05 July 2012

0 Pendekar Naga mas 2


Bab II. 10 tahun mengembara, mencari jejak kekasih hati.

Lan termenung sambil berpikir sejenak, kemudian kembali bertanya, ”Adik, menurut penglihatanmu, bagaimana penghidupan rumah tangga kongcu kita di kemudian hari?”

Han-Gi melirik Ong Sam sekejap, kemudian ia berkata sambil geleng kepala, “Maaf Kak, rahasia langit tak boleh bocor, maaf bila adik tak berani buka rahasia ini!”

“Hai, kita adalah sama-sama saudara, kenapa sih kau mesti sok rahasia begitu?”

“Kalau begitu biar kubuka sedikit rahasia ini, sebelum akhir tahun, bintang Ang-loan (bintang kegembiraan) kelihatan bersinar, jangan lupa suguhi beberapa cawan arak kegiranganmu untuk siaumoay! Hahaha... Akhir tahun ini? Ooh, bukankah tinggal dua bulan lagi? Tapi… apa mungkin?”

Dengan hati berdebar, Lan segera berseru. ”Adik buncit, kau jangan coba makan tahu cici, kini cici sudah jadi milik kongcu, sementara kongcu…”

“Maksudku, kakak akan menikah dengan kongcu!” tukas Han-Gi sambil tertawa.

“Kau…” Lan jengah bercampur girang, tak tahan ia menundukkan kepalanya.

“Adik!” Ciu-ing ikut bicara, “ramalan adik buncit kita ini selalu tepat, dulu dia pernah memberitahu kepadaku bakal jadi seorang ibu, waktu itu aku pun sama sekali tak percaya.”

“Kakak, kau jangan bayangkan aku kelewat sakti, hanya kebetulan ramalanku cocok,” kata Han-Gi merendah.

Mendadak terdengar Bu-ciau menjerit keras, bagai menerima ’tanda bahaya’ serentak kawanan perempuan itu berebut lari menuju ke asal suara itu.

Sepeninggal kawanan perempuan itu, terlihat Ong Sam pelan-pelan membuka matanya, dua titik air mata tak terasa meleleh membasahi ujung matanya, membasahi bantal dan seprei.

Ya, siapa percaya Ong Sam yang selalu diliputi gelak tertawa, kini justru melelehkan air mata? Ketika pil pemberian Ciu-ing tertelan ke dalam perutnya tadi, dengan hawa murninya yang sempurna tidak selang berapa saat kemudian ia sudah sadar dari pingsannya.

Kebetulan waktu itu ia mendengar Ciu-ing sedang berbicara dengan Lan masalah dirinya dengan Gou-ti, maka dia pun pura-pura pingsan untuk mencuri dengar pembicaraan mereka.

Kini, setelah para gadis berlalu, dia mulai tak kuasa menahan rasa sedihnya hingga air mata pun jatuh bercucuran. Pelan-pelan ia duduk bersila di pembaringan, sepintas orang mengira dia sedang bersemedi mengatur napas, padahal pikiran dan perasaannya sedang gejolak keras, sampai lama sekali perasaan itu belum juga mau tenang.

Dalam pada itu dua belas tusuk konde emas pun tidak mengurusi Ong Sam, karena sewaktu mereka balik ke situ dilihatnya pemuda itu sedang mengatur pernapasan.

***

Tengah hari, setelah sadar dari semedinya, Ong Sam memerintah bibinya dan Ciu-ing untuk membawa kedua orang bayinya yang masih tertidur pulas masuk ke dalam kamarnya, lalu ditatapnya kedua orang bocah itu bergantian.

Sesaat kemudian terdengar ia berkata dengan suara dalam, “Sungguh menyenangkan! Adik Ing, bibi Ong, biarkan mereka berada di sini sejenak lagi!”

Ciu-ing mengangguk sambil tersenyum dan segera mengundurkan diri. Mengawasi dua orang bayi di hadapannya, Ong Sam merasa semakin dipandang semakin merasa ada yang tak beres, ia merasa walaupun kedua orang bocah itu sama bagusnya namun bentuk wajah mereka justru memiliki ciri yang sama sekali berbeda.

Ketika ia perhatikan Bu-ciau, makin dipandang ia merasa semakin wajah bocah itu semakin mirip dirinya. Sebaliknya ketika perhatikan Bu-jin, makin dipandang ia merasa semakin ada yang tak beres.

Akhirnya dia siapkan tiga cawan kecil di atas meja, mula-mula dia robek sendiri jari tengah tangan kirinya dan meneteskan darah itu ke dalam cawan.
Kemudian ia robek kaki kiri kedua orang bocah itu dan masing-masing diambilnya beberapa tetes darah.

Dengan perasaan tegang ia mulai campurkan darah dari kedua orang bocah itu masing-masing dengan darah sendiri yang telah dipersiapkan. Apa yang kemudian terlihat membuat badannya gemetar keras.

Tetesan daran yang berasal dari Bu-ciau bukan saja segera menyatu dengan darahnya, bahkan warna pun persis sama. Sebaliknya darah dari Bu-jin kelihatan agak mengambang di atas permukaan, bahkan warna darahnya nampak jauh lebih tua dan gelap.

Jika Ong Sam tidak periksa dengan seksama, sulit rasanya untuk menemukan perbedaan itu, dia tak puas dengan hasil tes pertama, dirobeknya lagi kaki kanan Bu-jin dan sekali lagi melakukan percobaan kedua. Tapi hasil yang muncul kemudian membuat pemuda tersebut mendengus tertahan, dengan tubuh lemas dan bertenaga ia jatuhkan diri terduduk di sisi pembaringan.

Tampaknya Bu-jin yang sedang tertidur nyenyak seperti tahu kalau rahasia asal-usulnya telah terbongkar, tiba-tiba saja ia terbangun dan menangis keras. Tangisan itu menyebabkan Bu-ciau ikut terbangun dan menangis juga dengan kerasnya.

Tergopoh-gopoh Ong Sam menyambar cawan berisi darah dan masuk ke kamar mandi. Ketika ia balik kembali ke depan pembaringan, tampak Lan dan Ciu-ing masing-masing telah membopong seorang bayi dan menenangkan mereka.

“Hantar mereka balik ke kamarnya!” perintah Ong Sam kemudian dengan suara berat.

Semenjak hari itu, Ong Sam menolak untuk keluar dari kamar tidurnya, sepanjang hari dia menyibukkan diri membaca, melukis atau membuat pantun.

Lan adalah gadis yang teliti, ketika membawa balik Bu-ciau ke kamarnya hari itu, ia segera menemukan adanya bekas sayatan kecil di kaki kanan bocah itu, ia segera mengerti apa yang telah terjadi. Rahasia tersebut tidak diberitahukan kepada siapa pun. tapi tiap pagi secara rutin dia selalu membopong Bu-ciau ke dalam kamar Ong Sam dan menjenguknya sebentar.

Anehnya, tiap kali bocah itu diajak masuk ke dalam kamar Ong Sam, dia selalu menjejakkan kakinya dengan aktif, seakan sangat senang berada disitu, biar popoknya basah oleh air kencing atau perutnya lapar, bocah itu tak pernah rewel.

Berapa hari permulaan, Ong Sam belum bisa menguasai gejolak perasaan hatinya, dia hanya membaca terus atau kadang kala melukis. Satu minggu kemudian, dia hanya membaca setengah jam, sisa waktunya digunakan untuk bermain dengan Bu-ciau.

Lewat seminggu kemudian ia sudah curahkan segenap perhatiannya untuk bermain dengan putranya.

Tanpa terasa satu bulan kembali sudah lewat. Selama ini Gou-ti dan Bu-jin tak pernah meninggalkan pesanggrahan Ti-wan, sementara sebelas tusuk konde memang berniat menjodohkan Lan dengan majikannya, maka hanya dia seorang yang diberi tugas untuk menemani Bu-ciau menjumpai bapaknya.

Malam itu udara amat dingin, angin bercampur bunga salju berhembus kencang di luar, suasana pesanggrahan Hay-thian amat hening, semua penghuninya telah terlelap tidur, hanya kamar Ong Sam yang nampak masih memancarkan sinar lentera.

Pada saat itulah tiba-tiba dari luar pintu kamar terdengar suara gemerisik yang mencurigakan, Ong Sam yang masih membaca buku segera merasakan itu, ia pun menghardik. “Siapa disitu?
Pintu tidak terkunci!”

Daun pintu dibuka orang, Gou-ti muncul dihadapannya. Agaknya Ong Sam tahu siapa yang telah muncul, tanpa mendongakkan kepalanya ia berkata, “Silahkan duduk.”

Diam-diam Gou-ti menggigit bibir, setelah duduk di depan meja baca, ia berujar dengan lembut, “Engkoh Huan, rupanya kau tahu kalau aku bakal datang kemari?”

“Betul!” sahut Ong Sam sambil menutup bukunya dan memandang perempuan itu sekejap, “selama ini aku memang selalu menunggumu.”

“Jadi kau sudah tahu semuanya?”

"Tidak, aku hanya tahu sebagian, siapa bapak Bu-jin yang sebenarnya?”

Gou-ti gemetar keras, setelah ragu sesaat, ia menyahut lirih, “Si-jin!”

Berkilat sepasang mata Ong Sam. “Oooh, rupanya dia! Hai, kenapa dia tinggalkan kalian ibu dan anak hingga telantar di luaran?”

“Dia tak tahu kalau aku sudah hamil!” kata Gou-ti agak tersipu.

“Hmm, kalau begitu biar kuutus orang untuk mencarinya!”

“Jangan, biar aku sendiri yang pergi mencarinya!”

“Bagaimana dengan Bu-jin?” tanya Ong Sam setelah termenung berapa saat.

“Kau bersedia mewakili aku untuk merawatnya?” tanya Gou-ti lirih.

“Baik! Sebelum dia kembali ke marganya, ia masih tetap menjadi putri sulung keluarga Ong…”

“Engkoh Huan, kau sungguh baik dan berjiwa besar, aku… aku merasa bersalah kepadamu!”

“Hai, jodoh, semuanya adalah jodoh, aku tak bisa salahkan siapa pun, aku hanya berharap kau bisa temukan Si-jin secepatnya sehingga keluarga kalian bisa bersatu kembali, pintu gerbang Hay-thian selalu terbuka untuk keluarga kalian!”

Gou-ti merasa sangat terharu, dengan air mata bercucuran ia berkata, “Engkoh Huan, aku berjanji bila dititiskan kembali besok, aku bersedia menjadi budakmu untuk membalas semua budi kebaikan ini.”

Ong Sam menggenggam tangannya erat-erat, sambil berusaha menahan rasa sakit di hatinya, ia bertanya dengan suara tenang, “Adik Ti, kau rencana akan berangkat kapan?”

“Besok pagi.”

”Baiklah, sampai waktunya aku akan menghantarmu, sekarang pergilah beristirahat.”

“Terima kasih kakak Huan!” dengan suara parau dan air mata bercucuran Gou-ti berlalu dari situ.

Tinggal Ong Sam duduk termangu seorang diri, sampai lama kemudian ia baru bergumam, “Si-jin… tak aneh jika dia namakan anaknya Bu-jin!”

***

Keesokan harinya, ketika dua belas tusuk konde sedang bersantap, Ong Sam setelah menghantar kepergian Gou-ti, muncul di ruang makan, begitu masuk dia segera menegur sambil tertawa, “Ada bagian untukku?”

“Ada, ada! Silahkan duduk kongcu!” serentak para gadis berseru sambil bangkit berdiri.

Setelah duduk Ong Sam baru bertanya, “Mana anak Cau?”

“Sehabis mandi dan minum susu, dia tertidur lagi,” sahut Ciu-ing cepat.

“Hahaha… dasar bocah cilik, bisanya makan dan tidur melulu, kalian yang dibikin kerepotan…”

“Tidak berani,” sahut para gadis serentak.

Sambil tertawa Lan berkata, “Anak Cau memang menggemaskan, apalagi sepasang matanya yang bulat dan bening, persis seperti sepasang mata kongcu.”

Ong Sam tertawa tergelak saking gembiranya. Sambil bersantap mereka pun berbincang-bincang, masalahnya hanya seputar kelincahan anak Cau. Tiba-tiba terdengar Ong Sam berkata dengan wajah serius, “Adik semuanya, ada satu urusan ingin kurundingkan dengan kalian semua.”

Perasaan tegang mulai mencekam para gadis, sambil berusaha menenangkan diri Ciu-ing berkata, “Kongcu, katakan saja.”

Setelah memandang sekejap para gadis, ujar Ong Sam dengan wajah bersungguh-sungguh, “Adik semuanya, lewat dua, tiga bulan lagi anak Cau akan genap berusia satu tahun, aku harus mengangkatnya secara resmi menjadi putra mahkota kerajaan keluarga Ong. Oleh sebab itu pada tanggal lima belas bulan ini aku ingin menyelenggarakan satu pesta perkawinan, tentu saja pengantin lelakinya adalah aku, sedang pengantin wanitanya adalah adik sekalian yang hadir disini, apakah adik-adik bersedia mengabulkan permintaanku ini?”

Pengorbanan memang selalu akan membuahkan hasil, setelah ditunggu-tunggu sekian lama, apa yang diharapkan akhirnya terwujud juga. Dengan air mata berlinang karena kegirangan, serentak kedua belas tusuk konde itu manggut-manggut.

Ong Sam kegirangan setengah mati. Urusannya dengan Gou-ti sudah ada penyelesaian yang pasti, mau tak mau dia pun mesti padamkan perasaan cinta bertepuk tangan sebelah ini, dia berjanji sejak hari itu semua perasaan cintanya hanya akan tercurahkan kepada anak Cau serta dua belas tusuk konde emas.

Seminggu kemudian para ciangbunjin dari sembilan partai besar serta para jago dari golongan putih yang menerima surat undangan berbondong-bondong datang memberi selamat, suasana di gedung Hay-thian pun jadi amat ramai dan meriah.

Surat undangan disebar oleh para piausu dari perusahaan ekspedisi Tiangshia piaukiok yang tersohor, tak heran kalau dalam satu hari saja semua undangan telah tersebar.

Nenek moyang Ong Sam, Kim-sinci adalah ketua dari kawanan jago persilatan, tempo hari di bawah pimpinan beliau lah perkumpulan Jit-sin yang menghebohkan daratan Tionggoan berhasil ditumpas, karena jasanya, beliau diangkat menjadi Bu-lim bengcu.

