iwan hanya terdiam terpaku kemudian menaiki kendaraannya ke arah yang berlawanan. Bu Misye menerobos hujan rintik-rintik dengan perasaan yang sebenarnya terpuaskan.


Tamat

0 Seminar Di Bali

Selasa

Saya dan Rudi telah check in di hotel tempat seminar diadakan. Kami diberi satu kamar untuk berdua. Waktu menunjukkan pukul 13 siang, kami memutuskan untuk menyewa mobil dan pergi jalan-jalan ke Kuta. Saya banyak menghabiskan waktu untuk foto-foto obyek yang menarik, sedangkan Rudi lebih senang keluar masuk toko mencari souvenir.

Rabu

Jam 8 pagi seminar telah dimulai. Pesertanya cukup banyak, saya taksir ada sekitar 80 orang. Untuk hari ini akan ada 4 session. Saya melihat makalah seminar cukup banyak dan menarik. Sambil mendengarkan seminar, tak lupa saya mencari-cari yang cantik. Mata saya tertuju pada seorang wanita Chinese yang cantik berambut panjang yang duduk 1 meter dari saya. Rambutnya di beri high light warna merah tua. Ia mengenakan blazer dan rok selutut berwarna biru tua. Sekali-sekali ia menguap lalu minum kopi. Selesai session pertama, ada istirahat 15 menit. Saya memakai kesempatan ini untuk kenalan dengan wanita itu.

“Bagus ya topiknya tadi” kata saya membuka pembicaraan.
“Iya, menarik kok. Pembicaranya juga bagus cara membawakannya”
“Nama saya Arthur” kata saya sambil memberikan kartu namaku
“Oh iya, saya Dewi” katanya sambil mengeluarkan kartu namanya.

Rupanya Dewi bekerja di perusahaan sekuritas saingan perusahaan tempat saya bekerja

“Kamu sendiri saja ke seminar ini?” tanya saya.
“Iya, tadinya teman saya mau datang tapi last minute ada pekerjaan yang tidak bisa ditunda”

Tak lama Rudi menghampiri saya diikuti oleh 1 pria dan 1 wanita. Dua-duanya Chinese.

“Arthur, kenalin nih teman saya dari Singapore. Dulu saya kuliah bareng dengannya” kata Rudi sambil menunjuk ke pria itu.
“Halo, saya Arthur”
“Saya Henry” kata si pria.
“Saya Carol” kata si wanita.

Kami lalu saling berkenalan dan bertukar kartu bisnis. Henry dan Carol bekerja di perusahaan sekuritas di Singapore. Carol manis sekali. Tingginya sekitar 165 cm dan dadanya yang membusung terlihat jelas dibalik kemeja tanpa lengan yang ia kenakan. Rambutnya yang pendek membuat penampilannya bertambah menarik. Sedangkan Dewi, tingginya sekitar 170 cm. Tatapan mata Dewi agak-agak nakal sehingga saya sempat berpikir ia akan mudah saya ajak tidur.

Session kedua pun kembali dimulai dan berakhir jam 12 siang. Saya, Rudi, Henry, Carol dan Dewi makan siang bersama di coffee shop hotel. Kami memakai kesempatan ini juga untuk berkenalan dengan peserta lainnya. Lumayan untuk memperluas net work. Session ketiga dan keempat berjalan dengan menarik dan banyak menambah ilmu. Seminar hari ini berakhir jam 5 sore.

“Arthur, kamu kan orang Indonesia, kemana kamu bisa membawa kami makan enak? Saya sudah bosan dengan makanan hotel” tanya Henry.
“Kita ke Jimbaran saja atau ke Legian, disana banyak restaurant” sahut saya. Kita berlima pun berangkat ke Jimbaran untuk makan malam.

Kamis

Seminar pun kembali dimulai jam 8 pagi. Topiknya yang menarik membuat waktu berjalan dengan cepat. Tak terasa seharian penuh telah terlewatkan di ruang seminar. Selesai seminar, saya menawarkan untuk ke Kuta untuk melihat matahari terbenam, teman-teman pun setuju. Hari ini Dewi terlihat cukup seksi, ia mengenakan rok mini ketat berwarna biru muda dan kemeja tanpa lengan berwarna putih. Di Kuta ia menyempatkan untuk beli sandal karena dari hotel ia mengenakan sepatu hak. Carol pun terlihat tambah manis. Ia mengenakan celana panjang ketat warna coklat muda dan kemeja tanpa lengan warna putih. Carol ikut membeli sandal di Kuta karena ia lupa membawa sandal dari Singapore. Selesai melihat matahari terbenam, kita bersantai di Hard Rock Café lalu makan malam ke Warung Made.

Jum’at

Hari terakhir seminar banyak diisi oleh tanya jawab dari peserta. Seminar berakhir jam 4 sore karena panitia memberi kesempatan bagi peserta rapat untuk menikmati sunset di Kuta. Sebuah bis telah disiapkan untuk membawa peserta kesana. Kami berlima ikut ke Kuta tetapi lebih memilih naik mobil sendiri daripada naik bis. Selesai melihat sunset, kami berlima menyelusuri toko-toko di sepanjang Kuta. Carol, Henry, Dewi dan Rudi sibuk berbelanja. Dewi rupanya belum pernah ke Bali sehingga ia senang sekali jalan-jalan ke Kuta. Jika sedang jalan ramai-ramai, Carol terlihat kecil mungil karena saya dan Rudi tingginya 185 cm, Henry sekitar 180 cm dan Dewi sekitar 170 cm.

Bali semakin malam, kami memutuskan untuk makan malam di daerah Legian. Restaurant Maccaroni menjadi pilihan kami. Beberapa peserta seminar ikut bergabung makan bersama kami. Tak henti-hentinya kami bercanda dan tertawa-tawa. We had a good time. Selesai makan, kami berlima melanjutkan ke M-Bar-Go yang terletak satu jalan dengan Maccaroni. Peserta rapat yang bergabung dengan kami lebih memilih untuk kembali jalan-jalan di sepanjang Legian.

Musik berdentum-dentum dimainkan oleh DJ. Suasana cukup ramai tetapi tidak terlalu padat. Enak lah pokoknya untuk bersantai. Kami memesan minuman beralkohol dan melanjutkan obrolan sambil menonton film yang diputar di jumbo screen. Jam 23:00, saya terpaksa harus mengajak teman-teman pulang karena si Rudi kelihatannya sudah mabuk berat, Dewi dan Carol mukanya merah dan mereka tertawa-tawa melihat Rudi yang mabuk.

Saya memang sengaja tidak minum terlalu banyak karena tidak ada niat mabuk malam itu. Setelah membayar minuman, saya membopong Rudi keluar, Carol bersandar pada Dewi dan Henri mengikuti dari belakang. Untung mobil diparkir tidak jauh dari club. Di mobil, Rudi tak henti-hentinya nyanyi dan tertawa. Dewi, Carol dan Henri ikut tertawa melihat kelakukan Rudi.

Setiba di hotel, saya menghentikan mobil depan lobby dan menyerahkan mobil ke petugas valet parking. Kembali saya bopong Rudi. Carol berjalan sambil setengah memeluk Henri sambil mengeluh kepalanya yang sakit. Dewi kelihatannya biasa saja padahal saya tau ia juga mabuk. Kami berlima naik lift dan saya menarik nafas lega karena tidak ada anggota peserta di lobby hotel. Lift berhenti di lantai 3, Henri dan Carol keluar karena kamar mereka di lantai 3. Saat pintu lift tertutup, Dewi berseru sambil membuka-buka tasnya

“Shit, kunci kartu gue mana ya?”
“Wah jangan-jangan tadi jatuh waktu tas kamu ditaro di kursi di club” kata saya.
“Argh, harus minta dibukain nih sama resepsionis” ujar Dewi.
“Telepon dari kamar saya saja” saya menawarkan.

Pintu lift terbuka di lantai 4, kembali saya membopong Rudi yang sudah tak sadarkan diri, Dewi membantu saya membuka pintu kamar. Begitu masuk kamar, saya langsung menjatuhkan Rudi di tempat tidur. Dewi membuka pintu balkon dan melihat keluar

“Wah enak sekali kalian dapat kamar menghadap laut”
“Lumayanlah, kecil-kecilan” kata saya sekenanya.

Saya berdiri di belakang Dewi lalu memegang kedua bahunya sedangkan Dewi tetap melihat kearah laut.

“Enak ya mendengar suara ombak” kata Dewi.

Dewi lalu merapatkan punggungnya ke dada saya dan saya merangkul Dewi dari belakang. Dengan perlahan, saya mencium kepala Dewi lalu turun ke kuping kiri. Dewi mendongakkan kepalanya sehingga saya bisa bebas mencium lehernya yang putih. Kemudian Dewi menoleh ke saya lalu mencium bibirku.

“Ummhh Arthur, you are so sexy” kata Dewi.

Sambil tetap merangkul Dewi, tangan saya menggapai ke pinggir pintu balkon dan mematikan lampu balkon supaya tidak ada yang memperhatikan kami. Tangan saya mulai menjelajahi seluruh pantat Dewi yang padat kemudian meraba-raba dadanya yang sekal. Tak henti-hentinya Dewi melenguh. Tangan Dewi pun ikut meremas tongkolku dari balik celana. Lalu saya menarik Dewi kembali ke kamar dan mendorongnya ke tempat tidur. Kembali kita berciuman ditempat tidur.