Ong Sam sendiri, sejak terjun ke dalam dunia persilatan sudah bertindak adil dan setia kawan, dia selalu menjunjung tinggi kebenaran, biar romantis tapi tidak bejat moralnya, tak heran kalau semua orang menaruh kesan batin terhadapnya.
 
Apalagi sejak kedua orang tuanya mengikuti kakek dan neneknya naik ke gunung Kun-lun untuk hidup mengasingkan diri, para rekan dunia persilatan yang merasa amat berhutang budi, semakin menaruh perasaan hormat terhadap Ong Sam. Kini, setelah mendapat surat undangan perkawinan yang dikirim Ong Sam, tak heran kalau para jago segera melakukan perjalanan untuk datang mengucapkan selamat

Begitulah, setelah upacara perkawinan dilangsungkan dan para tamu menikmati hidangan yang disajikan, lambat laun suasana di Hay-thian menjadi tenang kembali.

Ketika semua tamu sudah berpamitan, senja itu Ong Sam bersama kedua belas orang istrinya duduk bersama bersantai di ruang tengah. Sambil mengangkat cawannya, Ong Sam berkata, “Istriku sekalian, berapa hari belakangan kalian pasti sudah amat lelah, biarlah kugunakan secawan arak ini sebagai ungkapan rasa terima kasihku kepada kalian semua.”

Habis berkata, dia teguk habis isi cawannya. Selesai para gadis meneguk juga isi cawan masing-masing, Ciu-ing berkata, “Engkoh Huan, tak disangka ada begitu banyak jago kenamaan yang bersedia datang untuk mengucapkan selamat, kami semua ikut merasa berbangga hati.”

“Betul!” Ong Sam membenarkan, “yang lebih tak disangka adalah kehadiran para cianbunjin dari sembilan partai besar, menurut apa yang kuketahui, dari dulu hingga sekarang, baru kali ini mereka hadir secara bersamaan.”

“Engkoh Huan, berarti kami ikut berbangga karena nama besarmu,” ujar Lan sambil tertawa.

“Hahaha… adik Lan, kita sekarang adalah sekeluarga, rasanya kau tak usah sungkan-sungkan lagi.”

“Baik!”

Makan bersama kali ini dilalui penuh keriangan dan suasana gembira, boleh dibilang jauh lebih meriah ketimbang waktu ’pernikahan’ tempo hari. Selesai bersantap, tiba-tiba Ciu-ing berkata sambil tertawa. “Engkoh Huan, atas usul berapa orang saudara, kini aku sudah siapkan dua belas gulungan kertas undian, harap kau mengambil sebuah, karena nama yang tercantum dalam undian itulah yang akan menemani kongcu malam ini!” Sembari berkata dia ambil keluar dua belas buah gulungan kertas kecil dan diletakkan di atas telapak tangannya.

“Lebih baik urut usia saja, adik Ing, seharusnya kau yang menemani aku malam ini,” ucap Ong Sam sambil tertawa.

“Tidak boleh,” dengan wajah merah jengah Ciu-ing menggeleng, “Lebih adil kalau memakai undian!”

Sementara itu kesebelas orang nona lainnya hanya berdiri sambil tersenyum, tampaknya masing-masing sudah punya keyakinan akan sesuatu. Melihat itu Ong Sam segera mengerti apa yang terjadi, ia segera mengambil sebuah undian dan sahutnya sambil tertawa, “Baiklah, aku menurut!” Walau kertas undian sudah diambil, tapi dia sengaja tidak membukanya secara langsung.

“Engkoh Huan, cepat dibuka!” seru Ciu-ing cepat.

“Tak perlu terburu nafsu, siapa pun yang terpilih toh dia tak bisa menghindar, sisanya yang sebelas gulungan undian itu biar aku saja yang simpan, bisa digunakan lagi lain kali.” Habis berkata dia ambil semua undian dan dimasukkan ke dalam saku.

“Engkoh Huan, sekarang kau boleh membuka kertas undian itu bukan?” pinta Ciu-ing sambil tertawa.

Ong Sam tertawa tergelak. “Adik Ing, buka saja sendiri!” katanya.

Begitu undian dibuka. Ciu-ing segera berseru tertahan, dia tak mampu berkata-kata lagi. Biarpun tahu apa yang terjadi, Ong Sam berlagak pilon, sengaja ia bertanya, “Adik Ing, nama siapa yang muncul?”

“Engkoh Huan, namaku! Tapi… boleh tidak kalau diganti orang lain?”

“Tidak bisa, tidak bisa,” seru Ong Sam berlagak serius, “Masa undian juga dianggap permainan? Bukan begitu adik-adik sekalian?”

“Setuju!” seru kesebelas nona serentak.

“Hahaha… mari kita keringkan cawan ini, kemudian masing-masing kembali ke kamar.” kata Ong Sam sambil tertawa tergelak. Maka kedua orang itu pun digiring menuju ke kamar pengantin.
 
Berdiri di dalam kamar pengantin sambil mengawasi sepasang lilin merah yang berukirkan naga dan burung hong, Ciu-ing merasa jantungnya berdebar keras.

Setelah mengunci pintu kamar, Ong Sam pun berkata: “Adik Ing, aku rasa kau paling pantas jadi pemimpin kawanan burung hong, karena kepemimpinanmu bisa diterima semua pihak…” Sambil berkata dia mulai melepaskan pakaiannya satu per satu.

Sementara itu, Ciu-ing merapikan tempat tidur sambil sesekali melirik ke arahnya. “Engkoh Huan, bobok yuk.” bisiknya mesra sambil merangkul Ong sam dari belakang, “Adik punya kejutan untuk Engkok.” lanjutnya. Ditarik dan dibimbingnya pemuda itu ke atas pembaringan. Dibukanya seluruh Ong sam, “Ini Ciu-ing persembahkan khusus buat Engkoh.” katanya dan kemudian langsung merayap diatas tubuh pemuda itu, dijilat dan dihisapnya kedua puting susu Ong sam. Ong sam yang diserang, langsung bereaksi, tangannya membelai-belai kepala gadis itu.

Lidah Ciu-ing terus bergeser ke bawah, dijilat-jilatnya kepala penis sang suami. Ong sam mendesah, saat mulut Ciu-ing mulai mengulum dan menghisap-hisap kepala penisnya, diapun menggeliat dibuatnya.

Ciu-ing dengan lincah memainkan peran mulut dan lidahnya sambil menggerakkan kepalanya, sesaat dia menjilat-jilat seluruh kepala dan batang penis pemuda itu, sesaat kemudian dia sudah mengulum dan menjilat-jilat buah zakar Ong sam, dilanjutkan dengan mengocokkan batang penis pemuda itu di dalam mulutnya. Semakin lama tempo permainan mulut dan lidah gadis itu semakin cepat dan ganas. Ong sam hanya merem-melek keenakan, tangannya hanya dapat meremas-remas rambut gadis itu dengan geram.

Sesekali Ciu-ing memasukkan seluruh batang penis sang suami ke dalam mulutnya, terasa penis itu memenuhi mulut dan tenggorokannya, Ciu-ing mengocok-ngocok penis itu ditenggorokannya yang membuat Ong Sam langsung menggeram nikmat. Remasan dan kocokan tenggorokan Ciu-ing memberikan sensasi nikmat tersendiri di kepala dan batang penisnya. Terutama saat gadis itu nampak mulai tersedak seperti mau muntah dan terpaksa mengeluarkan batang penis itu dari mulutnya dengan cepat, menimbulkan sensasi nikmat tersendiri.

Ketika dirasakannya penis Ong sam sudah sangat tegang dan mulai berdenyut-denyut, Ciu-ing segera menghentikan gerakannya, dia bangkit berdiri dan tanpa melepas bajunya ia membuka celana dalamnya, ia kemudian berdiri mengangkangi tubuh sang suami. Ciu-ing berjongkok diatas pinggul pemuda itu.

“Saatnya pelajaran tambahan cara menunggang kuda yang baik.” katanya sambil tersenyum, diraihnya dan dibimbingnya penis Ong sam ke bibir vaginanya, dia pun menurunkan tubuhnya dengan perlahan, kepala penis Ong sam langsung menyeruak masuk ke dalam vaginanya.

Tubuh montok Ciu-ing mulai bergerak naik turun dengan teratur, setiap tubuh gadis itu bergerak turun dengan cepat, batang penis Ong sam langsung terbenam seluruhnya ke liang vaginanya, sementara setiap tubuhnya bergerak naik dengan perlahan, terasa memberikan jepitan ke batang penis sang suami.

Ong sam mengulurkan tangannya untuk meremas-remas buah dada Ciu-ing yang bergerak-gerak liar dibalik pakaian gadis itu. Sementara Ciu-ing terus mempercepat gerakan naik-turunnya, dia ingin menggapai kepuasan bersamaan dengan pemuda itu. Ciu-ing menjulurkan tangan kanannya keselangkangannya, jari telunjuknya memainkan clitorisnya sendiri sambil terus bergerak naik turun dengan cepat.

Kenangan manis telah berlangsung kembali, bunyi gemericit disertai dengus napas memburu kembali menghiasai ruangan itu. Semenjak kehadiran Gou-ti di pesanggrahan Hay-thian, mereka berdua belum pernah berkumpul, apalagi melakukan hubungan intim, tak heran kalau hubungan kelamin yang berlangsung saat ini berjalan panas, gila dan menghebohkan…

Goyangan pinggul Ciu-ing yang menggeliat kian kemari mengimbangi genjotan tongkat Ong Sam yang naik turun bagai orang sedang ’push up’, ibarat geliat seekor ular berbisa. Ong Sam-kongcu benar-benar terjerumus dalam rangsangan nafsu yang membara, dia gunakan seluruh kepandaian ’ranjang’nya yang paling hebat untuk mengimbangi goyangan perempuan itu. Dengusan napas, rintihan yang membetot sukma bergema silih berganti.

“Aaah… Aahh… Koko… Aaaah… Lebih cepat…
Masukkan lebih dalam… Aaaah… Koko… Aku tak tahan!”

“Adik Ing… Aduh… Kau hebat sekali… Goyanganmu membuat aku… Aku bagai dalam surga…”

Ong sam sudah tak kuat lagi menahan diri, dia meremas-remas buah dada gadis itu dengan kuat. Ciu-ing juga merasakan penis sang suami sudah mulai berdenyut-denyut lagi, tanda sebentar lagi akan meletus. Dia kini bergerak naik-turun sambil mengayunkan pinggulnya dengan cepat, dia berusaha mengejar ketinggalannya, tak lama kemudian keduanya saling pandang dan saling menggeram. Ong sam mengangkat pantatnya ke atas dan Ciu-ing menyambutnya dengan menghempaskan pinggulnya ke bawah hampir bersamaan. Batang penis Ong sam terbenam dalam dan meletus, dan terus berdenyut disana menghabiskan semburannya.

Ciu-ing segera membungkuk dan melumat bibir sang suami. Ong Sam menyambut dan merangkul tubuhnya, menyatukan tubuh bugil mereka berdua yang putih bagai salju untuk saling mendekap dan menempel dengan eratnya. mereka terus berciuman sampai semua sensasi kenikmatan orgasme bersamaan itu hilang.

““Engkoh Huan, kau… kau memang hebat!” bisik Ciu-ing dan bergulir kesamping, kemudian merebahkan kepalanya ke dada Ong sam.

Ong sam membelai-belai rambut gadis itu. “Adik Ing, goyangan pinggulmu nyaris membetot sukmaku!”

Selang berapa saat kemudian, mereka berdua baru bangun dengan malas-malasan untuk membersihkan badan. Ketika mereka berdua sudah balik kembali di balik selimut, Ciu-ing baru berkata sambil tertawa, “Engkoh Huan, mulai besok kau mesti lebih banyak makanan bergizi, karena sudah berapa tahun mereka menunggumu, kau mesti tunjukkan keperkasaanmu di hadapan mereka!”

“Adik Ing!” bisik Ong Sam setelah mengecup bibirnya: “menurut pendapatmu, besok siapa yang mesti menemani aku tidur?”

“Tentu saja adik kedua, kan menurut urutan!”

“Aku setuju, tapi kalau mereka usul untuk mengambil undian lagi lantas bagaimana?”

“Kalau begitu… biar kupilih dulu kertas undian yang mencantumkan nama adik kedua, asal ada kode rahasianya dan kau mengambil yang berkode, bukankah… hahaha...”

Dalam hati kecilnya, Ong Sam tertawa geli, tapi diluar ia menyatakan persetujuannya. “Baiklah, kalau begitu kita tentukan demikian!”

Melihat pemuda itu sudah setuju maka Ciu-ing pun bangkit berdiri dan mengambil keluar kesebelas kertas undian lainnya dari dalam saku baju Ong Sam. Tapi begitu dia buka kertas undian itu, kontan dia berteriak keras keras, “Waaah... Ini mah kebangetan!”

Melihat dugaan sendiri tak keliru, Ong Sam ikut tertawa terbahak-bahak.

“Engkoh Huan, ternyata kau…”

“Tidak… tidak… jangan salahkan aku, ketika kau mengambil undian tadi dan melihat mimik muka mereka bersebelas, aku sudah tahu, mereka pasti sedang mengerjai kamu!”

“Aku tahu, pasti adik Lan yang punya usul, besok aku mesti bikin perhitungan dengannya.”

“Sudahlah, mereka toh berniat baik kepadamu…”

“Tidak, Engkoh Huan, kau mesti balaskan dendam…”

“Baik, baik, sekarang juga aku akan membuat perhitungan,” sembari berkata dia merangkak bangun.

“Besok saja engkoh Huan, mari kita tidur dulu!”
Ciu-ing segera memeluknya sambil memberi ciuman mesra ke atas bibirnya.

***

Sancaka membuka matanya, seorang gadis cantik sedang mengguncang-guncang pahanya membangunkan tidurnya, kiranya kelelahan pertempuran semalam dengan Ciu-ing telah membuatnya tertidur dengan nyenyak.

“Bangun, Engkoh. Sarapan telah kami siapkan.” suara lembut Lan terdengar, senyum genit terhias diwajahnya.

“Ya, ya, aku bangun.” jawab Ong sam tergagap.

“Eh, Engkoh tidak boleh turun dari ranjang, duduk saja yang nyaman.” kata Lan sambil menggoyang-goyangkan telunjuknya ketika melihat Ong sam akan turun dari ranjangnya.