Tangan Dewi dengan cepat membuka kemeja dan celana panjangku sedangkan saya langsung membuka baju, BH, rok mini dan celana dalamnya. Tubuh Dewi yang putih dan telanjang bulat membuat nafsuku membara. Dengan gemas saya meremas payudaranya yang berukuran 32B sambil menghisap putingnya. Nafas Dewi memburu dengan cepat apalagi saat saya mulai beralih ke vaginanya. Dewi bagaikan kuda liar saat klitorisnya saya jilat. Tak henti-hentinya saya menjilat seluruh vagina dan selangkangannya. Saya membalikkan tubuh Dewi untuk bergaya 69.

Di pantat kiri Dewi ada tattoo kupu-kupu kecil berwarna pink, saya tersenyum melihatnya. Dalam posisi 69, dengan rakus Dewi menggenggam tongkolku dan mulai menghisapnya. Saya pun membalas dengan menjilat anus dan vaginanya. Goyangan pantat Dewi terasa semakin keras saat dijilat vaginanya sehingga harus saya tahan pantatnya dengan kedua tangan saya. Tiba-tiba Dewi melepaskan genggaman tangannya dari tongkol saya dan melenguh dengan keras, rupanya ia mengalami orgasme. Vaginanya yang sudah basah menjadi tambah basah dari cairan orgasmenya.

Kemudian Dewi nungging dan bersandar dipinggir tempat tidur Rudi. Saya mengikuti kemauannya, saya merenggangkan kakinya dan mengarahkan tongkolku ke vaginanya. Dengan penuh gairah saya setubuhi Dewi yang seksi. Dewi rupanya tidak diam saja saat disetubuhi. Tangannya menggapai ke celana Rudi dan membuka risletingnya kemudian menurunkan celana Rudi. Dewi mengeluarkan tongkol Rudi dari balik celana dalamnya lalu mulai meremas tongkol Rudi.

Saya memperhatikan Dewi yang mulai mengulum tongkol Rudi yang masih lemas sedangkan Rudi tertidur tanpa menyadari ada wanita cantik yang sedang menghisap tongkolnya. Tak henti-hentinya payudara Dewi saya remas dan pencet putingnya. Tak berapa lama kemudian, Dewi kembali mengalami orgasme. Saya mengganti gaya ke gaya missionary. Kaki Dewi saya rentangkan dan kembali tongkolku mengisi vaginanya yang sudah becek. Suara clipak-clipuk terdengar dengan keras tiap kali tongkol saya keluar masuk vagina Dewi.

Tujuh menit menggenjot Dewi, saya merasakan akan ejakulasi. Saya percepat gerakanku dan tak lama tongkolku memuntahkan peju didalam vagina Dewi. Dengan terengah-engah saya mengeluarkan tongkolku lalu menindih Dewi dan mencium bibirnya. Kami berciuman beberapa menit dan saya baru menyadari ternyata Rudi sudah berdiri disamping kami

“Wah, ter.. ternya.. ta.. ka.. kalian sudah mm.. mulai duluan” kata Rudi dengan tergagap dan sedikit sempoyongan.
“Tenang Rudi, kamu dapat giliran kok” kata Dewi sambil tertawa lalu menghampiri Rudi.

Sambil berlutut di tempat tidur, Dewi meremas tongkol Rudi yang perlahan mulai berdiri. Rudi memejamkan matanya menikmati Dewi yang mulai menghisap tongkolnya. Setelah puas menghisap tongkol, Dewi berdiri ditempat tidur kemudian mencium Rudi. Dengan kasar Rudi menggendong Dewi sambil menciumnya. Kemudian Dewi dibaringkan ditempat tidur dalam posisi doggy style dan Rudi langsung menyetubuhi Dewi. Kelihatannya pengaruh alkohol membuat Rudi menjadi sedikit kasar. Sambil menggenjot vagina Dewi, tak henti-hentinya Rudi menampar pantat Dewi sambil berkata

“Satisfy me, bitch, suck my dick”

Sekali-sekali rambutnya yang panjang dijambak sehingga kepala Dewi sampai menoleh kebelakang lalu Rudi mencium bibirnya. Dewi kelihatannya justru semakin liar mendapat perlakukan kasar dari Rudi. Saya kemudian berlutut didepan Dewi lalu menyodorkan tongkolku. Dewi menyambut tongkolku lalu mulai mengulumnya. Setiap kali Rudi menyodokkan tongkolnya dalam vagina Dewi dengan keras, tongkol saya otomatis ikut tersodok ke mulut Dewi. Tapi beberapa kali kuluman Dewi terlepas karena Rudi suka menarik rambutnya. Tapi karena Dewi tidak protes, maka saya biarkan saja.

Rudi kemudian menarik punggung Dewi sehingga punggung Dewi tegak. Saya menjilat dan menghisap seluruh payudara Dewi. Tapi itu tidak bertahan lama karena tangan Rudi menjalar keseluruh tubuh Dewi. Akhirnya saya mengambil bir di mini bar lalu duduk dikursi menikmati adegan seksual yang liar itu. Beberapa kali Dewi melenguh pertanda ia mengalami orgasme tapi Rudi tidak berhenti sedikit pun.

Dewi kemudian melepaskan dirinya dan mendorong Rudi untuk duduk ditempat tidur. Dewi duduk dipangkuan Rudi dan mulai menggoyang pinggulnya. Pinggul dan pantat Dewi terlihat merah karena ditampar Rudi. Tak henti-hentinya Dewi berceracau disetubuhi Rudi. Akhirnya tidak lama kemudian Rudi ejakulasi. Rudi memegang pinggul Dewi dan meremasnya dengan keras. Dewi pun kembali orgasme lalu mereka berdua berebahan ditempat tidur dengan lemas.

Tiba-tiba telepon berbunyi..

“Halo, ini Henri, sudah tidur kalian?” tanya Henri.
“Belum, kita lagi bersenang-senang. Ada Dewi disini” jawab saya.
“Wah, habis seks ya?” tanya Henri dengan semangat.
“Hehehe, begitulah. Kamu tidur ya? Atau jangan-jangan habis seks dengan Carol” tanya saya menduga-duga.
“Saya ditempat Carol. Saya ketempat kalian deh” kata Henri.

Waduh, ternyata Henri baru selesai menyetubuhi Carol. Saya menceritakan ke Dewi percakapan tadi. Dewi tertawa lalu pergi ke kamar mandi. Tak lama kemudian, pintu bel kamar berbunyi dan saya bukakan. Tampak Henri mengenakan celana pendek dan kaos sedangkan Carol mengenakan kaos tidur yang panjang hingga ke dengkul. Dari balik bajunya terlihat ia tidak memakai BH.

“Wah, kalian abis pesta pora nih” kata Henri sambil tertawa melihat saya yang telanjang dan Rudi yang juga telanjang tapi tidak sadarkan diri.
“Kamu juga nih abis pesta dengan Carol” kata saya. Carol pun ikut tertawa. Mata Carol terus tertuju pada tongkolku yang sudah berdiri.
“Mana Dewi?” tanya Henri.
“Di kamar mandi” jawabku.

Henri mengetuk pintu kamar mandi lalu masuk kedalam. Terdengar suara Dewi dan Henri tertawa-tawa kemudian hening.

“Kelihatannya mereka sudah mulai” kata saya kepada Carol.

Carol menghampiri diriku lalu mencium bibirku. Saya langsung membalasnya dan kita saling berpagutan. Tanganku mulai mengangkat kaos yang dipakai Carol dan membukanya. Kemudian saya melihat tubuh Carol yang telanjang bulat. Payudaranya besar sekali, ukuran 36C. Tubuhnya yang ramping terlihat indah dan bulu kemaluannya hanya disisakan sedikit didaerah vaginanya.

Dengan gemas, saya menghisap payudaranya sambil jongkok didepan Carol. Carol meremas kepalaku menahan gairah. Lalu ciumanku turun ke perut Carol dan ke vaginanya. Carol mengangkat satu kakinya sehingga dengan mudah saya menjilat vaginanya. Tercium bau sabun di daerah vagina Carol. Syukurlah Carol masih sempat membersihkan dirinya setelah bersetubuh dengan Henri. Saya membuka bibir vagina Carol dan menyedot vaginanya. Carol mengerang dengan penuh nikmat.

Puas melahap vaginanya, saya mengangkat tubuh Carol. Kaki Carol melingkar dipinggangku dan saya memasukkan tongkolku ke vaginanya. Dalam posisi menggendong, saya menyandarkan punggung Carol ke dinding lalu saya mulai menggenjot Carol. Payudara Carol yang besar meliuk ke kiri dan kanan mengikuti irama goyangan. Tak henti-hentinya saya mencium bibirnya yang merah dan mungil. Benar-benar gemas aku dibuatnya.

Dari dalam kamar mandi, terdengar suara Dewi yang melenguh. Carol pun ikut melenguh tiap kali tongkol saya menghunjam ke vaginanya. Posisi ini hanya bertahan beberapa menit karena cukup berat menggendong Carol sambil menyetubuhinya. Saya duduk di kursi dan Carol duduk dipangkuanku menghadap saya. Vagina Carol terasa mendenyut-denyut di ujung kepala tongkolku.

Dengan enerjik, Carol menggoyang pinggulnya naik turun sambil merangkul kepalaku. Saya menghisap payudaranya yang besar sambil menggigit putingnya. Tangan kananku meraih ke anusnya dan saya memasukkan jari telunjukku ke anusnya. Tampaknya ini membuat Carol semakin liar. Carol terus menerus menghujamkan tongkolku sampai ia mencapai orgasme. Di saat yang sama saya pun ejakulasi. Carol duduk terkulai lemas dipangkuanku. Saya menggendong Carol ketempat tidur lalu kita berdua tertidur sambil berpelukan.