Ong sam melongo sebentar, dia pun naik kembali ke atas tempat tidurnya, duduk bersandar ke kepala tempat tidur itu, matanya tak lepas mengawasi gerak-gerik Lan. Gadis itu mengenakan gaun hijau ketat tanpa lengan, kulitnya yang putih mulus tampak bersinar. Saat itu Lan berdiri menyamping sehingga Ong sam dapat dengan jelas melihat bentuk siluet tubuhnya yang aduhai, buah dada yang tegak menantang, rambut digelung ke atas memperlihatkan rambut-rambut halus ditengkuknya. Lan sedang merapikan tempat tidurnya.

Ong sam meneruskan penjelajahan matanya ke tubuh gadis itu. Nafasnya sedikit tersendat saat melihat gaun panjang Lan yang memiliki belahan memanjang disamping, belahan dari bawah sampai mendekati pinggulnya, memperlihatkan kaki jenjang Lan dengan kulit paha yang putih mulus. Tanpa sadar Ong sam meneguk liurnya sendiri. Pikiran kotor mulai hadir di kepalanya.

“Engkoh suka yang engkoh lihat?” terdengar suara gadis itu menggodanya.

“Eh,” Ong sam kaget.

Lan sekarang sedang menyusun bantal ke ujung tempat tidur. Setiap gadis itu menunduk, Ong sam dapat melihat belahan dan sebagian besar buah dada gadis itu yang juga putih mulus, agaknya tidak ada pakaian dalam dibalik pakaian ketat hijau itu. Bau harum merebak dari tubuh Lan. Ong sam terus memperhatikannya. Kali ini Lan tidak berkomentar sedikitpun, ia hanya tersenyum-senyum manis sambil sesekali melirik ke arahnya.

“Saya sudah menyiapkan air panas untuk Engkoh mandi pagi ini.” kata gadis itu sedikit menganggukkan kepalanya. Ong sam hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan kuat, kemulusan dan keharuman Lan telah mengguncang batinnya.

”Ayo, Koh.” gadis itu mengajak Ong Sam keluar kamar.

Dia pun pun melangkah mengiringi gadis itu. Kali ini Ong sam dapat mengamati dengan jelas lenggak-lenggok tubuh Lan yang tinggi semampai, pinggangnya sungguh ramping. Bau harum tubuhnya juga semakin menggoda.

Mereka melewati ruang tengah yang luas, dengan hiasan segala macam senjata tajam di dindingnya, semuanya tersusun dengan baik, sehingga indah dipandang. Masuk ke ruang makan dengan meja besar panjang berbentuk oval yang dikitari oleh 13 kursi. Ada tiga pintu disana, pintu di kiri menuju ke ruang baca sekaligus perpustakaan pribadinya. Pintu di kanan menuju ke dapur dan taman belakang, sedangkan pintu di depan adalah pintu ruang mandi yang sekarang mereka tuju.

Lan melangkah pelan mendekati pintu itu, nyaris tidak bersuara, dan membukakannya untuk Ong sam, “Silahkan, Koh.” katanya sambil membungkuk sopan.

Ong sam melangkah masuk ke dalam. Dia tidak lagi menginjak lantai marmer seperti ruang lainnya, lantai ruang mandi itu dari batu-batu koral hitam. Di belakangnya, Lan segera menutup kembali pintu itu.

Ruang mandi itu sangat besar dan dirancang dengan sempurna, seluruh dindingnya berwarna biru cerah dengan gambar mata seukuran telapak tangan yang bertebaran tak teratur diseluruh permukaan dinding itu, tampak kolam oval dengan lebar 2 meter dan panjang 3 meter di tengah-tengahnya, terisi air yang jernih walaupun tidak terlalu penuh. Ada enam kuntum mawar merah mengambang di tengah kolam itu. Ada semacam parit kecil disalah satu sisinya. Agaknya kolam itu tertimbun sekelilingnya oleh batu koral hitam. Terdengar bunyi air mengalir, dan melalu parit kecil itu tampak mengalir air yang menimbulkan uap tipis dipermukaan kolam, agaknya itu air panas.

Ong sam mendekati tepi kolam dan mencelupkan tangannya, terasa bahwa airnya cukup hangat, agaknya jumlah komposisi air panas dan air dingin di kolam itu telah diperhitungkan dengan tepat. Bagian dalam dan bagian atas kolam itu dilapisi oleh marmer yang telah dibentuk sedemikian rupa, semuanya terasa halus tidak ada bagian yang bersudut atau menonjol terlalu tajam.

Takut airnya keburu dingin, Ong sam segera menanggalkan semua bajunya dan dengan tubuh telanjang masuk ke dalam kolam itu. Hangatnya air kolam menimbulkan rasa nyaman. Ong sam menyandarkan tubuh kekarnya, matanya terpejam, sungguh nyaman menjadi orang yang kaya raya seperti ini pikirnya.

Terdengar bunyi batu bergesekan karena langkah kaki yang mendekati kolam, Ong sam segera membuka matanya. Di tepi kolam, tampak Lan berdiri sambil tersenyum manis ke arahnya. ”Bagaiman, Koh. Pas kan hangatnya?” tanyanya.

Ong sam ingin menjawab iya, tapi suaranya tertahan begitu melihat Lan  menarik lepas ikatan baju hijaunya yang langsung jatuh lepas ke bawah. Nafas Ong sam bagai terhenti seketika, dibalik baju ketat hijau itu, Lan tidak mengenakan apa-apa lagi. Tubuhnya yang putih mulus terpampang jelas dimata Ong sam. Semua bagian tubuh gadis itu terlihat sangat sempurna.

Ong sam masih terbelalak dengan mulut menganga saat Lan melangkah masuk ke dalam kolam itu dan terus melangkah mendekatinya. Gadis itu berhenti tepat di depannya. Vagina Lan yang merah dan sempit terpampang jelas di depan muka Ong sam, benda itu hanya dilindungi sejumput bulu-bulu halus dibagian atasnya. Beberapa kali Ong sam harus meneguk air liurnya sendiri saat melihatnya.

Lan mengamati dengan puas betapa terangsangnya laki-laki di bawahnya. Bibirnya yang tipis tetap tersenyum manis. Diturunkannya tubuhnya perlahan-lahan. Kembali Ong sam terhenyak. Dipandanginya buah dada gadis itu yang turun secara perlahan, buah dada putih mulus yang berdiri tegak menantang dengan indahnya, puting susunya terlihat masih kecil menggemaskan membuat Ong sam jadi tidak tahan untuk segera menyambarnya.

Lan duduk dipangkuannya sambil tersenyum manis, tangannya segera dikalungkan ke leher Ong sam, kedua mata mereka saling menatap. Lan mendekatkan mukanya dan berbisik, “Adik akan berusaha menyenangkan Engkoh pagi ini.”

Dua buah dadanya menempel ketat ke dada Ong sam, lidahnya langsung menyapu telinga pemuda itu, ciumannya merambat ke leher dan terus turun ke dada Ong sam, lidahnya lincah menari di atas puting susu sang suami.

Tubuh Ong sam bagai tersengat listrik, belum pernah dia merasakan sensasi seperti ini. Setelah puas bermain disana, ciuman Lan pun segera merambat kembali ke atas, dipagutnya bibir sang suami dengan buas. Kali ini Ong sam segera membalas dengan tak kalah ganas.

Lan mengulurkan tangannya ke bawah, digenggamnya batang penis sang suami, terasa betapa batang penis itu telah berdiri tegang, ukurannya tidak mengecewakan, tampaknya dia akan dapat meraih kepuasan penuh pagi ini. Tangan Yuni mulai bergerak memberikan kocokan-kocokan lembut ke penis Ong sam, membuat laki-laki itu semakin ganas membalas pagutannya. Diarahkannya kepala penis itu ke bibir vaginanya, kemudian Lan segera memajukan pantatnya, kepala penis itupun mulai menyeruak masuk ke dalam lubang kenikmatannya.

”Oughhhhhh...” keduanya sama-sama melenguh sambil terus berpagutan. Gerakan masuk penis itu diiringi gelembung-gelembung udara kecil yang keluar dari celah bibir vagina Lan, udara yang terdesak keluar dari dalam liang vagina si gadis yang dipenuhi batang penis Ong sam.

Saat telah masuk seluruhnya, Lan pun segera menggoyang pantatnya maju mundur dengan gerakan teratur, semakin lama semakin cepat tanpa sedikitpun melepaskan pagutannya di bibir sang suami. Hanya suara “Hmmh...” saja yang terdengar bersahutan dari keduanya.

Ong sam mulai merasa kehabisan nafas, akan tetapi ada sensasi lain yang dirasakannya yang membuat ia enggan melepas pagutan gadis itu. Entah kenapa semuanya terasa lebih nikmat, lebih nikmat daripada saat ia dan Ciu-ing mereguk kenikmatan tadi malam. Setiap wanita memang mempunyai kelebihan sendiri-sendiri.

Gerakan Lan semakin cepat dan tak beraturan. Ong sam bisa merasakan betapa cengkeraman liang vagina gadis itu semakin ketat dan terus berdenyut-denyut tak beraturan. Tiba-tiba Lan menggeram hebat sambil menghempaskan pantatnya dengan kuat, penis Ong sam sampai tertanam kuat hingga ke pangkalnya. Tubuh gadis itu agak melenting ke belakang. Ong sam segera menangkap dan memeluknya, mulutnya langsung melumat habis kedua puting susu Lan yang membusung indah. Masih terasa sentakan-sentakan tubuh gadis itu menghabiskan sisa-sisa puncak kenikmatannya.

“Engkoh benar-benar dahsyat.” bisik Lan manja, “Engkoh berhasil melemparkanku ke puncak kenikmatan hanya dalam satu kali serangan.” lanjutnya sambil membelai rambut sang suami yang masih asyik menetek di dadanya.

Tangan Lan meraih sumbat di tengah kolam. Air kolam pun turun dengan cepatnya, keluar melalui lubang-lubang kecil diseputar dasar kolam itu, sebentar saja air kolam itu sudah terkuras habis. Ong sam segera membaringkan tubuh montok Lan di dasar kolam. Sekarang gilirannya untuk memburu kenikmatan.

“Lakukanlah, Koh. Mari kita reguk kepuasan itu bersama.” bisik Lan merdu.

Ong sam tidak mau berlama-lama menunggu. Tanpa melepaskan penisnya dari vagina sang gadis, ditindihnya tubuh putih mulus Lan, kembali mulutnya menetek dengan buasnya di kedua puting susu Lan yang membukit, sambil tak henti terus menggerakkan pantatnya memompa penisnya keluar masuk liang vagina Lan yang sempit dan legit.

“Terus, Koh. Terus.” ceracau gadis itu sambil kedua tangannya meremas-remas dan menarik-narik pantat Ong sam seakan membantu tenaga dorongan penis laki-laki itu.

Ceracauan yang membuat Ong sam semakin terbakar nafsu, digerakkannya pantatnya dengan kuat dan cepat, menimbulkan bunyi plak-plok di setiap hempasannya. Ong sam mulai mendesis, ia merasakan kenikmatan yang lebih daripada ketika Lan berada di atas tadi. Terlebih Lan juga pintar mengimbangi gerakannya dengan ikut mengayun-ayunkan pantatnya ke atas, menyambut setiap hempasan Ong sam pada vaginanya.

”Hgggghhhhh...” Ong sam menggeram. Dia makin mendekati puncaknya. Denyutan di pangkal penisnya terasa semakin kuat. Vagina Lan juga mulai ikut mencengkeram dan meremas-remas dengan denyut tak beraturan.

Lan segera mengangkat muka sang suami, menariknya mendekat dan melumat bibir Ong sam dengan buas. Makin menggeram keenakan, Ong sam menghunjam-hunjamkan penisnya dengan sekuat-kuatnya, dan akhirnya dengan mata terpejam rapat dia menghempaskan pantatnya sekuat tenaga, dihisapnya habis-habisan bibir sang istri. Penisnya berdenyut kencang saat menyemburkan cairan mani ke dasar liang vagina gadis itu.

Lan juga kembali menggapai puncaknya disaat yang sama, kedua tangannya  dengan kuat meremas pantat Ong sam. Denyutan lubang vaginanya yang mencengkeram dengan kuat seakan membantu menyedot dan memerah habis cairan dari batang penis sang suami.

Keduanya sama-sama terengah-engah dengan nafas memburu dan terkulai lemas saling bertindihan. Hampir saja Ong sam jatuh tertidur diatas tubuh Lan, kalau saja gadis itu tidak menepuk-nepuk pantatnya dengan lembut.

“Koh, apakah pantas tidur disini? Adik bukan kasur lho.” kata Lan geli.

Ong sam menggulingkan dirinya ke samping, ditolehnya gadis itu yang sekarang sudah bangkit berdiri. Lan berjalan ke arah pintu dan mengambil dua kimono baru yang terlipat rapi di depan pintu, agaknya tadi dia datang dengan membawa dua kimono itu.

Ong sam ikut bangkit berdiri. Lan mendekat ke arahnya dan memakaikan kimono yang terbuat dari bahan handuk yang cukup tebal sehingga dapat menyerap keringat yang membasahi tubuhnya. Setelah mengenakan kimono satunya, Lan segera membuka pintu dan membungkuk hormat kepada Ong sam sambil berkata, “Silahkan Engkoh kembali ke kamar. Semoga pelayananku tadi memuaskan Engkoh.”

“Terima kasih,” balas Ong sam dan iapun berlalu melewati gadis itu.

Di dalam kamar, Ong sam sudah akan berganti pakaian ketika pintu kamarnya terbuka. Seorang gadis manis melangkah masuk, tangannya membawa nampan berisi gelas keramik bertutup.

“Teh hangat, Koh.” sapa Hi-kui sambil tersenyum manis. “Silahkan dinikmati.” katanya, meletakkan gelas itu diatas meja. Setelah membungkuk hormat, gadis itu segera menutup pintu kamar.

Ong sam yang terpaku dengan kedatangannya hanya mengangguk mengiyakan. Dia lalu duduk menikmati teh hangatnya sambil pikirannya menerawang. Hi-kui, walaupun tidak putih seperti Lan atau Ciu-ing, tapi badannya lebih menantang. Baru sampai disitu saja pikiran kotor yang mulai muncul sudah cukup membuat penisnya pelan-pelan mulai bereaksi.