Sabtu

Telepon berbunyi jam 6:30. Saya memang meminta ke operator untuk dibangunkan jam 6:30 karena hari ini akan ada tur. Saya melihat Carol masih tidur telanjang bulat dalam pelukan saya. Dewi dan Henri tidur dikarpet beralaskan comforter tempat tidur. Mereka pun masih telanjang bulat. Rudi masih tidur dalam posisi sama. Saya membangunkan mereka semua untuk siap-siap pergi tur. Berhubung Dewi, Carol dan Henri belum pernah ke Bali, maka mereka dengan semangat langsung kembali ke kamar masing-masing untuk bersiap. Jam 8:00, kami berempat sudah di restaurant untuk sarapan. Rudi tidak ikut karena kepalanya masih sakit.

Tur menggunakan 2 buah bis. Tujuan pertama adalah ke Tanah Lot, lalu ke Ubud, Kintamani lalu menonton pertujukkan Kecak. Saat sedang menonton tari Kecak, saya menerima SMS dari Rudi

“Gue lagi di Kuta nih. Kenalan sama cewek bule. Cuantik banget. Sekarang lagi di kamar hotel si cewek di Kuta. Have fun ya di tur karena gue juga sedang having fun”

Saya tertawa melihatnya. Tur berjalan dengan menyenangkan. Saya memfoto banyak obyek yang menarik. Tak lupa saya memfoto Dewi dan Carol sebagai modelku. Jam 18:00, tur akhirnya tiba kembali di hotel. Semua peserta terlihat senang dan puas.

Di lobby hotel, Henri buru-buru naik taksi karena ia mau ke Legian untuk beli beberapa cinderamata yang tidak sempat dia beli. Dia menawarkan ke kita untuk ikut tapi kita semua capek. Akhirnya Henri pergi sendiri naik taksi ke Legian.

“Mau ngapain nih malam ini? Malam terakhir” tanya saya.
“Saya capek banget, pengen bubble bath” kata Carol.
“Saya juga, enak nih kalau berendam air hangat” kata Dewi.
“Kita bertiga berendam aja yuk” saya menawarkan dengan semangat. Dewi dan Carol tertawa lalu kita menuju ke kamar Carol.

Kamar Carol walaupun single bed tetapi kamarnya sedikit lebih besar karena terletak di ujung gang. Bath tub diisi air hangat oleh Carol dan dituang sabun bubble. Kita bertiga lalu membuka baju dan berendam ke bath tub. Ukuran bath tubnya terlalu pas untuk kita bertiga apalagi tubuh saya yang tinggi. Carol duduk dipangkuan saya sementara saya berselonjor di bath tub sedangkan Dewi duduk diujung bath tub.

tongkol saya yang berdiri sekali-sekali terlihat menyembul dari balik air. Payudara Carol pun terlihat setengah menyembul dari balik air. Dewi terlihat sedang menikmati air hangat. Ia mengikat rambutnya keatas. Kaki kanan saya menyelip ketengah kaki Dewi dan sekali-sekali saya menggelitik selangkangan Dewi dengan jempol kaki. Dewi kegelian lalu meremas biji saya. Carol tertawa-tawa melihat tingkah kita berdua.

Tangan kiri saya pun mulai meremas payudara Carol dengan gemas. Carol mulai memejamkan matanya menikmati remasan tanganku sementara tangan kanannya dengan perlahan mengocok tongkolku. Gairah saya kembali bangkit, saya menarik Carol keatas dan medudukkannya diujung bath tub. Saya membuka kakinya dan mulai menjilat vaginanya. Saya dalam posisi nungging didepan Dewi.

Dewi kemudian menyelinapkan tangannya dari antara kakiku dan meremas tongkolku. Wah nikmat sekali rasanya merasakan tangan Dewi yang mengocok tongkolku sambil menjilat vagina Carol. Tiba-tiba kenikmatan saya semakin bertambah saat Dewi membuka lipatan pantatku danmenjilat anusku, gairahku terasa meningkat dengan pesat dan saya serasa seperti terbang di awang-awang. Masih dalam posisi menungging, saya terus menjilat vagina dan anus Carol, Carol menikmati itu semua sambil meremas payudaranya.

“Balik dong badannya” kata Dewi.

Saya membalikkan tubuhku sehingga saya kembali berselonjoran di bath tub, Dewi membungkukkan tubuhnya dan mulai menghisap tongkolku. Carol mengangkang didepan mukaku dan menyodorkan vaginanya ke mulutku. Langsung kembali saya jilat vaginanya. Posisi ini berlangsung sekitar 5 menit. Dewi kemudian mengangkang dipinggulku lalu memasukkan tongkolku ke vaginanya.

Air dan buih meluap keluar bath tub saat Dewi mulai mengocok tongkolku dalam vaginanya. Carol pun memerosotkan tubuhnya sehingga ia duduk diatas perutku dan saya bisa mencium payudaranya. Tangan Dewi meraih ke punggung Carol lalu memijit punggung Carol. Carol tersenyum saat dipijit Dewi. Kemudian dengan nakalnya tangan Dewi menyusuri punggung dan pantat Carol lalu menyelinapkan tangannya ke vagina Carol. Carol buru-buru mengangkat pantatnya dan berkata

“Aduh maaf Dewi, tapi saya belum pernah bercinta dengan wanita” kata Carol.
“Just go with the flow, jangan dilawan” kata Dewi.

Saya mendudukkan kembali Carol di perutku lalu kembali mencium payudaranya. Mata Carol terpejam dengan erat saat tangan Dewi mulai masuk ke selangkangannya dan memainkan klitorisnya. Carol menggigit bibirnya tiap kali jari Dewi menyentuh vaginanya. Tak lama tangan Dewi tidak lagi berada di vagina Carol karena Dewi sendiri sudah semakin liar menggoyang pinggulnya. Carol rebahan di sampingku lalu memeluk tubuhku sambil menyaksikan Dewi yang bagaikan kuda liar beraksi diatas tongkolku. Beberapa menit kemudian saya ejakulasi bersamaan dengan Dewi. Setelah seluruh peju saya keluar dalam vagina Dewi, Dewi keluar dari bath tub lalu membersihkan vaginanya kemudian kembali masuk ke bath tub.

Carol belum mendapat giliran. Saya meminta Carol keluar dari bath tub lalu nungging dengan bersandar pada wastafel. Payudara Carol yang besar terlihat menggelantung dengan indah. Saya berdiri dibelakang Carol lalu mulai menyetubuhinya. Carol mendesah-desah dengan penuh nikmat saat kontoku keluar masuk vaginanya. Dewi ikut keluar dari bath tub lalu jongkok dibawah Carol. Ia meraih payudara Carol dam mulai meremasnya. Mulut Carol terbuka lebar menikmati kocokan dari tongkol dan remasan dari Dewi.

Tubuh kami bertiga yang basah dan penuh sabun membuat suasana menjadi tambah erotis. Dengan rakus, Dewi melahap kedua buah dada Carol dan kelihatannya Carol sudah mulai terbuka dengan Dewi. Ia membalas dengan membelai-belai kepala Dewi. Karena pegal dengan posisi ini, saya minta mengubah posisi. Saya menarik Carol dan Dewi keluar dari kamar mandi. Carol saya dudukkan ditepi tempat tidur. Kakinya saya buka lebar dan kembali tongkolku menghunjam ke vaginanya. Dewi tak kalah asyik, ia berbaring di sebelah Carol dan perlahan mulai mencium bibir Carol. Carol tidak beraksi dan membiarkan Dewi mencium bibir sambil meremas payudaranya.

Beberapa menit berlalu dan Carol mulai membalas ciuman Dewi. Keduanya saling berpagutan dan french kiss. Dewi lalu berlutut diatas muka Carol dan menyodorkan vaginanya ke Carol. Carol meremas pantat Dewi dan mulai menjilat vagina Dewi. Nafas Dewi terdengar memburu menahan nafsu. Pemandangan indah ini membuat saya semakin bergairah sehingga saya ejakulasi. Carol rupanya telah orgasme berkali-kali saat disetubuhi di kamar mandi dan ketika sedang menjilat vagina Dewi.

*****

Malam itu, saya, Carol dan Dewi kembali bersetubuh. Kami sempat beristirahat sebentar dan kembali bersetubuh ketika Henri dan Rudi sudah kembali. Malam di Bali yang sungguh indah. Hari Minggu, kami semuanya terpaksa berpisah dan kembali ke tempat masing-masing.

0 MY DIARY Antara Kejutan Dan Polwan

Herman belum pulang dari liburannya di Singapura, sehingga terpaksa aku dan Tono yang menjaga usaha pijat plus-plusnya ini. Teman yang lain sedang sibuk dengan kegiatan mereka, hanya aku dan Tono yang menjadi orang kepercayaan Herman. Oya, namaku Satorman, aku sudah sering menceritakan kisahku dan kisah teman-temanku. Kali ini, aku, Tono, dan empat gadis teman kami yang standby di tempat ini, tempat pijit plus-plus yang masih sepi hingga hari ini. Hanya penambahan anggota baru dua hari yang lalu. Namanya Fenny, gadis keturunan yang cantik, melebihi tiga teman gadis kami yang pribumi. Entah dasar apa yang menyebabkannya mau bekerja di sini, yang jelas aku menduga adalah himpitan ekonomi. Tapi lambat laun aku juga bisa mengorek informasi mengenai alasannya.
Fenny, Ayu, Lisa dan Widya menunggu di bawah, siapa tahu ada konsumen yang masuk. Sedangkan aku dan Tono sedang asyik main playstation tiga yang baru saja kubeli dan ku simpan di kamarku. Sejak ikut Herman, aku tidak terlilit hutang lagi, bahkan aku tidak sulit mendapatkan uang, karena Herman selalu memberikan uang kepada kami, walaupun usaha sepi, dia tetap membayar gaji kami. Jam sudah menunjukkan pukul 22:00, tiba-tiba aku mendengar dering telepon, "Iya, ada apa?" tanyaku ketika mengangkat telepon di meja yang tersambung dengan telepon lantai bawah. "Ada masalah, turun bentarlah, ada polisi nih..." kata Ayu yang menelepon dari lantai bawah. Aku pun kaget mendengar ada polisi yang datang, apa ini razia? Aku segera ajak Tono untuk menuju ke bawah. "Gawat nich, semua suratkan ada sama Herman..." kata Tono.
Asli lebih terkejut lagi ketika kami sampai di bawah dengan apa yang kami lihat? Ada tiga polwan muda dan cantik sedang berbicara dengan Ayu dan yang lainnya. "Selamat malam pak!" sapa salah satu polwan ketika melihat kami. Wajahnya cantik sekali, rambutnya pendek dan postor tubuhnya seperti model, kulihat diseragamnya tertera namanya Felicia. Sedangkan dua polwan lainnya sedang berbicara sambil melirik-lirik kondisi tempat usaha kami. Mereka sepertinya baru, karena kulihat umur mereka mungkin baru menginjak 20 atau lewat sedikit. "Iya, selamat malam, ada yang bisa kami bantu?" jawab Tono dengan sopan. "Maaf, ini kunjungan mendadak, kami mau lihat surat-surat pendirian usaha ini" kata polwan tersebut. Tono langsung terlihat pucat, seperti yang kami khawatirkan, usaha gelap ini sangat riskan. "Hmm, bos kita lagi tidak ada di tempat bu, surat menyuratnya ada sama beliau, kalau ibu mau, nanti kalau beliau sudah pulang, kita laporkan lagi?" kata Tono. "Kami mau lihat sekarang juga, masa buka usaha tanpa ijin?" sindir polwan lainnya yang tadinya sedang berbicara dengan Ayu, muka polwan tersebut terlihat judes sekali. "Oh, tunggu..." kata Tono. Lalu Tono mendekatiku dan berbisik padaku, "Mereka kayaknya minta jatah... Ambilin tiga juta lah buat mereka..." Mungkin juga mereka minta uang pelicin, jadi aku naik ke atas kembali ke kamar ku untuk mengambil sejumlah uang.
Samapi kembali di bawah, aku langsung menyodorkannya ke Felicia, polwan yang tadinya berbicara dengab kami. "Loh, apa ini maksudnya?" tanya polwan itu. "Kalian bermaksud menyogok kami?" tanya nya lagi. Kami semua terdiam melihat ketiga polwan itu sedikit marah. "Ayo ikut kami ke kantor polisi!" perintah Felicia. "Tapi?..." jawab Tono. "Berikan waktu agar kami bisa menelpon bos kami dulu..." pinta Tono. "Kau dan kau ikut!" perintah polwan itu sambil menunjuk kami berdua. "Tutup saja yu, nanti Ayu coba telpon bos Herman..." pesan Tono ke Ayu, dan kami pun digiring keluar. Kami disuruh naik ke mobil polisi yang dengan bak terbuka. Sial sekali, kami diperlakukan seperti penjahat, kami disuruh duduk di belakang dan dijaga dua polwan, sedangkan Felicia yang mengendarai mobil.
Untungnya sudah agak malam sehingga jalanan sedikit sepi, dan kami pun melewati jalan yang dikelilingi hutan, karena kantor polisi terletak agak jauh. Aku lihat raut wajah Tono sangat kesal, aku paham, kami malu sekali diperlakukan begini, andai Herman ada di tempat, tentunya dia tak akan membiarkan kami begini.
Sesampai di kantor polisi, kami pun disuruh turun dan menemui atasan mereka. Seorang pria gemuk besar dengan kumis tebal duduk santai di sebuah ruangan, sepertinya dia lah atasan di sini. Saat masuk, pria yang merupakan kapolsek daerah sini hanya tersenyum-senyum mendengar penjelasan polwan-polwan tersebut. Tak lama dari itu aku melihat pria berkumis tebal itu ditelpon seseorang, dan saat dia menutup telponnya, dia pun menyuruh kami pulang. Kini giliran polwan itu yang protes, "Tapi pak?..." sepertinya polwan tersebut tidak terima dengan keputusan polisi pria itu. "Antar mereka pulang, perlakukan mereka dengab baik..." itu saja yang dikatakan polisi pria tersebut tanpa mau berbicara panjang lagi.
Aku dan Tono baru merasa lega, kami pun kembali naik ke mobil itu layaknya penjahat, kami kembali harus dibawa di belakang. Sebelum naik, sepertinya Tono mendapatkan sms dari seseorang, setelah membacanya dia pun menunjukkannya padaku. Itu adalah sms dari Ayu yang berisi: 'Gw uda telp bos, nti tmn2 lain ada kejutan'. Sms yang sangat singkat, aku pun tidak tahu apa maksudnya.
Mobilpun mulai bergerak ketika kami naik. Masih tiga polwan tersebut yang menemani kami. Entah sial apa, pas sampai di tengah hutan yang harus kami lalui, tiba-tiba ban mobil bocor. "Waduh, mana gelap lagi nih... Tak bawa ban serap..." kata Felicia yang keluar dari mobilnya. Kami pun turun dari bak mobil, "Sial, siapa yang nebar paku begitu banyak?" kata Felicia setelah mengecek ban mobilnya. Sepertinya ada yang menaruh ranjau paku di sepanjang jalan ini. Apa ini kejutan yang dimaksud Ayu? Soalnya siapa yang iseng menebar ranjau paku di sini? Tidak ada bengkel dekat sini, paling-paling perampok saja yang melakukan hal seperti ini di tempat sepi tengah hutan begini. "Tunggu di sini, kita cari tumpangan", kata Felicia memandang ke ujung jalan yang gelap. Hanya terang bulan dan cahaya lampu dari mobil yang menyinari sekitar. Dan dari ujung jalan terlihat ada sinar, ada mobil yang menuju ke sini, Felicia pun maju berdiri di tengah jalan untuk menghadang mobil itu.
"Wah, mogok ya?" tanya seseorang yang menggunakan topeng dalam mobil tersebut ketika dihentikan Felicia. Tak sempat bertindak, tiba-tiba dengan secepat kilat, beberapa orang bertopeng turun dari mobil itu dan menyergap tiga polwan tersebut. Mungkin ada sekitar tujuh pria bertopeng yang langsung melumpuhkan tiga polwan tersebut. Para polwan itu tak bisa melawan karena kalah jumlah. "Ayo ikut!" pria bertopeng itu langsung menyeret tiga polwan tersebut masuk ke dalam hutan. Aku dan Tono tidak bisa berbuat apa-apa, kejadiannya sungguh cepat, kami tak mungkin melawan, karena mereka membawa senjata tajam. Kami semua digiring masuk hutan, apa selanjutnya yang akan terjadi? Aku takut kawanan penjahat ini akan membunuh kami semua.
Sampailah kami di tanah yang sedikit lapang, ku hitung jumlah mereka... satu... dua... tiga... semua ada tujuh orang. Pria misterius bercadar itu sepertinya sangat brutal, mereka mengacungkan senjata mereka di hadapan kami. Aku, Tono, dan tiga polwan itu tak bisa berkutik, kami disuruh berlutut dengan tangan di kepala. Salah satu pria tersebut kemudian mendekati kami, kemudian menarik satu polwan ke depan. Empat pria lain menjaga kami agar tidak berontak, sedangkan tiga lainnya seperti akan melakukan terhadap polwan itu. "Cantik juga ya polwan ini..." ejek pria tadi yang menariknya, kemudian berdiri di depannya dan mengangkat dagu polwan tersebut. "Hmm, Eka..." pria itu membaca nama yang tertera di seragam polwan tersebut.
Dari barisan kami tampak Felicia berusaha melawan, tapi ia ditendang dari belakang oleh pria yang mengawasi kami, hingga ia tersungkur dan kesakitan. Sedangkan di depan kami, hanya bisa melihat aksi pria bercadar mengerjai polwan yang disebut bernama Eka tersebut. Aku lihat dengan jelas, walaupun penerangan hanya menggunakan senter dan mengharapkan sinar rembulan, pria bercadar yang menarik Eka tersebut memeluk Eka dan melumat bibirnya. Sedangkan dua lainnya hanya tertawa terbahak-bahak, dan empat lainnya masih mengawasai kami dari jarak yang sangat dekat. Felicia masih kesakitan akibat tendangan tadi, tapi dia sudah kembali ke posisi awal, berlutut dengan tangan di atas kepala.
Aku juga tidak ada niat untuk menolong para polwan tersebut, karena aku juga sudah terlanjur kesal dengan perlakuan mereka. Bahkan aku berharap para pria tak dikenal itu melakukan aksi yang lebih lanjut. Ternyata yang ku mau menjadi nyata, pria bercadar yang tadi melumat bibir polwan yang bernama Eka itu mendorong tubuh Eka hingga jatuh. "Beraninya menolak ciumanku?!" pria tersebut terlihat marah sekali. Eka lalu ditendang bagian perut hingga termuntah-muntah, kami hanya bisa diam, Felicia sepertinya agak geram melihat adegan ini. Polwan bernama Felicia kemudian kembali bangkit dan menantang mereka, "Kalau berani, ayo satu lawan satu!" ajak Felicia. "Hahaha, yang benar saja? Satu lawan satu?" para pria tersebut tertawa terbahak-bahak. "Apa kalian menangkap kami, para penjahat, juga ada pakai peraturan satu lawan satu? Kalian juga gerombolan, bahkan membawa senjata api..." kata pria bercadar yang tadi menendang Eka. Mereka juga sepertinya memiliki dendam yang besar terhadap polwan ini.