Melihat Ong sam yang tampak bengong, Hi-kui melangkah mendekat ke arah tempat tidur  dan mulai menurunkan semua kelambu, “Kalau teh sudah habis, bobok yuk, Koh.” kata gadis itu menoleh ke arah Ong sam.

Hi-kui menanggalkan semua bajunya dan dengan tubuh telanjang masuk ke dalam kelambu dan naik ke atas tempat tidur. Tanpa pikir panjang, Ong sam segera bangkit dan menyusul gadis itu ke dalam kelambu. Tempat tidur itu segera menjadi arena pertarungan keduanya.

Demikian kehidupan Ong sam selanjutnya setelah memperistri duabelas tusuk kondenya. Dia harus bekerja keras membagi waktu meniduri mereka secara bergantian.

***

Waktu berlalu sangat cepat, tanpa terasa sepuluh tahun sudah lewat. Pesanggrahan Hay-thian yang biasanya hening dan tenang, kini sudah berubah jadi ramai sekali.

Hari peh-cun telah tiba, bau harum bakcang terendus sampai dimana-mana. Tengah hari itu, suasana di tepi kolam Ti-sim amat ramai dengan gelak tertawa, percikan air menyebar ke empat penjuru. Ong Sam dan dua belas tusuk konde emas duduk mengeliling kolam sambil menyaksikan dua puluh lima orang bocah sedang bermain perang-perangan di dalam kolam, melihat wajah riang bocah-bocah itu, mereka semua merasa ikut gembira.

Berkat jerih payah Ong Sam selama sepuluh tahun terakhir yang sangat rajin ’mencangkul sawah’ dan ’menebar benih’, belum genap dua tahun pernikahan dengan sebelas orang tusuk konde emas, mereka telah melahirkan sebelas orang bocah untuknya. Yang menjadi juara pertama adalah Ciu-ing, setahun setelah perkawinannya dia telah melahirkan seorang bocah yang gemuk, hingga pesanggrahan Hay-thian secara tiba-tiba mendapat tambahan tiga belas orang bocah lelaki dan dua belas orang bocah perempuan (termasuk Bu-jin).

Kaum pria dikomandani oleh Bu-ciau. Sementara kelompok wanita dipimpin oleh Bu-jin. Jangan dilihat kedua orang itu baru berusia sebelas tahunan, bukan saja wajah mereka tampan dan cantik, mereka pun sangat pandai memimpin saudara-saudaranya hingga orang tua tak perlu kuatir. Sejak masih sangat kecil, kawanan bocah itu sudah dilatih dasar ilmu silat, pihak lelaki dilatih secara langsung oleh Ong Sam, sementara kelompok wanita dididik oleh kaum ibu, tak heran kalau gerak-gerik mereka amat lincah dan cekatan.

Apalagi Bu-ciau, bukan saja dia berbakat alam, kecerdasannya mengungguli saudaranya yang lain, tak aneh jika dia berhasil menguasai tiga belas macam ilmu kungfu, meski belum mencapai tingkat kesempurnaan, namun kehebatannya sungguh mengejutkan hati. Tak heran jika dia menjadi putra mahkota yang paling disegani saudara lainnya.
Ilmu silat yang dilatih Bu-jin berasal dari didikan dua belas tusuk konde emas.

Setelah mengikuti Ong Sam-kongcu selama banyak tahun, pikiran serta cara berpandangan dua belas tusuk konde sama sekali telah berubah, sikap mereka terhadap Bu-jin pun tidak pilih kasih, tekun mereka mendidiknya secara benar. Bakat yang dimiliki Bu-jin termasuk sangat bagus, sejak berlatih ilmu silat, bukan saja dia berhasil mempelajari dua belas macam ilmu silat dari dua belas tusuk konde emas, dia pun secara khusus mempelajari ilmu meramal nasib dari Han-Gi.

Sayangnya, kepergian Gou-ti sejak sepuluh tahun berselang dan hingga kini bukan saja tak pernah kembali, bahkan kabar berita pun sama sekali tak ada, hal ini membuat watak Bu-jin jauh lebih matang dibandingkan usianya, dia nampak lebih pendiam dan sering murung. Sejak tahu urusan, entah sudah berapa kali dia menanyakan masalah tersebut kepada dua belas tusuk konde emas, tapi jawaban yang diperoleh selalu sama.

“Sejak melahirkanmu, Gou-ti yang terluka parah berangkat ke wilayah Kanglam untuk mengobati penyakitnya.”

Biarpun dua belas tusuk konde emas memandang bocah itu seperti putri sendiri, sementara Ong Sam juga amat menyayanginya, namun Bu-jin tetap merasa ada ganjalan dalam hatinya. Mengikuti bertambah dewasanya dia, rasa rindunya dengan ibu kandungnya justru bertambah kuat. Tentu saja perasaan itu tak pernah diungkap di hadapan orang banyak, karena dia tak tega ayah dan bibinya jadi sedih karena menguatirkan dirinya.

Di tengah pertempuran air yang berlangsung antara kelompok laki dan kelompok wanita, tiba-tiba dari luar pintu gerbang Hay-thian muncul seseorang berbaju ungu, dia tak lain adalah Gou-ti yang sudah lenyap sepuluh tahun berselang.

Ong tua, congkoan pesanggrahan sangat kegirangan, baru saja dia akan berteriak memanggil, perempuan itu segera memberi tanda agar dia tidak berisik. “Ong tua!” sapanya lembut, “kondisi badanmu kelihatan sangat prima!”

“Semua berkat doa restu nyonya.” sahut kakek Ong sambil tertawa, “Nyonya, selama banyak tahun kau pergi kemana saja? Semua orang rindu kepadamu.”

Gou-ti tahu Ong Sam tak pernah mengungkapkan kejadian sesungguhnya kepada bawahan, maka katanya pelan, “Aah... benar, aku pulang dusun sekalian mengatur rumah lamaku di kota Kim-leng.”

“Ooh, rupanya begitu, nyonya, kongcu dan semua nyonya serta siauya serta siocia sedang berada di kolam Ti-sim, silahkan anda langsung menyusul ke sana.”

“Terima kasih, Ong tua.” Gou-ti ingin mengejutkan banyak orang maka dia langsung menuju ke kolam Ti-sim. Dari kejauhan dia sudah mendengar teriakan ramai dari sekawanan bocah, tanpa terasa jantungnya berdebar keras.

Diam-diam dia melompat naik ke atas pohon siong lebih kurang lima kaki dari kolam, dari situ dia mengamati sekeliling kolam dengan seksama.
Tentu saja sorot matanya yang pertama adalah menemukan sosok Bu-jin pujaan hatinya. Tak selang berapa saat ia telah menemukan putrinya yang sedang memimpin pasukan wanita, tak kuasa lagi butiran air mata jatuh bercucuran membasahi pipinya.

“Terima kasih engkoh Huan, ternyata kau merawat Bu-jin seperti merawat putri kandung sendiri.” Semakin dipandang, hatinya semakin sedih, air mata pun bercucuran semakin deras.

Dia tidak menyangka ilmu silat yang dimiliki Bu-jin begitu sempurna, bahkan kalau ditinjau dari keanekaragaman aliran silat yang dikuasai, jelas semua kemampuan itu hasil didikan dari dua belas orang tusuk konde emas. Ketika sinar matanya berhenti di wajah Bu-ciau, hatinya kontan bergetar, pujinya: “Ganteng amat bocah ini, dia tentu anak Cau!”

Tubuh yang kekar dengan wajah yang bersih, hidung yang mancung, apalagi sepasang matanya yang bulat dan hitam, tampak sinar wibawa memancar keluar dari balik matanya yang jernih. Seandainya Ong Sam memiliki mata dan wibawa yang dimiliki anak Cau, mana mungkin Gou-ti bisa terjatuh ke dalam pelukan Si-jin hingga dia mesti berkelana hampir sepuluh tahun lamanya?

Diam-diam ia coba mengamati Bu-jin sekali lagi, kemudian dengan perasaan bangga ia berpikir, “Bocah ini bakal cantik sekali setelah dewasa nanti, aah… wajah Bu-jin serasa perpaduan wajah kakak Jin dan aku.” Melihat kedua orang bocah bergaul sangat akrab, kembali dia berpikir, “Aai… selama hidup aku sudah banyak berhutang kepada engkoh Huan, semoga Bu-jin bisa mewakiliku untuk membalas budi ini.”

Apakah dia sudah mengambil keputusan untuk menjodohkan Bu-jin dengan Bu-ciau? Membayangkan sampai disitu, tanpa terasa ia tersenyum sendiri. Tiba-tiba terdengar seseorang berseru dari arah kolam, “Tenang, tenang, diumumkan, hasil perlombaan hari ini dimenangkan pihak perempuan!”

Kawanan bocah perempuan di sisi kolam segera bersorak-sorai penuh kegembiraan. Begitulah, diiringi suara teriakan yang amat ramai, kawanan bocah itu membubarkan diri menuju ke kamar masing-masing.
Bu-jin sambil bergandengan tangan dengan anak Cau juga ikut berlalu dari situ.

Ong Sam saling berpandangan sekejap dengan dua belas tusuk konde sambil tertawa, baru saja akan balik ke ruang tamu, tiba-tiba terlihat bibi Ong muncul sambil melongok ke sana kemari. Melihat itu Ciu-ing segera menegur, “Bibi Ong, kau sedang mencari siapa?”

“Kongcu, aku sedang mencari nyonya, apa kalian tidak melihat nyonya?” sahut bibi Ong cepat.

“Bibi Ong, kau mencari nyonya yang mana? Kami semua berada di sini?”

“Nyonya kedua, sewaktu aku mengantar nasi untuk suamiku tadi, dia mengatakan kalau nyonya besar telah datang, kenapa tidak kelihatan orangnya?”

“Sungguh?” serentak semua orang berseru dengan perasaan kaget bercampur girang.

“Benar, malah suamiku minta nyonya besar langsung mencari kalian di sini.”

Pada saat itulah tampak sesosok bayangan manusia meluncur turun dari atas pohon, dengan gerakan ’burung belibis membalik badan’, tahu-tahu Gou-ti sudah melayang turun persis di hadapan mereka. “Engkoh Huan, cici sekalian, aku telah kembali!” katanya seraya menjura.

Serentak kawanan wanita itu maju mendekat, dengan air mata berlinang Ciu-ing berujar, “Enci Ti, kami semua merindukan kau!”

“Cici sekalian, terima kasih banyak kalian telah merawat dan mendidik anakku!” ujar Gou-ti dengan air mata bercucuran.

Isak tangis pun menghiasi pertemuan yang sangat mengharukan itu, tidak terkecuali bibi Ong yang berdiri di samping. Melihat itu Ong Sam segera menegur sambil tertawa, “Pertemuan ini semestinya disambut dengan gembira, kenapa kalian malah menangis? Cepat seka air mata kalian, jangan biarkan gerombolan tuyul kecil menertawakan kalian.”

Buru-buru Ciu-ing menyeka air matanya kemudian berujar sambil tertawa, “Cici Ti, kau sudah bertemu anak Jin? Dia hebat sekali!”

“Semuanya ini berkat jasa kalian semua,” bisik Gou-ti dengan air mata semakin deras.

Tiba-tiba Han-Gi berkata setelah menarik napas panjang, “Enci Ti, dipandang dari wajahmu yang membawa sinar kegembiraan, tampaknya Thian tak akan menyia-nyiakan harapanmu, apa yang kau harapkan selama ini bakal tercapai.”

“Enci Han, apa maksudmu?” Gou-ti tercengang.

“Aah, tepat sekali! Memang cocok sekali,” tiba-tiba Ong Sam ikut berseru sambil tertawa, “Adik Ti, sebulan berselang adik Han pernah bilang, ada orang lama yang bakal pulang kampung di hari Peh Cun, tak disangka kau benar-benar telah pulang di hari Toan-yang ini!”

Tergerak hati Gou-ti, dia segera menarik tangannya seraya bertanya, “Enci Han, kau mengetahui rahasiaku?”

Sambil tersenyum Han-Gi menggeleng. “Tidak, saya tidak tahu, tapi saya  tahu paling lambat akhir tahun depan, apa yang kau harapkan bisa terkabul!”

“Sungguh?”

Han-Gi tidak menjawab, dia hanya tersenyum.

“Adik Ti tak bakal meleset, ”Ong Sam segera menyela, “Ayo, jangan biarkan anak-anak menunggu terlalu lama.”

Ketika masuk ke dalam ruang makan, ia jumpai bocah laki dan perempuan itu masing-masing duduk mengelilingi dua meja bulat, walaupun melihat orang dewasa masuk ke ruangan, ternyata tak ada satu pun yang bicara ataupun melongok kesana kemari. Kedisiplinan kawanan bocah itu mau tak mau membuat Gou-ti merasa amat kagum. Dia melirik anaknya sekejap, lalu tanpa mengucapkan sepatah kata pun mengambil tempat duduk.

Ketika Ong Sam menganggukkan kepala, Bu-ciau baru berseru lantang, “Bersantap dimulai!”

Para bocah pun mulai menggunakan sumpit masing-masing untuk mengambil bakpao yang tersedia. Saat itulah Ong Sam berbisik kepada Gou-ti: “Adik Ti, mohon kau sudi menahan diri sejenak lagi.” Sembari berkata ia sodorkan sebuah bakpao kepadanya. Dengan penuh rasa terima kasih Gou-ti menerimanya dan mengangguk berulang kali.

Tampaknya pertandingan yang diadakan hari ini telah menguras banyak tenaga bocah-bocah itu, tak heran kalau napsu makan mereka sangat besar, tak selang berapa saat kemudian bakpao sebaskom telah habis dilahap. Dua belas tusuk konde emas saling berpandangan sambil tertawa, setelah memberi tanda kepada Gou-ti, masing-masing membawa dua buah bakpao dan diberikan kepada putra kesayangannya.

Ketika Bu-jin melihat orang yang menghampirinya adalah Gou-ti yang tak dikenalnya, sekilas perasaan kagum terlintas dalam benaknya, setelah menerima pemberian bakpao itu, untuk sesaat dia malah berdiri tertegun dan tak tahu apa yang harus diperbuat. Gou-ti berusaha keras menahan kucuran air matanya serta dorongan keinginan yang kuat untuk memeluk bocah itu, sambil tersenyum dia hanya mengangguk dan balik kembali ke tempat duduknya. Hingga kawanan bocah itu pada bubaran, ia baru tersadar kembali dari lamunannya.