"Akh!...." teriakan Felicia yang ditendang dari belakang hingga terseret ke arah Eka. "Bagusnya dibunuh atau bagaimana?" tanya pria tadi pada kawan-kawannya. "Jangan dulu, sayang sekali kalau tidak dicicipi..." jawab temannya yang lain. "Hmm... Betul juga, kecantikan mereka seharusnya berguna..." Para pria yang menjaga kami mendekat ke arah kami dan menodongkan senjata mereka ke leher kami. Aku, Tono dan satu polwan lagi yang tidak tahu bakal diapakan oleh mereka. Kemudian pria yang menendang Eka mendekati Eka dan Felicia, "Turuti permintaan kami, atau mereka MATI!!!" ancam pria tersebut. Nampak Felicia hanya bisa melotot kesal ke arah pria tersebut. Pria tersebut kemudian membuka resleting celana jeans nya, dan penis besar yang sudah mengeras pun tersembul keluar. "Ayo, kulum!" perintah pria itu. Karena Felicia mengkhawatirkan keselamatan kami, ia pun terpaksa mengulum penis pria itu. Pria itu menjambak rambutnya agar Felicia lebih agresif, karena tadinya Felicia sedikit takut untuk menyentuhkan bibirnya ke penis pria tersebut. Sama halnya dengan Eka, dia juga dipaksa untuk mengulum penis pria bercadar lainnya. Felicia dan Eka tidak bisa melawan, karena nyawa kami kini tergantung dengan mereka.
Melihat dua polwan tersebut memberikan pelayanan begitu kepada dua pria bercadar itu, membuat penisku mengeras. Nafsu ku naik hingga tak tertahan, ingin sekali aku mengocok penisku sambil melihat adegan ini. Sungguh malang nasib mereka, rambut mereka yang hanya sebatas bahu dijambak untuk mengatur irama. Sedangkan polwan satunya yang berlutut di dekat kami terlihat menangis, dia tak sanggup melihat yang sedang terjadi. Hmm, cantik juga, yang satu ini nganggur, andai saja dia men-service ku, hahaha, harapku dalam hati. Ku pandangi seragamnya yang ketat, susunya terlihat agak besar, dan namanya Olivia tertera di seragam, terlihat jelas akibat lekukan dadanya yang membusung ke depan. Ku pandangi teman sebelahku ini, Tono, ia terlihat menikmati adegan tersebut, ia menonton tanpa mengedipkan mata, bahkan sesekali ia seperti menelan ludah.
Dua pria tersebut terus menggenjot mulut dua polwan itu, dua lainnya di dekat menunggu giliran, sedangkan tiga lainnya sedang mengawasi kami. Setengah jam ada penis mereka dikocok dengan mulut polwan itu dan akhirnya mereka menyemburkan sperma juga. "Ayo ditelan!" perintah salah satu pria yang dikulum penisnya itu. Awalnya Felicia mencobq memuntahkannya, namun pria yang dikulum penisnya itu menampar pipi Felicia dengan kuat 'Plak!' "Mau lihat temanmu mati?" ancam pria tersebut. Sehingg Eka dan Felicia sangat dengan terpaksa menelan semua sperma yang disemprotkan ke dalam mulut mereka. Setelah itu selesai, dua pria itu pun berpindah, mereka memberikan tempat untuk dua pria lain yang sudah dari tadi menunggu giliran. Dua pria itu berdiri di depan Eka dan Felicia. "Kami belum mau dikulum, tapi mau mengenyot..." kata salah satu pria tersebut. Felicia dan Eka sangat kaget mendengar permintaan pria tersebut.
Mendengar itu, Olivia yang berlutut dekat kami pun bersuara, "Jangan... Tolong lepaskan mereka..." Tapi bukan mendengar permohonan Olivia, salah satu pria yang mengawasi kami pun langsung menjambak rambut Olivia, "Lu mau ikutan mereka?!" kata pria tersebut. Olivia pun menangis dengan kencang. "Jangan... Biar saya saja..." kata Felicia yang dengan perlahan membuka kancing bajunya. "Loh, polwan yang satu ini mau lihat temannya mati?" tanya satu pria melihat ke arah Eka yang sedari tadi hanya terdiam saja. Takut dengan ancaman pria tersebut, Eka pun mengikuti apa yang dilakukan Felicia. Kedua polwan tersebut pun membuka seragam mereka, ku lihat bra warna putih mereka menutupi buah dada mereka yang bulat sempurna, tidak besar juga tidak kecil. "Ah, lama!" pria satu terlihat komplain, sehingga Felicia dan Eka pun terpaksa mempercepat membuka bra mereka. Penisku sedari tadi sudah ngaceng bukan main, apalagi melihat susu yang mengacung ke depan, bulat sempurna, baru kali ini aku melihat tubuh indah polwan. Dua pria yang tadi di depan Felicia dan Eka langsung dengan bringas melumat buah dada yang indah itu. Mereka seperti kesetanan, mengenyot buah dada itu, memeras, menampar, menggigit dan memainkannya. Puting yang kecil dan merah mudah dua polwan tersebut dipilin-pilin dengan jari, bahkan sesekali ditarik-tarik. Felicia dan Eka sepertinya menangis, mata mereka terlihat berbinar, mereka pasti malu diperlakukan seperti itu.
Olivia tak mampu melihatnya, dari tadi dia hanya memalingkan wajahnya, sedang Tono sedari tadi tidak mau melewatkan adegan ini. Aku sebenarnya iri sekali tidak bisa menikmati tubuh polwan tersebut. Setelah bosan menikmati payudara segar milik polwan, kedua pria itu meminta dua polwan itu mengulum penis mereka. Sedangkan dua pria yang tadi dikulum penisnya mendekati kami, "Tunggu di sana saja biar dapat giliran..." mereka meminta tiga pria yang mengawasi kami mendekat ke Felicia dan Eka untuk antri menunggu giliran. "Ga sabar ne bos, pengen disepong polwan juga ne..." kata salah satu pria yang menuju ke arah Felicia dan Eka, ia terlihat senyum kegirangan.
Felicia dan Eka kembali sibuk dengan mengulangi tugasnya tadi, mereka harus mengulum penis kedua pria bercadar itu. Tiga lainnya sudah tak sabar menunggu giliran, antrian belum sampai saja tiga-tiganya sudah membuka resleting celana jeans mereka dan mengeluarkan penis mereka yang sudah ngaceng.
Seperti halnya tadi, Felicia dan Eka kembali disuruh untuk menelan habis sperma yang telah mereka semprotkan ke dalam mulut Felicia dan Eka. Tiga pria yang tadi antri terlihat berebutan, karena cuma dua polwan saja yang sedang bertugas, terpaksa satu pria harus mengalah. Dua pria kembali meminta Felicia dan Eka mengulum penis mereka. Satu pria yang tadi mengalah hanya bisa memainkan penisnya sendiri, "Ga apa-apa, nanti saya minta diservice dua polwan sekaligus deh..." katanya yang terlihat malu karena kalah dari perebutan. Kembali lagi Felicia dan Eka harus menelan habis sperma dua pria selanjutnya tadi. Mereka terlihat mau muntah, masing-masing telah menelan sperma dari tiga orang pria. Akhirnya pria yang tadi kalah dari perebutan pun maju, ia nampak sangat senang, walaupun giliran terakhir, namun ia lebih spesial karena bisa dilayani dua polwan sekaligus.
"Kalian pasti sudah eneg ya minum sperma?" ejek pria tersebut. "Kalau kalian tidak mau minum sperma lagi... Menarilah untukku..." minta pria tersebut. Dua polwan itu tidak mungkin menolak, apapun yang diperintahkan para pria tak dikenal ini haruslah dituruti. Dua polwan tersebutpun terpaksa menari, tanpa pakaian penutup atas, sehingga buah dada mereka yang bulat terlihat jelas. "Celana nya di lepas dong, gue mau lihat memek kalian..." kata pria tersebut. Kedua polwan itu belum menurutinya, mereka masih menari dengan mengenakan celana abu-abu gelap mereka yang sedikit ketat. Merasa tak didengar, pria tersebut melepas ikat pinggangnya, 'Plak' 'Plak' dibesutnya ikat pinggang terssebut ke arah mereka. Dengan mata berlinang air mata, mereka pelan-pelan menurunkan celana mereka. Waw, tak sabar aku pun ingin sekali melihat kemaluan milik polwan. Tono pun masih tidak berkedip dengan apa yang ia tonton, sifat hypersexnya memang sudah lama di-idapnya.
Setelah melorotkan celana mereka, celana dalam berwarna pink mereka pun pelan-pelan ditarik turun. "Sungguh indah..." kata pria tersebut melihat kemaluan dua polwan yang segar itu. Vagina mereka tanpa bulu, mungkin selalu dicukur mereka agar terlihat lebih bersih. "Sini, hisap kontolku!" perintah pria itu. Dua polwan yang sudah telanjang bulat itu pun maju dan berlutut di depan pria itu. "Ga usah rebutan, sini gue mau netek juga..." kata pria tersebut. Felicia kemudian bangkit dan menyodorkan buah dadanya kepada pria itu, sedangkan Eka bertugas mengulum penis pria tersebut. Payudara Felicia terus dikenyot dengan kasar, hampir setengah jam pria itu dilayani dua gadis, ia pun merasa bosan, "aku mau ngentot..." katanya. Mendengar kata itu, dua polwan tersebut kaget. Mereka sepertinya tidak terima dan mengambil sebuah tindakan. Pria tadi ditangkap Felicia dan Eka, "Lepaskan kami, atau pria ini mati!" ancam Felicia yang tadi dengan cekatan menangkap pria di depannya. Suasana menjadi hening seketika. Namun suara tertawa pun memecahkan keheningan, "Hahaha, kalian pegang satu nyawa, sedangkan kami pegang tiga nyawa..." kata salah satu pria yang mengawasi kami. "Mau mereka mati?" tanya pria tersebut.
Aku sedikit iba melihat semua ini, aku pun coba untuk menengahi, "Biar saya jadi sandera saja, tapi lepaskan mereka..." pintaku. "Wah, mau jadi pahlawan di malam buta begini?" kata pria tadi yang kemudian mendekatiku. Ia terlihat marah sekali, dan langsung mendekatkan belatinya di leherku. "Buka celanamu!" teriak pria itu. Spontan saja aku kaget dan ingin melawan, tapi tubuhku didorong hingga tersungkur. "Biar saja semuanya mati..." kata pria itu. Terpaksa aku pun membuka celanaku hingga celana dalamku. "Dengar, kalau kalian tidak mau mendengar perintah kami, maka peler orang ini akan saya potong!" ancamnya sambil mengarahkan belatinya ke penisku yang sudah mengeras sedari tadi. Jantungku berdetak dengan kencang, hampir pingsan aku dibuatnya ketika mendengar penisku akan dipotong. Dua polwan yang melawan tadi pun terdiam, pria-pria lain mendekati mereka dan memukuli mereka. Dua polwan tersebut ditampar dan ditendang oleh beberapa pria. Sedangkan pria tadi yang sempat ditangkap oleh dua polwan itu terlihat sangat marah. "Aku tak akan mengasihani kalian lagi!" katanya. Kemudian ia bangkit dan menuju ke arah kami, ia mendekati polwan yang berlutut bersama kami. Polwan yang bernama Olivia tersebut kemudian dijambak rambutnya dan ditarik kemudian dilemparkan ke arahku, hingga wajah sang polwan tersebut tepat mengenai penisku. "Hisap!" perintah pria tersebut. Waw, kejutan yang indah kataku dalam hati.
Aku diposisikan keadaan yang sangat sulit, satu sisi aku sudah sangat nafsu, di sisi lain aku kasihan melihat kemalangan yang menimpa para polwan tersebut. Aku coba menghalangi, "Jangan..." kataku. Lalu pria tadi yang mengancam akan memotong penisku kembali mengancam lagi, "Peler lu mau gue potong ya?!" Aku pun hanya yerdiam ketakutan. Olivia kemudian dengan berderai air mata mencoba mengulum penisku. Tono terlihat tak terima, ia berteriak "Hentikan semua ini!" Aku yakin Tono berpura-pura melawan karena ia iri dengan apa yang ku alami. Besar dugaanku adalah bahwa Toni juga ingin diperlakukan seperti ini. "Dasar kerempeng!" pria lain mendorong Tono hingga jatuh. Pria itu mendekatkan belati ke arah Tono, "Lu mau coba jadi pahlawan juga??" tanya pria itu. Tono pun kemudian terdiam. Di arah lain, ku lihat Eka dan Felicia sudah dikerumuni lima pria bercadar, mereka bergantian menggauli dua polwan itu.
Dua pria lain masih mengawasi aku, Tono dan Olivia. Dari tadi penisku dikulum oleh Olivia, badannya terlihat gemetar sekali, kulumannya pun tidak begitu erat, ia mungkin belum pernah melakukan ini. "Hey lu! Bantu polwan itu buka seragam!" perintah pria yang mengawasi kami kepada Tono agar Tono membuka seragam Olivia. Tono tetap terdiam tak mau bergerak, ja'im banget, padahal dia sangat terobsesi dengan adegan seperti ini. "Oi, mau mati lu?!" ancam pria itu menunjukkan belatinya. Tono pun kemudian menuju arah kami. Olivia menghentikan kulumannya karena sudah ketakutan akan dibugili. Melihat begitu, dua pria yang mengawasi kami terlihat marah, "Dasar tak berguna!" Mereka berdua kemudian menangkap Olivia, tangan dan kaminya ditangkap mereka, "Hei kalian, cepat buka dan kenyot susunya!" perintah dua pria itu kepada aku dan Tono. Dengan perasaan serba tidak enak, aku dan Tono pun membuka seragamnya Olivia, kancing bajunya satu persatu kulepas, sedangkan Tono melepas celana panjang berwarna abu-abu gelap polwan itu. Bra putih sudah terlihat, aku sudah tak sabar ingin melihat payudara polwan ini, bagian bawah kulihat Tono juga sudah berhasil melepas celana Olivia hingga terlihat celana dalam berwarna merah muda yang penuh dengan gambar bunga. "Cepat! Atau polwan ini kami bunuh!" ancam dua pria itu. Aku langsung gelagapan karena kaget mendengar suara dengan nada keras pria tersebut. Bra Olivia ku angkat ke atas hingga terlihat bukit kembarnya yang semakin merangsang saya.
Kini tubuh Olivia sudah bugil tanpa balutan sehelai benang pun. Dia berusaha berontak untuk melawan. Aku tersejenak karena sedikit tidak tega melihat Olivia yang tak berkutik dipegangi dua pria bercadar. Berbeda dengan Tono, kulihat dia sudah menciumi selangkangan Olivia, sekitar vaginanya sangat bersih tanpa bulu. Tapi bagaimana aku bisa mengenyot susunya, toh dua pria bercadar yang memegangi Olivia berebutan menjamah dan memeras susu Olivia yang bulat indah itu. Satu pria bercadar itu menjambak rambut Olivia dan menyuruh aku mendekatkan penisku ke arah Olivia. "Kalau lu uda nyaman, lu ga bakal belain mereka, liat kawan lu tuh!..." kata pria itu. Olivia pun kemudian mengulum penisku, sungguh sedap sekali. Olivia sudah tak berkutik, susunya kemudian dikenyot dua pria bercadar, sedangkan vaginanya terus dijilati oleh Tono.
Penisku terus dikulum Olivia yang memerah mukanya, ia hanya menutup matanya walaupun terus menangis. Sedangkan dua temannya, Felicia dan Eka, sibuk melayani lima pria bercadar lainnya yang memperkosa mereka secara bergiliran. Dari arah sana kudengar suara memohon ampun, Eka dan Felicia mungkin tak sanggup melayani lima orang pria yang kesetanan itu.
Setelah selesai menyetubuhi Eka dan Felicia, lima pria itu tidak terlihat lelah sama sekali, malah mendekat ke arah kami dan minta jatah Olivia. Aku dan Tono pun disuruh minggir, karena takut disakiti, aku dan Tono pun menyingkir. "Tuh, dua mainan sono, nikmati saja sebelum kalian kami bunuh!" kata salah seorang pria yang mendekati kami, dia memerintahkan kami menyetubuhi Felicia dan Eka. Kupandangi ke arah sana, Eka dan Felicia sudah tidak bergerak, mereka sudah pingsan, dengan kaki yang masih mengangkang terlihat jelas vagina mereka yang belepotan cairan sperma. Aku tidak tega melihat begitu, namun Tono menarik tanganku untuk mendekati dua polwan itu.
Tono terlihat sangat nafsu sekali, ia langsung membuka semua pakaiannya dan langsung memasukkan penisnya ke dalam lubang vagina Eka. "Tuh si Felicia nganggur", katanya. Bodoh amat pikirku, toh polwan ini sudah tidak sadarkan diri, aku pun kemudian meremas-remas susu Felicia yang menggemaskan. Wajahnya yang cantik sangat menarik perhatianku, ingin sekali kuciumi wajahnya, tapi aku sedikit geli dengan sperma yang menempel di sekitar bibirnya, jadi ku urungkan niatku itu. Akhirnya setelah puas meremas susu Felicia, aku pun mencoba memasukkan penisku ke dalam vaginanya. Penisku yang dari tadi mengeras dengan kondisi resleting yang terbuka, sudah tak sabar mencari labuhannya. Aku dan Tono pun menggenjot dua polwan yang sudah pingsan tersebut.
Sambil menggenjot Felicia yang tidak sadarkan diri, aku mendengar rintihan minta ampun di kumpulan sana, kumpulan tujuh pria melawan satu gadis perempuan. Olivia kelihatan terus disiksa, tujuh pria tersebut bergiliran menikmati setiap lubangnya, dari mulut, vagina, hingga lubang anusnya dimanfaatkan. "Saakkiiiii...ttt...tt....." rintihan terus terdengar, rambutnya dijambak, pipinya ditampar, puting susu nya digigit, sungguh malang sekali nasibnya, malah lebih malang dari nasib kedua temannya ini. Hampir satu jam aku menyetubuhi tubuh Felicia yang pingsan, dan aku pun menyemprotkan sperma hangatku di dalam vagina Felicia, sungguh nikmat sekali, sampai aku tak mau mencabut penisku, dan aku hanya beristirahat memeluk Felicia. Aku lihat Tono pun sudah mencapai titik klimaknya, setelah menyembutkan spermanya, Tono pun mencabut penisnya, tapi ia tidak terlihat lelah. "Man, minggir dong..." pinta Tono, sepertinya dia ingin menikmati Felicia juga. Gila, pikirku, Tono memang memiliki nafsu yang melebihi manusia normal, walau sudah ber-ejakulasi berkali-kali, ia masih tak mau melepaskan kesempatan seperti ini. Demi kepuasan teman, aku pun mengalah, aku menepi untuk beristirahat sejenak. Ku lihat tujuh pria bercadar juga masih bersemangat mengerjai Olivia, bahkan pria-pria itu berkata akan berpesta dengan tiga polwan ini hingga pagi hari.
"Man... Bangun man..." aku terlelap dan Tono membangunkanku, kulihat ke langit sudah terang. Aku tidak tahu semalam para penjahat bercadar memperkosa Felicia, Eka dan Olivia hingga berapa ronde, yang jelas aku melihat arloji ku sudah menunjukkan pukul 06:12. Muka Tono sedikit memar, sepertinya ia dipukuli para penjahat itu. Aku lihat Eka sibuk memakaikan pakaian pada Olivia yang pingsan. "Polwan yang satu lagi mana?" tanyaku pada Tono. "Dia ke mobil cari bantuan..." kata Tono yang megangi pipinya yang lebam. "Woi! Bantu kita!" teriak Eka. Aku dan Tono pun kemudian membantu Eka memapah Olivia agar keluar dari hutan ini. Sampai di depan, aku lihat sudah ada mobil patroli yang lain di tepi jalan. Beberapa polisi pria langsung mendekati kami dan mengendong Olivia.
Kami pun masuk ke dalam mobil patroli dan segera dibawa ke kantor polisi. Namun sebelum ke kantor polisi, kami dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk diperiksa. Aku dan Tono tidak mengalami luka yang serius, cuma luka memar di pipi Tono yang diberi sedikit obat semacam salep. Sedangkan para polwan mengalami luka serius, vagina mereka sobek karena diobok-obok paksa oleh para penjahat itu. Olivia pun terpaksa harus rawat inap karena dia masih pingsan. Aku dan Tono beserta polwan lain pun dibawa ke kantor polisi setelah dirawat beberapa jam. Kami disuruh membuat laporan dan menjadi saksi atas kejadian tersebut. Aku tidak tahu apa yang terjadi setelah aku tertidur, namun Tono menjelaskan bahwa dia dipukuli para penjahat itu saat ia memohon agar tidak membunuh kami semua.
Namun hingga sekarang ke tujuh pria bercadar tersebut belum diketahui identitasnya. Polisi yakin bahwa mereka adalah residivis yang memiliki dendam dengan para polwan itu. Karena tidak ada bukti yang lebih akurat, polisi tidak meneruskan penyelidikan. Selain penjahat itu bercadar, mereka pun menggunakan sarung tangan, tidak ada sisa jejak mereka kecuali sperma-sperma kering yang melekat di tubuh para polwan.