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar Ong Sam berseru, “Bu-jin, jangan pergi dulu, coba kemari!”

Bu-jin meletakkan bakpaonya ke meja dan berjalan ke depan Ong Sam sambil bertanya, “Ada apa, ayah?”

“Bu-jin, ayah hendak menyampaikan sebuah kabar baik, ibumu sudah kembali!”

“Sungguh ayah?” berkilat sepasang mata Bu-jin.

Ong Sam tersenyum, sambil menggandeng tangannya yang gemetar, mereka berjalan menuju ke hadapan Gou-ti. Sementara itu air mata jatuh bercucuran membasahi wajah cantik Gou-ti, sambil memeluk bocah perempuan itu ia berteriak berulang kali, “Bu-jin, Bu-jin!”

“Ibu!” Bu-jin menubruk ke dalam rangkulannya dan menangis tersedu.

Memandang sekejap kawanan bocah yang berdiri tercengang, Ong Sam segera menjelaskan, “Bocah-bocah, dia adalah bibi Gou, yaitu ibu kandung cici kalian.”

“Bibi… bibi…!” serentak para bocah maju meluruk sambil berteriak kegirangan.

Dengan air mata berlinang Gou-ti anggukkan kepalanya berulang kali, “Kalian semua memang anak yang manis!”

“Anak-anak,” Ciu-ing ikut menjelaskan sambil tertawa, “selama banyak tahun, bibi kalian merawat lukanya di daerah Kanglam, walaupun luka itu belum sembuh tapi kali ini sengaja datang untuk merayakan peh-cun bersama kita semua, untuk menyampaikan rasa terima kasihnya karena kalian selama banyak tahun membantu Bu-jin, maka masing-masing akan mendapat hadiah sebuah kain uang yang indah.”

“Terima kasih bibi, terima kasih bibi…” kembali tepuk sorak bergema gegap gempita.

“Mari kita kembali ke pesanggrahan Ti-wan!” ajak Ong Sam kemudian sambil tertawa.

Ketika melangkah kembali ke dalam pesanggrahan Ti-wan, Gou-ti menyaksikan segala sesuatunya masih tetap seperti sedia kala, sementara ia sedang menghela napas, tiba-tiba terdengar anak Bu-jin berseru, “Ibu, setiap hari aku dan adik Ciau pasti datang kemari untuk mengatur pepohonan di sini.”

“Enci Ti, jangan dilihat bocah-bocah itu kurang ajar, tanpa undangan atau ijin dari Bu-jin, siapapun tak ada yang berani datang kemari,” Ciu-ing segera menyela.

“Cici, kalian terlalu baik kepadaku!”

“Adik Ti,” sela Ong Sam, “diantara orang sendiri kau tak usah merendah, Bu-jin memang sangat pintar, justru dialah yang memimpin adik-adiknya selama ini…”

“Ibu, memang benar begitu,” tiba-tiba Bu-jin menyela, “semua saudara takut denganku, tapi aku justru takut dengan Bu-Ciau, asal dia mendelik, aku sudah ketakutan setengah mati.”

Ucapan tersebut segera disambut gelak tertawa semua orang. “Bu-jin,” Gou-ti berkata, “di kemudian hari kau harus menuruti perkataan adik Ciau, harus membantunya, agar kalian bersaudara dapat selalu akrab.”

“Pasti ibu, adik Ciau juga takut padaku, setiap kali aku menangis lantaran rindu padamu, adik Ciau akan kebingungan dibuatnya.”

Dengan penuh kasih sayang Gou-ti memeluk putrinya. “Bu-jin,” katanya kemudian, “selanjutnya ibu pasti akan meluangkan banyak waktu untuk menemanimu, tapi kau tak boleh sengaja membuat murung adik Ciau.”

“Aku berjanji ibu, tapi… kau masih akan pergi lagi?”

“Ehmm, menurut tabib, ibu harus berobat satu tahun lagi sebelum sehat seperti sedia kala, setelah itu kita tak akan berpisah lagi.”

“Sungguh?”

“Ehmm, masa orang dewasa membohongi anak kecil? Sekarang tidurlah dulu.”

Bu-jin berpaling ke arah Ong Sam, bertanya. “Ayah, bolehkah aku tidur dengan ibu malam ini?”

“Tentu saja boleh, selama ibu di rumah, kau boleh tidur bersamanya.”

“Terima kasih ayah, Bu-jin pergi tidur siang,” setelah memberi hormat kepada semua orang, dia pun berlalu dari situ.

Memandang hingga bayangan punggung putrinya lenyap dari pandangan, Gou-ti baru berkata sambil menghela napas, “Engkoh Huan, cici semua, terima kasih, kalian telah memelihara dan mendidik Bu-jin hingga sehebat sekarang.”

“Adik Ti, aku tidak berani berebut jasa,” sela Ong Sam tertawa, “semua keberhasilan itu adalah hasil karya adik Ing dan semuanya, bahkan aku sudah berencana hendak mendirikan sebuah perkumpulan yang dinamakan Hay-it-pang.”

“Perkumpulan Hay-it-pang?”

“Betul. Toh anggota keluarga kita sangat banyak, dari ketua sampai peronda bisa kita tangani semuanya, apalagi bakat bocah-bocah itu sangat menjanjikan, sudah sepantasnya kalau kita muncul sebagai sebuah kekuatan baru.”

“Betul sekali, pemikiran semacam ini memang sesuai dengan kondisi dalam masyarakat sekarang, kenapa tidak segera dilaksanakan?”

Ong Sam tertawa. “Mungkin lantaran kita sudah terlalu lama hidup mengasingkan diri, kehidupan bersantai tiap hari membuat orang jadi malas, tak punya semangat lagi untuk cari nama dan kedudukan, apalagi kekayaan keluarga Ong kan cukup untuk menghidupi beberapa generasi.”

“Engkoh Huan, pemikiran semacam itu pas jika situasi dunia aman dan tenteram,” kata Gou-ti serius, “tapi menurut pengamatanku, dunia persilatan saat ini sedang dilanda gejolak yang mengerikan.”

Kaget bercampur tertegun Ong Sam dan dua belas tusuk konde emas sesudah mendengar perkataan itu.

“Engkoh Huan, cici sekalian, semenjak empat tahun berselang, di daratan Tionggoan telah muncul sebuah organisasi massa yang dinamakan Tay-ka-lok, artinya gembira untuk semua orang, bukan saja banyak teman persilatan yang bergabung dengan organisasi itu, rakyat biasa pun banyak yang mendaftarkan diri.”

“Tay-ka-lok?” Ong Sam tercengang, “dari nama organisasi itu semestinya organisasi mereka merupakan satu perkumpulan untuk bersenangsenang, darimana bisa membahayakan masyarakat umum?”

“Aaai! Yang dimaksud Tay-ka-lok sebetulnya tak beda dengan sebutan Paykiu, kiu-kiu dan sebangsanya, merupakan istilah di dalam perjudian, bukan saja mereka punya daya tarik yang luar biasa, kehancuran yang timbul akibat permainan itu beribu kali lipat lebih dahsyat ketimbang permainan judi.”

“Wow, permainan yang begitu mengasyikkan?”

“Bila kau berada di daratan Tionggoan, bukan cuma di gedung pertemuan, bahkan di jalanan atau lorong kecil pun, asal kau mau perhatian pasti akan mendengar banyak orang sedang meramal nomor berapa yang bakal keluar nanti. Yang mereka maksud nomor adalah nomor pemenang pacuan kuda yang keluar sebagai juara pada tanggal lima, lima belas dan dua puluh lima.”

“Ooh, rupanya mereka gunakan pacuan kuda sebagai judi buntutan? Jadi mirip sekali dengan taruhan orang tentang siapa yang bakal terpilih menjadi Bulim Bengcu?”

“Benar, taruhan siapa yang jadi Bulim Bengcu hanya diselenggarakan berapa tahun satu kali, sehingga meski kalah taruhan tak bakal mencelakai orang, beda sekali dengan organisasi Tay-ka-lok, satu bulan diadakan taruhan sebanyak tiga kali, setiap kali berapa juta orang yang terlibat dalam pertaruhan itu...”

“Apa? Ada jutaan orang yang ikut taruhan?”

“Betul, menurut data terakhir yang kudengar, sudah ada dua puluh juta orang yang terjerumus dalam pertaruhan semacam itu.”

“Haah? Begitu besar pengaruh Tay-ka-lok?” seru Ong Sam terperanjat.

“Betul, sembilan ekor kuda saling berlomba sejauh sepuluh li, pada akhirnya pasti ada seekor kuda yang mencapai finish duluan, asal orang yang memegang nomor kuda juara itu maka mereka bisa mendapat uang taruhan yang besar sekali. Ambil contoh kota Kim-leng. kau masih ingat dengan perusahaan ekspedisi Kim-leng piaukiok? Sekarang mereka tidak usaha ekspedisi lagi, di luar kota mereka membeli tanah seluas puluhan hektar dan mendirikan arena pacuan kuda plus tempat peristirahatan. Setiap tanggal lima, lima belas dan dua puluh lima, di arena pacuan kuda Kim-leng akan diselenggarakan lomba pacuan kuda, tiap kali diselenggarakan ada empat lima juta orang yang ikut bertaruh, tiap taruhan bernilai satu tahil perak. Setiap kali selesai berlomba, siapapun yang menang, pihak Kim-leng piaukiok akan mengambil satu persen dulu sebagai uang jasa, coba hitung sendiri, kalau tiap kali bisa meraup empat lima juta tahil perak, satu persennya berarti empat lima puluh ribu tahil perak.”

“Hmmm, hebat amat sistim itu, tidak sampai tiga bulan bukankah semua modal mereka sudah balik?” dengus Ong Sam.

“Benar, dari sembilan nomor yang tersedia, asal kita pilih satu di antaranya dan menang maka kau bisa menangkan uang taruhan dari delapan nomor yang lain, apalagi bila nomornya ’kandang’ alias tidak tertebak, hadiah bisa luar biasa besarnya.”

“Bagaimana kalau kita beli semua kesembilan nomor itu?” tanya Ong Sam setelah termenung berpikir sebentar.

“Engkoh Huan, aku pernah coba caramu itu, akhirnya aku keluar uang sembilan tahil tapi yang dimenangkan cuma dua tahil lebih, rugi besar!”

“Hmm, kalau aku si penyelenggara pacuan kuda, akan kuatur perlombaan itu agar beberapa kali ’kandang’, lalu dengan keluar uang satu tahil perak, aku keluarkan nomor kuda yang paling sedikit pasangannya, bukankah aku bakal meraih keuntungan yang luar biasa?”

“Aaah, betul juga!” teriak Gou-ti kaget, “asal kita gunakan kuda yang berbeda tiap kali berlomba, lalu nomor kuda pemenang selalu diatur nomor kuda yang paling sedikit pasangan taruhannya, bukankah tiap kali berlomba, si bandar akan meraup kemenangan luar biasa?”

”Bagus, kalau begitu biar aku pulang ke kota Kim-leng dan membuka sebuah pacuan kuda juga, dengan bocah-bocah sebagai jokinya, aku yakin tak sampai satu tahun kekayaanku sudah membukit!”

“Engkoh Huan, jika ada orang memberi petunjuk secara diam-diam lalu membuat kekacauan pada saat yang tepat, mungkin masalahnya bisa berubah jadi serius,” Ciu-ing mengingatkan.

“Betul sekali!” Ong Sam mengangguk serius, “Adik Ti, apa selama ini pihak kerajaan dan sembilan partai besar tidak berusaha mencegah, melarang atau menghalangi ulah mereka?”

“Pernah sih pernah, konon sudah melibatkan banyak orang, tapi siapa sih yang tak pingin kaya raya dalam semalaman? Bukan saja semua orang jadi gila harta, gila bertaruh, ditambah lagi dengan beberapa alasan, bukannya padam dan surut, permainan tersebut malah semakin merajalela.”

Semakin dipikir Ong Sam merasa semakin ngeri, ia berkata kemudian setelah menghela napas panjang. “Kalau kekuatan kelewat lama bersatu, akhirnya pasti akan berpisah, bila lama berpisah akhirnya akan bersatu kembali, selama puluhan tahun terakhir, dunia persilatan selalu aman dan tenteram, kelihatannya kekacauan segera akan melanda seluruh dunia.”

“Engkoh Huan, cici sekalian,” sela Gou-ti tiba-tiba, “demi masa depan bocah-bocah serta kemampuan mereka untuk menghadapi perubahan dalam dunia, apa tidak mulai dipertimbangkan perubahan sistim pendidikan serta materi pendidikan?”

Ong Sam berpikir sejenak, lalu katanya: “Ehmm, memang perlu rasanya, adik semua, bagaimana pendapat kalian?”

Dua belas tusuk konde serentak manggut-manggut. Ciu-ing berkata, “Kecerdasan Bu-jin dan Bu-ciau melebihi kebanyakan orang, bocah lainnya juga tunduk di bawah pengawasan mereka, asal diberi arahan, semestinya mereka dapat menerima perubahan itu.”

Kemudian setelah berhenti sejenak, dia berujar lagi. “Engkoh Huan, cici, kalian teruskan pembicaraan, aku ingin mengundurkan diri lebih dulu!” Bersama sebelas orang tusuk konde lain, mereka bersama-sama meninggalkan pesanggrahan Ti-wan.

Memandang hingga bayangan punggung orang itu lenyap dari pandangan, Ong Sam baru berkata lagi dengan nada kuatir, “Apakah belum ada kabar berita dari saudara Si?”

“Aaai, kabar beritanya seakan batu yang tenggelam di tengah samudra, sama sekali tiada kabar apa-apa.”

“Jangan putus asa, adik Han toh pernah meramalkan nasibmu, konon akhir tahun depan kau bisa berjumpa ladi dengan saudara Si, bukan begitu?”

“Haai… ramalan hanya sesuatu janji yang semu, tanpa dasar bukti yang pasti mana aku boleh percaya? Tapi aku memang kagum dengan cici Han, dia makin lama semakin memikat hati.”

“Adik Ti, kau tak usah mengagumi mereka, apa kau tidak merasa bahwa dirimu terlihat lebih matang dan semakin seksi?”

Berkilat sepasang mata Gou-ti setelah mendengar perkataan itu, ia lekas berseru tak tahan. “Engkoh Huan, kau pun berpendapat begitu?”

“Benar adik Ti, aku tidak bohong.”

Berkaca sepasang mata Gou-ti karena linangan air mata, gumamnya, ”Engkoh Huan, berilah satu kali kesempatan lagi, bila kali ini aku gagal menemukan jejaknya, aku akan matikan perasaanku ini. Sampai waktunya, aku akan tinggal di pesanggrahan Ti-wan dan selama hidup melayani kau, aku akan melayani semua kemauanmu demi membalas budi kebaikanmu terhadap aku serta Bu-jin selama ini.”

“Adik Ti, aku pasti akan menunggumu!”

“Engkoh Huan…” sambil berseru, ia segera menubruk ke dalam pelukannya.

Sambil memeluk kekasih hatinya, Ong Sam merasa pikiran serta perasaan hatinya bergejolak keras. Setelah mengetahui asal-usul Bu-jin yang sebenarnya, semula dia bertekad akan melupakan perempuan ini, tapi bayangan tubuhnya sudah kelewat dalam membekas dalam benaknya.
Apalagi mengikuti berlalunya sang waktu, perasaan itu membekas semakin nyata.

Hari ini, ketika ia mendapat tahu kalau ia masih tak berhasil menemukan Si-jin, bara api harapan sekali lagi timbul, apalagi ketika tubuh yang lembut dan harum berada di dalam pelukannya sekarang, dia benar-benar tak sanggup mengendalikan diri.

Ketika Gou-ti berjumpa dengan Si-jin tempo hari di kota Lokyang, ia jatuh hati pada pandangan pertama, tidak sampai tiga bulan berkenalan, dengan hati ikhlas dia persembahkan keperawanannya kepada pemuda itu. Sejak itu mereka berdua hampir selalu bersama mengunjungi tempat-tempat yang terkenal di sekitar kota Lokyang.

Tapi suatu pagi, ketika Gou-ti terbangun dari tidurnya dalam sebuah rumah penginapan, ia menjumpai Si-jin telah hilang lenyap tak berbekas, maka dia pun mulai melacak keberadaannya. Tapi pada saat itulah dia menjumpai dirinya mulai hamil. Demi masa depan jabang bayinya maka dia menggunakan pelbagai cara untuk bisa dinikahi Ong Sam, siapa tahu “manusia boleh berusaha, Tuhan lah yang punya kuasa”, asal-usul anak Bu-jin akhirnya terbongkar juga.

Dalam keadaan demikian, terpaksa sekali lagi dia mengembara di seluruh pelosok dunia untuk mencari jejak Si-jin. Selama sepuluh tahun, dia sudah menjelajahi hampir setiap sudut kota baik di Kwan-lwe maupun Kwan-gwa, puluhan ribu orang sudah ditanyai, namun bukan saja tak ada yang pernah bersua dengan Si-jin, kabar beritanya pun sama sekali tak ada.

Selama ini, dia pun sudah banyak menghadapi intrik serta akal busuk banyak orang yang berusaha ikut ’mencicipi’ kehangatan tubuhnya, masih untung dia cerdas dan kungfunya hebat, hingga setiap kali selalu berhasil lolos dari cakaran ’serigala pemakan perempuan’.

Dalam keputus-asaan akhirnya ia balik ke pesanggrahan Hay-thian, rencana semula dia ingin menemani Bu-jin untuk melewati sisa hidupnya. Tapi ramalan dari Han-Gi kembali membangkitkan pengharapannya. Meski di mulut dia bilang tak percaya, tapi api pengharapan justru semakin berkobar.

Biarpun harapan itu sangat kecil, ia tetap ingin mencobanya. Selama sepuluh tahun mengembara, Gou-ti selalu berusaha menahan kebutuhan biologisnya, tapi sekarang, pelukan yang begitu mesra dan hangat membuat perempuan ini tak sanggup membendung kebutuhannya lagi, ibarat bendungan yang jebol, nafsu birahi seketika menguasai pikiran dan perasaan hatinya.

Begitu pula dengan Ong Sam, perpisahan selama sepuluh tahun dengan perempuan ini membuat birahi yang tertanam selama ini seketika berkobar, pelukan perempuan itu membuat batangnya langsung menegang keras bagai tombak baja.

“Engkoh Huan, bopong aku ke atas ranjang!” pinta Gou-ti lirih.

Seketika Ong Sam merasakan lidahnya kering dan hawa panas menyelimuti seluruh tubuhnya, ia tak kuasa menahan diri lagi, disambarnya tubuh perempuan itu lalu setengah berlari masuk ke dalam kamar. Matahari masih bersinar cerah di angkasa menimbulkan udara panas di sekitar gedung, tapi panasnya matahari tak bisa menangkan panasnya suasana dalam kamar pesanggrahan Ti-wan.

Di atas ranjang, ia belai rambut panjang Gou-ti dengan penuh kasih sayang, sampai bahu wanita itu terlihat lemas dan santai, pertanda sudah benar-benar pasrah. Ong sam kemudian memindahkan belaiannya ke punggung sang istri.

Sebenarnya saat itu Gou-ti telah sangat birahi karena telah berada dalam pelukan orang yang sangat mengasihinya. Karena kepalanya tersandar di dada Ong sam, dia dapat dengan jelas mendengar betapa cepat degup jantung laki-laki itu. Gou-ti mencoba mendongakkan kepalanya sedikit untuk melihat wajah sang suami. Matanya langsung bertemu dengan mata Ong sam. Saat itulah, tiba-tiba jantungnya serasa berhenti berdenyut dan seluruh otot tubuhnya menegang, bukan karena ia melihat hantu di siang bolong, melainkan karena Ong sam perlahan-lahan semakin mendekatkan muka ke arahnya dan bibir laki-laki itu mengarah ke bibirnya.

Kedua bibir pun bertaut. Gou-ti yang sudah lama tidak disentuh laki-laki, serasa lepas nyawa dari raganya, ia hanya dapat memejamkan mata. Gou-ti dapat merasakan Ong sam mulai melumat bibirnya dengan penuh kelembutan. Setelah sesaat terdiam, hanya dengan memperturutkan nalurinya saja dia pun mulai membalas lumatan bibir laki-laki itu. Seluruh bulu ditubuh Gou-ti meremang merasakan betapa tangan Ong sam mulai membelai hampir seluruh bagian atas tubuhnya.

Tangan laki-laki itu meremas lembut payudara kirinya. Gou-ti hanya dapat menggumam tak jelas, ia cuma bisa meremas lengan sang suami dengan gemas. Ong sam menyingkapkan baju yang dipakainya ke atas, berusaha melepaskan penghalang pertama sambil menghentikan pagutannya. Gou-ti tetap memejamkan matanya, tetapi dengan perlahan menaikkan kedua tangganya menyetujui tindakan sang suami.

Penghalang pertama melayang ke samping ranjang dengan mudah. Sejenak mata Ong sam terpaku pada kedua bukit di dada Gou-ti, payudara yang tertutup BH hitam itu terlihat begitu besar, juga sangat bulat dan putih mulus, serasi dengan kulit Gou-ti yang kuning langsat. Dengan jari bergetar Ong sam menurunkan kedua tali BH itu kesamping, tersibaknya sang penutup membuat laki-laki itu terpaksa meneguk liurnya.

Di depannya, kini terpampang dua buki bulat yang tegak menantang dengan puncaknya yang menonjol mungil bersemu merah jambu. Kembali disambarnya bibir Gou-ti dengan pagutan, dengan lembut Ong sam membaringkan wanita itu di ranjang yang kali ini langsung memeluk lehernya seakan tak ingin terpisah lagi.

Sebagian tubuh Ong sam telah berada diatas tubuh telanjang sang istri, paha kananya diselipkan diantara kedua paha wanita itu. Dilepasnya pagutan di vivir Gou-ti yang terlentang pasrah, ciumannya segera merambat ke pipi, ke leher dan belakang telinga wanita itu, dan terus merambat turun ke arah kedua bukit Gou-ti yang indah.

Gou-ti tergetar dan mendesah panjang ketika mulut Ong sam mulai menghisap-hisap puncak buah dadanya dengan disertai jilatan-jilatan lidah yang lincah memainkan putingnya. Dia membuka matanya, meraih bantal untuk menyangga kepalanya, dengan demikian dia dapat dengan jelas mengamati semua perbuatan laki-laki itu.

Dibelainya kepala sang suami yang seperti bayi kehausan menetek pada ibunya, sebentar di dada kanan sebentar di dada kiri, senyum manis tersungging di bibir Gou-ti, hatinya terasa penuh dengan luapan nafsu birahi. Sesekali kepalanya terdongak disertai desahan panjang jika Ong sam mempermainkan buah dadanya dengan sedikit ganas.

Gou-ti kembali mengejang dan menggigit bibirnya sendiri, ia dapat merasakan bahwa tangan kanan laki-laki itu mulai turun ke arah perutnya, dan terus bergerak perlahan ke bawah hingga berhasil hinggap diatas lembah kenikmatannya. Masih ada penghalang kedua disana, celana dalam Gou-ti yang mungil.

Dengan jari tengahnya Ong sam memberikan sentuhan- sentuhan lembut di belahan lembah itu. Ia dapat merasakan bahwa celana sang istri telah basah dibagian itu. Gou-ti rupanya telah sangat terbakar nafsu.

“Engkoh Huan, ” desah wanita itu lirih sekali.

Ong sam tidak sedikitpun menghentikan kegiatannya. Mulut dan lidahnya terus bermain di kedua puncak buah dada sang istri, sementara jemarinya terus menjelajahi lembah basah Gou-ti dengan lembut.

Kali ini Gou-ti benar-benar menggigit bibirnya, ketika ia merasakan jemari sang suami mulai mengait pinggiran celana dalamnya dan berusaha menarik penghalang kedua itu ke bawah. Dia mengangkat sedikit pinggulnya untuk memberikan keleluasaan bagi laki-laki itu. Gou-ti menekuk kakinya ke atas mengikuti tarikan Ong sam. Penghalang kedua pun juga terbang ke samping ranjang.

Telapak tangan Ong sam mulai merambat dari ujung kaki Gou-ti, terus bergerak ke atas ke arah betis, merambat ke paha bagian dalam untuk kemudian kembali hinggap diatas lembah wanita itu. Terasa bulu-bulu halus  sedikit menghiasi disana. Jemari Ong sam dengan gemas menjelajahi belahannya yang terasa basah, juga dinding tebingnya yang empuk dan lembut. Dia melakukannya dengan penuh cinta dan kasih sayang, membuat Gou-ti sampai terkejang-kejang dengan kedua paha wanita itu merapat menjepit paha sang suami.

Ong sam mulai bergerak turun, jilatannya juga ikut merambat turun. Lidah itu mengincar belahan lembah basah. Bau harum menyeruak ke dalam hidungnya manakala dia mengendusnya. Agaknya sebagai orang yang berdarah biru, Gou-ti pandai merawat tubuhnya. Pada saat lidah Ong sam mulai menari di dalam lembah basah itu, wanita itu pun langsung terdongak ke atas. Mulutnya terkatup rapat, berusaha menahan lenguhannya. Kedua tangan Gou-ti tanpa sadar telah meremas-remas rambut sang suami. Ia sudah sampai pada tahap pasrah, apapun perbuatan Ong sam, ia akan membiarkannya.

Seluruh tubuh Gou-ti makin mengejang, ia hanya dapat merintih menyebut nama sang suami. Malah terkadang hanya terdengar lenguhan bercampur gumaman yang tak jelas, nafasnya semakin cepat memburu. Hingga suatu saat, ketika sudah tidak tertahankan lagi, tubuhnya pun tersentak keras, kedua tangannya berusaha menutupi jeritan dari mulutnya, kedua pahanya yang putih mulus menjepit erat kepala Ong sam. Gou-ti telah mendapatkan puncak kenikmatannya.

Membiarkan sang istri menikmati orgasmenya, Ong Sam cepat melepasi seluruh pakaiannya hingga mereka dalam posisi sama-sama telanjang sekarang. Nafas Gou-ti masih tersengal-sengal ketika dia merasakan pergerakan tubuh sang suami yang mulai merayap naik ke atas tubuh sintalnya. Laki-laki itu dengan mudahnya memposisikan diri diantara kedua pahanya. Wajah keduanya kembali berhadapan dengan begitu dekat, tetapi bukan itu yang membuat Gou-ti mendadak mengeluarkan keringat dingin. Jauh dibawah sana, dilembah basah miliknya, sesuatu yang hangat terasa menyentuh dan sedikit menekan belahan bibir memeknya, itu yang membuat wanita  itu seperti terserang demam. Dia sudah berpengalaman untuk mengetahui apa dan mau apa benda itu berada disana.

Ong sam menatapnya lekat-lekat, “Adik Ti, aku akan melakukannya sekarang.” bisik laki-laki itu dengan nafas agak memburu.

Gou-ti membalas tatapan sang suami dengan sedikit sendu, mata bulatnya menjawab, “Lakukan, Koh!”

“Aku sudah rindu dengan tubuhmu.” bisik Ong sam dan mulai mendekatkan bibirnya. Dia melumat payudara bulat Gou-ti dengan penuh nafsu.

Memekik lirih, Gou-ti menyembunyikan mukanya ke leher sang suami saat di bawah sana, pinggul Ong sam mulai bergerak memainkan penisnya, berusaha mencari celah diantara bibir vaginanya. Gesekan kepala dan batang penis Ong sam makin membuat celah itu basah dan terbuka lebar. Kenikmatan yang ditimbulkannya membuat Gou-ti ikut menggerak-menggerakkan pingulnya membantu percepatan kepala penis itu menemukan dan masuk gerbang nirwana miliknya.

“Sini, Koh, biar adik bantu mengarahkan. Adik sudah tidak tahan ingin merasakan tongkat Engkoh masuk ke lubang adik.” bisik Gou-ti terengah-engah.

Ong sam mengangkat tubuhnya dan bertumpu pada kedua tangannya, sementara Gou-ti langsung mengulurkan tangan kanannya ke bawah. Digenggamnya batang penis sang suami yang keras dan panjang. Sejenak dia terkejut dan berpikir apakah benda ini lebih besar daripada terakhir kali dia merasakannya? Apakah batang ini akan muat masuk ke dalam lubang kemaluannya yang sempit, yang jarang dipakai? Tapi dorongan nafsu yang menggebu membuat Gou-ti tak mau banyak berpikir lagi. Dibimbing dan diarahkannya kepala penis sang suami ke arah belahan vaginanya.

Ong sam ikut memperhatikan perbuatan wanita cantik itu. Saat Gou-ti menarik sedikit batang penisnya, dia segera mengikuti tarikan itu. Mulai terasa kepala penisnya membelah bibir vagina sang istri.

“Sekarang, Koh. Tekan sekarang!” desis Gou-ti.

Ong sam mulai mendorong pinggulnya perlahan-lahan. Kepala penisnya menekan dan menguak bibir vagina sang istri. Terasa kepala penisnya mulai masuk sedikit demi sedikit. Rasanya sungguh luar biasa, kepala penisnya bagai diremas-remas lembut oleh vagina sempit Gou-ti. Sensasi yang ditimbulkannya membuat Ong sam mendongakkan kepala dan melenguh pelan.

Ketika seperempat penisnya masuk ke dalam, Ong sam terpaksa menghentikannya sejenak karena penisnya terasa begitu ngilu akibat kuatnya cengkeraman liang vagina sang istri.  Ong sam menundukkan kepala dan membuka matanya. Dilihatnya betapa dahi Gou-ti berkerut-kerut dengan mata dan mulut terkatup rapat menahan perih. Air mata wanita itu pun mengalir tak tertahankan lagi.

Ong sam bergerak hendak mencabut penisnya, tapi... “Jangan, Koh. Jangan dicabut. Maafkan adik yang tak kuat menahan sakitnya. Biarkan saja batang Engkoh berada di dalam. Jangan dicabut. Mungkin kalau sudah terbiasa, tidak akan sakit lagi. Ini karena adik jarang melakukannya, jadinya sakit begini.” ceracau Gou-ti sambil tangannya menahan gerakan pinggul sang suami.

“Maafkan aku. Aku tidak tahu kalau adik kesakitan. Aku egois sekali.” kata Ong sam, ditahannya kedudukan penisnya dalam vagina wanita cantik itu. Tapi dia tidak sepenuhnya, siapapun yang melihat tubuh montok Gou-ti pasti juga tidak akan tahan. Diturunkannya tubuhnya pelan-pelan ke atas tubuh sang istri, dipeluknya wanita cantik itu dan kembali dilumatnya bibir Gou-ti yang merah tipis.

Gou-ti membalas dengan ganas saat Ong sam menurunkan sasarannya ke bawah, laki-laki melumat habis kedua buah dadanya yang bulat dan ranum. Kenikmatan cumbuan itu perlahan mulai menghilangkan perih di selangkangannya sedikit demi sedikit.

“Masukkan semuanya, Koh. Masukkan semuanya sekarang.” bisiknya setelah dirasakannya rasa perih divaginanya telah jauh berkurang.

Ong sam menatapnya sejenak. Disambarnya bibir Gou-ti sekali lagi dan dilumatnya dengan rakus. Pada saat itu lah, dia juga mendorong maju pinggulnya. Tanpa bisa dicegah, penisnya yang besar menerobos masuk dan menghunjam kemaluan sempit sang istri dengan begitu keras. Mata Gou-ti sampai mendelik karenanya, kepalanya juga ikut terdongak. Ong sam segera menyumbat mulut wanita itu dengan ciumannya agar tidak berteriak keras.

Dia lalu mendorong sekuatnya, mendorong habis seluruh batang penisnya ke dalam liang vagina sang istri. ”Auwghhhhh..!” jeritan Gou-ti pun pecah, merasakan vaginanya yang terobek perih. Tubuh montoknya mengejang hebat.

Ong sam sendiri menggeram dengan kening berkerut, ia merasakan nikmat yang amat sangat saat kepala dan batang penisnya bergesekan dengan ketatnya liang vagina sang istri. Tetapi disaat yang sama, ia juga merasakan ngilu karena kuatnya cengkeraman vagina wanita cantik itu.

Gou-ti terisak pelan, dipeluknya tubuh sang suami erat-erat. Ong sam balas memeluknya. “Tahan ya, Dik. Tahan sebentar.” bisiknya berulang kali. Cukup lama keduanya dalam keadaan berpelukan seperti itu. Penis Ong sam masih terbenam dengan gagahnya di dalam liang vagina sang istri.

Gou-ti mengangguk pelan, “I-iya, Koh. Sudah mulai enak kok sekarang.” bisiknya sambil menciumi muka sang suami. ”Maafkan adik ya, Adik kok malah jadi nangis seperti ini. Padahal kita kan harusnya gembira karena bisa berkumpul kembali.” Gou-ti mulai tersenyum.

“Adik Ti,” cuma itu bisikan dari Ong sam. Memang apa yang dikatakan wanita itu, mereka harus memanfaatkan pertemuan ini dengan sebaik mungkin.

Ong sam pun mulai menciumi istrinya dengan ganas. Pinggulnya mulai bergerak perlahan, menarik dan mendorong penisnya. Sesekali masih terasa liang vagina Gou-ti mencengkeram kuat batang penisnya, hanya saja kali ini semuanya semakin menambah kenikmatan bagi mereka.

Semakin lama terasa bahwa liang vagina wanita itu semakin basah, tanda bahwa rasa perih yang dirasakan Gou-ti telah mulai hilang. Ini terlihat dari mulai terdengarnya gumaman tak jelas dari mulut wanita cantik itu.

Ong sam jadi sedikit lebih cepat menarik-sorongkan penisnya. Reaksinya sungguh dahsyat, mereka kembali menggeram nikmat dibuatnya. Apalagi sekarang pinggul Gou-ti juga mulai bergerak mengimbangi, membuat permainan itu jadi semakin sempurna.

“Engkoh Huan,” erang Gou-ti, “Enak, Koh. Terus. Enak sekali.”

Mendengarnya, Ong sam jadi makin semangat. Dipeluknya kuat-kuat tubuh montok sang istri sambil makin mempercepat gerakan pinggulnya. Tubuh Gou-ti sampai menggeliat-geliat dibuatnya. Erangan demi erangan wanita cantik itu semakin memacu gerakan liar Ong sam. Gesekan kelamin itu membuat keduanya benar-benar melupakan segalanya, membuat keduanya seakan tuli tak mendengar betapa suara erangan merdu mereka dapat saja terdengar oleh orang lain. Belum lagi suara derat-derit ranjang kayu yang menjadi arena pertarungan nafsu mereka itu.

Gou-ti merasa seluruh liang vaginanya penuh disesaki oleh batang penis sang suami. Ditarik ataupun didorong, kenikmatan pergesekan batang penis dan dinding vaginanya tidak dapat lagi dilukiskan. Sementara kepala Ong sam sudah beberapa saat yang lalu terhenti diatas buah dada kiri sang istri. Ia dengan buas menetek disana sambil memeluk erat tubuh mulus Gou-ti, hampir seluruh indranya terpusat pada kenikmatan yang dirasakan ketika kepala dan batang penisnya keluar masuk di lubang surga milik sang istri yang sempit dan legit.

Mereka saling berpelukan, saling bergumul dengan ganasnya. Pengalaman selama sepuluh tahun menggilir dua belas tusuk konde emasnya saban malam, membuat pengalaman dan teknik ranjang Ong Sam mengalami kemajuan pesat, apalagi tenaga dalamnya yang semakin sempurna membuat kemampuannya berbuat intim betul-betul luar biasa dan amat berpengalaman.

Sebaliknya Gou-ti merasa walaupun penis Ong Sam kalah besar dan kalah keras dibandingkan milik Si-jin, tapi ’jurus kembangan’ serta variasi yang dimiliki lelaki ini jauh lebih matang dan hebat sehingga dapat menutupi semua kekurangan tersebut, tak heran kalau perempuan ini tak sanggup bertahan terlalu lama. Setelah menggeliat tiada hentinya sesaat, lambat laun perempuan itu kembali mendekati puncak birahinya.

Gou-ti menjerit lirih merasakan kepala penis Ong sam semakin lama semakin keras saja rasanya dan ditambah gerakan keluar masuknya yang semakin cepat tak beraturan membuat kenikmatan yang dirasakannya bertambah berkali lipat. Tampak badannya gemetar keras, rintihan dan jeritan bergema tiada hentinya. Tubuh perempuan itu bergetar, “Adik tidak tahan lagi, Koh. Oughhhh... tidak tahan!” ceracau Gou-ti sambil mencengkeram kuat bantal di bawah kepalanya. Tak lama kemudian, perempuan itu sudah mencapai puncaknya.

Ong Sam juga semakin terangsang, goyangannya semakin tidak terkendali. Dia terus menggerakkan pinggulnya dengan cepat. Laki-laki itu merasakan bahwa liang vagina sang istri berdenyut-denyut kuat tak beraturan saat perempuan itu orgasme. Ugh, nikmatnya bukan kepalang. Ong sam juga merasakan ada sesuatu juga yang berdenyut-denyut di pangkal batang penisnya. Hingga tak lama kemudian, ia merasakan seluruh badannya mengejang keras, ’ujung tombak’nya terasa gatal sekali, dia tahu sebentar lagi dirinya pun akan mencapai puncaknya.

Buru-buru Ong sam mencabut keluar penisnya kemudian ditembakkan ke atas pusar sang istri.
Cairan putih yang kental dan berbau anyir menyembur keluar mengotori dada serta pusar Gou-ti, sampai lama… lama kemudian Ong Sam baru merebahkan diri lemas di sisi ranjang.

Keduanya saling bertatapan mesra, Gou-ti membelai-belai rambut sang suami. Nafas keduanya masih saling memburu. Sisa denyutan penis dan vagina yang baru saja menyatu itu masih tetap terasa dan menimbulkan kenikmatan tersendiri bagi keduanya.

Gou-ti tahu, lelaki itu kuatir dirinya hamil sehingga mengambil tindakan tersebut, tak kuasa lagi ia berbisik dengan perasaan sedih. “Engkoh Huan, maaf, aku tak bisa memuaskan dirimu.” seraya berkata dia ambil sebuah handuk dan mulai membersihkan tubuh montoknya.

“Adik Ti, tak usah sedih,” sahut Ong Sam tertawa, “Selama tahun tahun terakhir, kami selalu menggunakan cara seperti ini untuk berhubungan intim, kalau tidak… wah, berapa banyak tuyul kecil yang bakal hadir lagi di Hay-thian.”

“Engkoh Huan, kalian benar-benar mengagumkan.”

“Adik Ti, tak usah kagum, asal kau bersedia, setiap saat kami akan menerimamu untuk bergabung.”

***

Malam itu, Ong Sam didampingi tiga belas orang wanita berkumpul di pesanggrahan Ti-wan sambil berbincang-bincang. Saat itulah terdengar Han-Gi berkata, “Engkoh Huan, cici Ti, untuk menghadapi perubahan yang terjadi dalam dunia persilatan, kami berdua belas telah melakukan perundingan sore tadi, kesimpulan yang kami buat adalah membiarkan cici Ti mengajak Bu-ciau terjun ke dalam dunia persilatan untuk mencari pengalaman!”

Ciu-ing menambahkan, “Dengan membiarkan Bu-ciau mencari pengalaman dalam dunia persilatan, selain bisa menambah pengetahuannya, sekembali dari berkelana, dia pun bisa mengajarkan kepada saudara-saudara lainnya.”

“Asal adik Ti tidak merasa keberatan, aku pasti akan setuju,” kata Ong Sam sambil tertawa.

“Bagus sekali,” seru Gou-ti, “dengan begitu aku pun tak akan kesepian sepanjang jalan, cuma… perubahan cuaca susah diramalkan, biarpun kalian percaya padaku, aku hanya kuatir bila sampai terjadi sesuatu kejadian di luar dugaan.”

“Cici Ti tak perlu kuatir,” Han-Gi menerangkan, “Bu-ciau punya rejeki yang besar dan umur yang panjang, biarpun terjadi sesuatu dan harus mengalami pelbagai masalah, otomatis semua kesulitan akan berubah jadi selamat.”

“Kalau memang begitu, akan kuterima tanggung jawab ini.”

“Cici Ti,” seru Ciu-ing dengan penuh rasa terima kasih, “aku ucapkan terima kasih terlebih dulu, hanya saja Bu-ciau kelewat agresif dan lagi keras kepala, mungkin akan banyak menyulitkan dirimu!

BERSAMBUNG

0 comments:

Post a Comment

Labels

Seks Umum (1606) pesta seks (888) Sesama Pria (564) Setengah Baya (497) Negeri jiran (462) Cerita Sex (455) Lain-lain (422) Umum (392) Cerita Dewasa (379) Sedarah (353) Daun Muda (277) pemerkosaan (272) Cerita Panas (247) Seks (239) cerita seks (234) Artikel Seks (200) Tante (192) Kisah Seks (187) Adult Story (184) Hot (164) abg (164) Bondage (143) tukar pasangan (138) Cerita Binal (133) Sesama Wanita (120) Cerita sex hot (117) Cerita Sex Pemerkosaan (88) Foto Hot (72) Cerita Sex ABG (68) Cerita sex keren (68) Cerita Sex Umum (66) Cerita sex panas (66) Daftar Isi (62) Artikel (60) Bacajuga (57) Cerita Mesum (54) Cerita Sex Sedarah (50) Cerita Pesta Sex (47) cerita sex selingkuh (45) Cerita Sex Perselingkuhan (43) Cerita Sex Setengah Baya (42) Tips dan Trik (42) Cerita Perselingkuhan (41) Pesta Sex (39) Cerita Hot Dewasa (38) Kesehatan (36) Cerita Fiksi (35) Masturbasi (35) Galeri Foto (33) selingkuh (33) Cerita Panas Daun Muda (32) Cerita Pasutri (32) Cerita Sex Daun Muda (32) Unik (29) Berita (28) Dr Boyke (28) Konsultasi (28) Cerita Sex Dewasa (27) Kisah 1001 Malam Abunawas (27) Prediksi Togel Terbaru (27) Cerita Sex Sekolah (26) 18+ (24) Cerita Sex Tukar Pasangan (23) cerita hot (23) Karya Pengarang Lain (22) Gadis (20) Download Cerita sex (19) A +++ (17) Mahasiswa (17) Bestiality (16) Cerita 18+ (16) Cerita Pemerkosaan (16) arthur (16) bahasa indonesia (16) original (16) Artikel Dewasa (15) Cerita Sex Berseri (15) Cerita Sex Sesama Wanita (15) Kerabat dekat (14) Pengalaman Seks (14) Penyiksaan (14) cerita porno (14) english (14) fanfiction (14) Anime / Manga (13) Cerita Misteri (13) Jilbab Lovers (12) cerita tante (12) Beastiality (11) Cerita Dewasa 17 tahun (11) Cerita Ringan (11) DI bawah umur (11) Movies (11) Cerita Bokep (10) Cerita Sex Dengan Hewan (10) Om om (10) kumpulan cerita dewasa (10) Cerita Hot Perawan (9) Cerita Nafsu Bejat (9) Mahasiswi (9) Sex Umum (9) Tia (9) perawan (9) 17 tahun (8) Cerita (8) Cerita Sex Artis (8) Cerita Terbaru (8) Cerita Three Some (8) Pembantu (8) Cerita SMA (7) Cerita Tante Girang (7) Cheat Lost Saga (7) Doujin (7) Ruang Hati (7) Tips Trick (7) cerita perkosaan (7) cerita seks tante girang (7) cerpen (7) memek tante (7) tante girang (7) Artis (6) Cerita Gay dan Lesbi (6) Cerita Sex Onani dan Masturbasi (6) Kondom (6) Wayang Kulit (6) aids (6) cerita abg bugil (6) cerita jorok (6) cerita ngentot (6) Andani Citra (5) Cerita Sex Lesbian (5) Dongeng (5) Kata Kata (5) Koleksi Langka (5) MISS V (5) Pemaksaan (5) PrediksI Pertandingan Bola (5) Selebriti (5) Togel (5) Trik Sex (5) Zodiak (5) cerita istri selingkuh (5) istri selingkuh (5) ngentot tante (5) Bola (4) Bule (4) Cerita Masturbasi (4) Cheat Point Blank (4) Cinta (4) Eropa (4) Fan Fiction (4) Gadis Kampus (4) Guru (4) Inggris (4) Isteri (4) Italia (4) Prancis (4) Pria Jantan (4) Program kejantanan (4) Waria (4) cerita daun muda (4) cerita dewasa janda (4) cerita memek (4) cerita panas abg17 tahun (4) cerita penis (4) cerita perek (4) cerita seru (4) cerita sex guru (4) cerita tentang janda (4) gadis bandung (4) kisah dewasa (4) memek (4) ngentot pembantu (4) sma (4) soul calibur (4) suikoden 2 (4) Adik Kakak (3) Cerita Artis (3) Cerita Gigolo (3) Cerita Remaja (3) Cerita Sedarah (3) Eksibisi (3) Fantasi Seks (3) Hasil Pertandingan (3) Humor (3) Karya Dr. H (3) Porno (3) abg bandung (3) abg bugil (3) bandar bola (3) bandar casino sbobet (3) bandar judi (3) bandar sbobet (3) bandar situs bola (3) cerita bogel (3) cerita dewasa abg (3) cerita gadis (3) cerita kekasih (3) cerita kontol (3) cerita lonte (3) cerita lucah (3) cerita ml (3) cerita nikah (3) cerita pacaran (3) cerita porn (3) cerita romantis (3) cerita sahabat (3) cerita saru (3) cerita saru 17 tahun (3) cerita seks daun muda (3) cerita seks pembantu (3) cerita seksi (3) cerita seru 17 tahun (3) certa memek (3) cewek abg (3) cewek bugil (3) cewek cantik (3) cewek hot (3) cewek seksi (3) dynasty warriors (3) foto memek (3) gadis bandung bugil (3) kisah daun muda (3) meki tembem (3) memek tante cantik (3) ngentot mama (3) ngentot tante girang (3) polis (3) Antivirus (2) Artis Film Porno (2) Buah Buahan (2) Bugil (2) Cerita Lesbian (2) Cerita Sejenis (2) Cerita Silat (2) Dewasa (2) Horor (2) Karya Diny Yusvita (2) Kisah Kejam (2) ML (2) Majalah Dewasa (2) Makcik (2) Pelacur (2) Penyakit Kelamin (2) Penyanggak (2) Prediksi Euro 2012 (2) Resep Masakan (2) Resep Ramadhan (2) Sesama Jenis (2) Story (2) Travic Sex (2) bercinta dengan pembantu (2) brondong (2) cerita istri (2) cerita janda (2) cerita nikmat (2) cerita pelacur (2) cerita pembantu (2) cerita psk (2) cerita seks ibu (2) cerita seksual (2) cerita sensual (2) cerita sex anak imut (2) cerita sex igo (2) cerita sex suter (2) cerita wts (2) cewek chinese (2) cewek nakal (2) cewek salon bugil (2) code geass (2) enaknya memek tmaam tiri (2) foto istri bugil (2) foto janda (2) foto pelacur (2) istri (2) istri nakal (2) janda (2) kontol (2) montok (2) ngentot (2) ngentot abg (2) ngentot cewek abg (2) ngentot cewek salon (2) ngentot mbak-mbak (2) ngentot tante muda (2) orang (2) pelacur abg (2) pelacur jalang (2) pelacur tante (2) perselingkuhan (2) psk bugil (2) psk telanjang (2) seks dengan tetangga (2) singapore (2) tante binal (2) tante gatel (2) tante girang cari brondong (2) tante jalang (2) tante pelacur (2) tante-tante (2) tempek tante (2) toket tante (2) vagina (2) video sex (2) wanita (2) Alat Kelamin (1) Aminah (1) Ampun Tante.... ampun.... (1) Bali (1) Berawal Dari Langganan (1) Biodata (1) Biografi (1) Bisnis Online (1) Cerita Sadis (1) Cerita Sex Berjilbab (1) Cerita Sex Maria (1) Cerita Tentang Sex (1) Cerita Tukar Pasangan (1) Cerita lepas (1) CeritaDewasa (1) Cie Yeni yang Hot (1) Contoh Surat (1) Datin (1) Dewi dan Tante Anis (1) Difuck (1) Digerudi (1) Ditinggalkan (1) Download (1) Fantasy : Kisah Prita Laura dan Frida Lidwina (1) Foto (1) Foto Hot Dewasa (1) Foto Seks (1) Gadget (1) Gambar Hot (1) Gambar Hot Dewasa (1) Gambar Pasutri (1) Gaya Posisi Seks (1) Gelek (1) Gerimis (1) Gue istri yang bener bener nakal... (1) Guru Murid (1) Hanis (1) Harga Handphone Mito (1) Harga Handphone Nokia (1) Harga Handphone Sony (1) Harnani (1) Hilangnya perjaka ku dengan tante indra (1) Hot News (1) Ibu Muda (1) India (1) Jepang (1) Jika waktu bisa kuulang kembali (1) Kakak (1) Karya Ninja Gaijin (1) Karya Yohana (1) Kenangan di bekas tempat kosku (1) Kenikmatan (1) Khasiat Ramuan Sehat Lelaki (1) Ki Anom Suroto (1) Ki Hadi Sugito (1) Ki Manteb Sudarsono (1) Ki Narto Sabdho (1) Ki Sugino Siswocarito (1) Ki Timbul Hadiprayitno (1) Kisah vania (1) Korea (1) Kost pacarku Nina (1) Lainnya (1) Liani 5: Sex in the Mall (1) Lirik Lagu (1) Lucu (1) Lusi Aku Mencintaimu (1) ML dengan Bu Vivin (1) Malam Pertama (1) Mbak Dina kakak iparku (1) Melissa Anak tiriku (1) Menghangatkan Hujan (1) Menyetubui (1) Mertua (1) Minuman Obat (1) Multi Orgasme (1) Musik (1) Nikmat (1) Nikmatnya (1) Pakcu (1) Pasang Iklan (1) Pegawai Toko Sepatu (1) Pejantan Lugu Tuk Istriku (1) Pendidikan (1) Pengalaman (1) Pengalaman Ngentot Dengan cia (1) Pengetahuan (1) Piala AFC (1) Puisi (1) RENDEVOUS WITH GIRL WHO EVER REFUSE ME…. (1) Ruzita (1) Safura (1) Sakinah (1) Sawiyah (1) Seks Dengan Binatang (1) Selabintana nikmat. (1) Seminar nikmat (1) Shida (1) Shinta (1) Sinopsis Film (1) Softcore (1) Sri Maya [i]Nestina .. what a amazing .. (1) Tablet (1) Take And Give (1) Tante mau tukar pasangan (1) Teman therapisku tersayang (1) Temen kost (1) Tips Suami Istri (1) Tips dan Triks (1) Video Porno (1) Vidio (1) abang (1) abg bugil nakal (1) abg di perkosa (1) abg smu (1) abg smu jakarta (1) abg toge (1) adegan sex (1) anak kuliah yang beruntung (1) anakku (1) angkatku (1) bawah umur (1) benyamin sueb (1) bercinta dengan mbak (1) birahi pembantu (1) biseks (1) calon mertua binal (1) cara ngajak pembantu ML (1) cerita abg smu (1) cerita adegan sex (1) cerita babu (1) cerita birahi (1) cerita bugil abg (1) cerita indonesia sex (1) cerita janda kembang (1) cerita jorok pembantu (1) cerita keperawananku (1) cerita memek X (1) cerita pacar (1) cerita panas indonesia (1) cerita permerkosaan (1) cerita porno X (1) cerita saru X (1) cerita seks dewasa (1) cerita seks janda (1) cerita seks janda kembang (1) cerita seks setengah baya (1) cerita seksual X (1) cerita selangkangan (1) cerita sensual X (1) cerita setengah baya (1) cerita sex bugil (1) cerita sex gadis 18 tahun (1) cerita sex gadis perawan (1) cerita sex indonesia (1) cerita suami istri (1) cerita tante binal (1) cerita tante girang dengan brondong (1) cewek (1) cewek amoy (1) cewek bandung (1) cewek hamil bugil (1) cewek jakarta (1) cewek sma (1) chatter (1) chatting (1) dalam (1) dengan (1) di villa tante (1) ditebuk (1) dosen (1) dosen genit (1) dosen tante girang (1) dukun (1) dvd benyamin (1) dvd kadir doyok (1) dvd warkop (1) enaknya tante girang (1) foto bispak (1) foto istri bugil X (1) foto janda muda (1) foto pembantu bugil (1) foto pembantu diperkosa (1) foto pembantu telanjang (1) foto perek jakarta (1) foto tante girang (1) gadis salon (1) gangbang (1) gersang (1) gohead (1) hatiku (1) hilang keperawanan (1) hypersex (1) ibu berjilbab nakal (1) ibu dosen teman seks (1) ibu hamil (1) ibu tetty (1) ipar ku (1) istri genit (1) istri muda bugil (1) istri muda bugil X (1) istri orang (1) istri pak guru (1) istri selingkuh X (1) istri telanjang (1) istri telanjang X (1) istri teman (1) istri teman genit (1) istri teman menggoda (1) jablay (1) janda binal (1) janda bispak (1) janda bugil (1) janda cantik (1) janda desa (1) janda hot (1) janda muda (1) janda seksi (1) janda stw (1) janda telanjang (1) kandung (1) kegadisan hilang (1) kekasih (1) kekasihku Vie diperdaya mantannya (1) kelentit (1) keperawananku (1) kesalahan yg indah (1) ketemu di jalan (1) kisah tante girang (1) kolaborasi (1) maam tiriku tante girang (1) mahasiswi bugil (1) majikan nakal (1) makan (1) malam (1) malu-malu mau (1) mama temanku binal (1) mama tiriku binal (1) mbak arti (1) mbak cantik (1) mbak tukang lulur (1) memek abg (1) memek gadis (1) memek ibu (1) memek ibu kos (1) memek janda (1) memek merah (1) memek tante girang (1) mengapa harus gangbang ? mengapa ? (1) mengundang (1) mertua genit (1) ml adik ipar (1) ml ama ibu mertua (1) ml di hotel (1) mp3 basiyo (1) mp3 kartolo cs (1) nafsu (1) nge-seks dengan Para Peronda Malam (1) ngentot abg smu (1) ngentot cewek hamil (1) ngentot cewek smu (1) ngentot ibu menyusui (1) ngentot ibu mertua (1) ngentot janda tua (1) ngentot kakak ipar (1) ngentot mama tiri (1) ngentot mertua (1) ngentot saudara (1) ngentot sma (1) ngentot smu (1) ngentot sopir (1) ngentot suster (1) ngentot suster cantik (1) ngentot tante girang kaya (1) ngeseks dengan mama tiri (1) ngetot adik (1) ngetot kakak (1) oral seks (1) pandai (1) pasangan mesum (1) pemaksaan seks (1) pembantu bahenol (1) pembantu bugil (1) pembantu telanjang (1) penis (1) perbesar penis (1) perempuan (1) perkosa (1) pertama (1) pertamaku (1) posisi sex mantap (1) prediksi spanyol vs italia (1) pujaan (1) rakan (1) resep kue (1) riang (1) salon mesum (1) salon plus plus (1) script bisnis (1) sehari (1) sekretaris (1) seks degan mama (1) seks jilbab (1) selangkangan (1) selangkangan gadis (1) seling (1) selingkuh X (1) selingkuh dengan istri teman (1) selingkuh dengan karyawan (1) simpan (1) situs sex perkosa (1) skandal tante (1) sodomi (1) spanyol vs italia (1) street fighter (1) stw (1) suami lugu (1) suami sayang (1) suami selingkuh (1) suster (1) suster cantik (1) tante asih (1) tante baik nafsu (1) tante cari brondong (1) tante dosen (1) tante gaya doggy (1) tante genit (1) tante girang baik (1) tante girang bugil (1) tante girang cantik (1) tante girang cari abg (1) tante girang hot (1) tante girang kaya (1) tante girang merangsang (1) tante girang nafsu (1) tante girang puas (1) tante jilbab genit (1) tante ku aku entot (1) tante ku buas (1) tante manja (1) tante mia (1) tante nakal (1) tante ndut (1) tante ngentot (1) tante sari (1) tante seks (1) tante tetty (1) tantenal (1) template website (1) tetangga tante girang (1) tetanggaku binal (1) threesome (1) tips bola online (1) toge (1) toket (1) toket cewek salon (1) trik mendapatkan tante girang (1) tukang lulur (1) vagina tante (1) wanita beristri (1) wanita diatas (1) wanita setengah baya (1) wanita sex puas (1) warkop dki (1)
 

Kisah Kisah