TAMAT

Labels

Seks Umum (1606) pesta seks (888) Sesama Pria (564) Setengah Baya (497) Negeri jiran (462) Cerita Sex (455) Lain-lain (422) Umum (392) Cerita Dewasa (379) Sedarah (353) Daun Muda (275) pemerkosaan (271) Cerita Panas (247) Seks (239) cerita seks (234) Artikel Seks (200) Tante (192) Kisah Seks (187) Adult Story (184) Hot (164) abg (164) Bondage (143) tukar pasangan (138) Cerita Binal (133) Sesama Wanita (120) Cerita sex hot (117) Cerita Sex Pemerkosaan (88) Foto Hot (72) Cerita Sex ABG (68) Cerita sex keren (68) Cerita Sex Umum (66) Cerita sex panas (66) Daftar Isi (62) Artikel (60) Bacajuga (57) Cerita Mesum (54) Cerita Sex Sedarah (50) Cerita Pesta Sex (47) cerita sex selingkuh (45) Cerita Sex Perselingkuhan (43) Cerita Sex Setengah Baya (42) Tips dan Trik (42) Cerita Perselingkuhan (41) Pesta Sex (39) Cerita Hot Dewasa (38) Kesehatan (36) Masturbasi (35) Galeri Foto (33) selingkuh (33) Cerita Panas Daun Muda (32) Cerita Pasutri (32) Cerita Sex Daun Muda (32) Cerita Fiksi (31) Unik (29) Berita (28) Dr Boyke (28) Konsultasi (28) Cerita Sex Dewasa (27) Kisah 1001 Malam Abunawas (27) Prediksi Togel Terbaru (27) Cerita Sex Sekolah (26) 18+ (24) Cerita Sex Tukar Pasangan (23) cerita hot (23) Karya Pengarang Lain (22) Gadis (20) Download Cerita sex (19) A +++ (17) Mahasiswa (17) Bestiality (16) Cerita 18+ (16) arthur (16) bahasa indonesia (16) original (16) Artikel Dewasa (15) Cerita Pemerkosaan (15) Cerita Sex Berseri (15) Cerita Sex Sesama Wanita (15) Kerabat dekat (14) Pengalaman Seks (14) cerita porno (14) english (14) fanfiction (14) Anime / Manga (13) Cerita Misteri (13) Penyiksaan (13) Jilbab Lovers (12) cerita tante (12) Beastiality (11) Cerita Dewasa 17 tahun (11) Cerita Ringan (11) DI bawah umur (11) Movies (11) Cerita Bokep (10) Cerita Sex Dengan Hewan (10) Om om (10) kumpulan cerita dewasa (10) Cerita Hot Perawan (9) Cerita Nafsu Bejat (9) Mahasiswi (9) Sex Umum (9) Tia (9) 17 tahun (8) Cerita (8) Cerita Sex Artis (8) Cerita Terbaru (8) Cerita Three Some (8) Pembantu (8) Cerita SMA (7) Cerita Tante Girang (7) Cheat Lost Saga (7) Doujin (7) Ruang Hati (7) Tips Trick (7) cerita seks tante girang (7) cerpen (7) memek tante (7) perawan (7) tante girang (7) Artis (6) Cerita Gay dan Lesbi (6) Cerita Sex Onani dan Masturbasi (6) Kondom (6) Wayang Kulit (6) aids (6) cerita abg bugil (6) cerita jorok (6) cerita ngentot (6) Andani Citra (5) Cerita Sex Lesbian (5) Dongeng (5) Kata Kata (5) Koleksi Langka (5) MISS V (5) Pemaksaan (5) PrediksI Pertandingan Bola (5) Selebriti (5) Togel (5) Trik Sex (5) Zodiak (5) cerita istri selingkuh (5) istri selingkuh (5) ngentot tante (5) Bola (4) Bule (4) Cerita Masturbasi (4) Cheat Point Blank (4) Cinta (4) Eropa (4) Fan Fiction (4) Gadis Kampus (4) Guru (4) Inggris (4) Isteri (4) Italia (4) Prancis (4) Pria Jantan (4) Program kejantanan (4) Waria (4) cerita daun muda (4) cerita dewasa janda (4) cerita memek (4) cerita panas abg17 tahun (4) cerita penis (4) cerita perek (4) cerita seru (4) cerita sex guru (4) cerita tentang janda (4) gadis bandung (4) kisah dewasa (4) memek (4) ngentot pembantu (4) sma (4) soul calibur (4) suikoden 2 (4) Adik Kakak (3) Cerita Artis (3) Cerita Gigolo (3) Cerita Remaja (3) Cerita Sedarah (3) Eksibisi (3) Fantasi Seks (3) Hasil Pertandingan (3) Humor (3) Karya Dr. H (3) Porno (3) abg bandung (3) abg bugil (3) bandar bola (3) bandar casino sbobet (3) bandar judi (3) bandar sbobet (3) bandar situs bola (3) cerita bogel (3) cerita dewasa abg (3) cerita gadis (3) cerita kekasih (3) cerita kontol (3) cerita lonte (3) cerita lucah (3) cerita ml (3) cerita nikah (3) cerita pacaran (3) cerita porn (3) cerita romantis (3) cerita sahabat (3) cerita saru (3) cerita saru 17 tahun (3) cerita seks daun muda (3) cerita seks pembantu (3) cerita seksi (3) cerita seru 17 tahun (3) certa memek (3) cewek abg (3) cewek bugil (3) cewek cantik (3) cewek hot (3) cewek seksi (3) dynasty warriors (3) foto memek (3) gadis bandung bugil (3) kisah daun muda (3) meki tembem (3) memek tante cantik (3) ngentot mama (3) ngentot tante girang (3) polis (3) Antivirus (2) Artis Film Porno (2) Buah Buahan (2) Bugil (2) Cerita Lesbian (2) Cerita Sejenis (2) Cerita Silat (2) Dewasa (2) Horor (2) Karya Diny Yusvita (2) Kisah Kejam (2) ML (2) Majalah Dewasa (2) Makcik (2) Pelacur (2) Penyakit Kelamin (2) Penyanggak (2) Prediksi Euro 2012 (2) Resep Masakan (2) Resep Ramadhan (2) Sesama Jenis (2) Story (2) Travic Sex (2) bercinta dengan pembantu (2) brondong (2) cerita istri (2) cerita janda (2) cerita nikmat (2) cerita pelacur (2) cerita pembantu (2) cerita perkosaan (2) cerita psk (2) cerita seks ibu (2) cerita seksual (2) cerita sensual (2) cerita sex anak imut (2) cerita sex igo (2) cerita sex suter (2) cerita wts (2) cewek chinese (2) cewek nakal (2) cewek salon bugil (2) code geass (2) enaknya memek tmaam tiri (2) foto istri bugil (2) foto janda (2) foto pelacur (2) istri (2) istri nakal (2) janda (2) kontol (2) montok (2) ngentot (2) ngentot abg (2) ngentot cewek abg (2) ngentot cewek salon (2) ngentot mbak-mbak (2) ngentot tante muda (2) orang (2) pelacur abg (2) pelacur jalang (2) pelacur tante (2) perselingkuhan (2) psk bugil (2) psk telanjang (2) seks dengan tetangga (2) singapore (2) tante binal (2) tante gatel (2) tante girang cari brondong (2) tante jalang (2) tante pelacur (2) tante-tante (2) tempek tante (2) toket tante (2) vagina (2) video sex (2) wanita (2) Alat Kelamin (1) Aminah (1) Ampun Tante.... ampun.... (1) Bali (1) Berawal Dari Langganan (1) Biodata (1) Biografi (1) Bisnis Online (1) Cerita Sadis (1) Cerita Sex Berjilbab (1) Cerita Sex Maria (1) Cerita Tentang Sex (1) Cerita Tukar Pasangan (1) Cerita lepas (1) CeritaDewasa (1) Cie Yeni yang Hot (1) Contoh Surat (1) Datin (1) Dewi dan Tante Anis (1) Difuck (1) Digerudi (1) Ditinggalkan (1) Download (1) Fantasy : Kisah Prita Laura dan Frida Lidwina (1) Foto (1) Foto Hot Dewasa (1) Foto Seks (1) Gadget (1) Gambar Hot (1) Gambar Hot Dewasa (1) Gambar Pasutri (1) Gaya Posisi Seks (1) Gelek (1) Gerimis (1) Gue istri yang bener bener nakal... (1) Guru Murid (1) Hanis (1) Harga Handphone Mito (1) Harga Handphone Nokia (1) Harga Handphone Sony (1) Harnani (1) Hilangnya perjaka ku dengan tante indra (1) Hot News (1) Ibu Muda (1) India (1) Jepang (1) Jika waktu bisa kuulang kembali (1) Kakak (1) Karya Ninja Gaijin (1) Karya Yohana (1) Kenangan di bekas tempat kosku (1) Kenikmatan (1) Khasiat Ramuan Sehat Lelaki (1) Ki Anom Suroto (1) Ki Hadi Sugito (1) Ki Manteb Sudarsono (1) Ki Narto Sabdho (1) Ki Sugino Siswocarito (1) Ki Timbul Hadiprayitno (1) Kisah vania (1) Korea (1) Kost pacarku Nina (1) Lainnya (1) Liani 5: Sex in the Mall (1) Lirik Lagu (1) Lucu (1) Lusi Aku Mencintaimu (1) ML dengan Bu Vivin (1) Malam Pertama (1) Mbak Dina kakak iparku (1) Melissa Anak tiriku (1) Menghangatkan Hujan (1) Menyetubui (1) Mertua (1) Minuman Obat (1) Multi Orgasme (1) Musik (1) Nikmat (1) Nikmatnya (1) Pakcu (1) Pasang Iklan (1) Pegawai Toko Sepatu (1) Pejantan Lugu Tuk Istriku (1) Pendidikan (1) Pengalaman (1) Pengalaman Ngentot Dengan cia (1) Pengetahuan (1) Piala AFC (1) Puisi (1) RENDEVOUS WITH GIRL WHO EVER REFUSE ME…. (1) Ruzita (1) Safura (1) Sakinah (1) Sawiyah (1) Seks Dengan Binatang (1) Selabintana nikmat. (1) Seminar nikmat (1) Shida (1) Shinta (1) Sinopsis Film (1) Softcore (1) Sri Maya [i]Nestina .. what a amazing .. (1) Tablet (1) Take And Give (1) Tante mau tukar pasangan (1) Teman therapisku tersayang (1) Temen kost (1) Tips Suami Istri (1) Tips dan Triks (1) Video Porno (1) Vidio (1) abang (1) abg bugil nakal (1) abg di perkosa (1) abg smu (1) abg smu jakarta (1) abg toge (1) adegan sex (1) anak kuliah yang beruntung (1) anakku (1) angkatku (1) bawah umur (1) benyamin sueb (1) bercinta dengan mbak (1) birahi pembantu (1) biseks (1) calon mertua binal (1) cara ngajak pembantu ML (1) cerita abg smu (1) cerita adegan sex (1) cerita babu (1) cerita birahi (1) cerita bugil abg (1) cerita indonesia sex (1) cerita janda kembang (1) cerita jorok pembantu (1) cerita keperawananku (1) cerita memek X (1) cerita pacar (1) cerita panas indonesia (1) cerita permerkosaan (1) cerita porno X (1) cerita saru X (1) cerita seks dewasa (1) cerita seks janda (1) cerita seks janda kembang (1) cerita seks setengah baya (1) cerita seksual X (1) cerita selangkangan (1) cerita sensual X (1) cerita setengah baya (1) cerita sex bugil (1) cerita sex gadis 18 tahun (1) cerita sex gadis perawan (1) cerita sex indonesia (1) cerita suami istri (1) cerita tante binal (1) cerita tante girang dengan brondong (1) cewek (1) cewek amoy (1) cewek bandung (1) cewek hamil bugil (1) cewek jakarta (1) cewek sma (1) chatter (1) chatting (1) dalam (1) dengan (1) di villa tante (1) ditebuk (1) dosen (1) dosen genit (1) dosen tante girang (1) dukun (1) dvd benyamin (1) dvd kadir doyok (1) dvd warkop (1) enaknya tante girang (1) foto bispak (1) foto istri bugil X (1) foto janda muda (1) foto pembantu bugil (1) foto pembantu diperkosa (1) foto pembantu telanjang (1) foto perek jakarta (1) foto tante girang (1) gadis salon (1) gangbang (1) gersang (1) gohead (1) hatiku (1) hilang keperawanan (1) hypersex (1) ibu berjilbab nakal (1) ibu dosen teman seks (1) ibu hamil (1) ibu tetty (1) ipar ku (1) istri genit (1) istri muda bugil (1) istri muda bugil X (1) istri orang (1) istri pak guru (1) istri selingkuh X (1) istri telanjang (1) istri telanjang X (1) istri teman (1) istri teman genit (1) istri teman menggoda (1) jablay (1) janda binal (1) janda bispak (1) janda bugil (1) janda cantik (1) janda desa (1) janda hot (1) janda muda (1) janda seksi (1) janda stw (1) janda telanjang (1) kandung (1) kegadisan hilang (1) kekasih (1) kekasihku Vie diperdaya mantannya (1) kelentit (1) keperawananku (1) kesalahan yg indah (1) ketemu di jalan (1) kisah tante girang (1) kolaborasi (1) maam tiriku tante girang (1) mahasiswi bugil (1) majikan nakal (1) makan (1) malam (1) malu-malu mau (1) mama temanku binal (1) mama tiriku binal (1) mbak arti (1) mbak cantik (1) mbak tukang lulur (1) memek abg (1) memek gadis (1) memek ibu (1) memek ibu kos (1) memek janda (1) memek merah (1) memek tante girang (1) mengapa harus gangbang ? mengapa ? (1) mengundang (1) mertua genit (1) ml adik ipar (1) ml ama ibu mertua (1) ml di hotel (1) mp3 basiyo (1) mp3 kartolo cs (1) nafsu (1) nge-seks dengan Para Peronda Malam (1) ngentot abg smu (1) ngentot cewek hamil (1) ngentot cewek smu (1) ngentot ibu menyusui (1) ngentot ibu mertua (1) ngentot janda tua (1) ngentot kakak ipar (1) ngentot mama tiri (1) ngentot mertua (1) ngentot saudara (1) ngentot sma (1) ngentot smu (1) ngentot sopir (1) ngentot suster (1) ngentot suster cantik (1) ngentot tante girang kaya (1) ngeseks dengan mama tiri (1) ngetot adik (1) ngetot kakak (1) oral seks (1) pandai (1) pasangan mesum (1) pemaksaan seks (1) pembantu bahenol (1) pembantu bugil (1) pembantu telanjang (1) penis (1) perbesar penis (1) perempuan (1) perkosa (1) pertama (1) pertamaku (1) posisi sex mantap (1) prediksi spanyol vs italia (1) pujaan (1) rakan (1) resep kue (1) riang (1) salon mesum (1) salon plus plus (1) script bisnis (1) sehari (1) sekretaris (1) seks degan mama (1) seks jilbab (1) selangkangan (1) selangkangan gadis (1) seling (1) selingkuh X (1) selingkuh dengan istri teman (1) selingkuh dengan karyawan (1) simpan (1) situs sex perkosa (1) skandal tante (1) sodomi (1) spanyol vs italia (1) street fighter (1) stw (1) suami lugu (1) suami sayang (1) suami selingkuh (1) suster (1) suster cantik (1) tante asih (1) tante baik nafsu (1) tante cari brondong (1) tante dosen (1) tante gaya doggy (1) tante genit (1) tante girang baik (1) tante girang bugil (1) tante girang cantik (1) tante girang cari abg (1) tante girang hot (1) tante girang kaya (1) tante girang merangsang (1) tante girang nafsu (1) tante girang puas (1) tante jilbab genit (1) tante ku aku entot (1) tante ku buas (1) tante manja (1) tante mia (1) tante nakal (1) tante ndut (1) tante ngentot (1) tante sari (1) tante seks (1) tante tetty (1) tantenal (1) template website (1) tetangga tante girang (1) tetanggaku binal (1) threesome (1) tips bola online (1) toge (1) toket (1) toket cewek salon (1) trik mendapatkan tante girang (1) tukang lulur (1) vagina tante (1) wanita beristri (1) wanita diatas (1) wanita setengah baya (1) wanita sex puas (1) warkop dki (1)
 

Kisah Kisah Napsu Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates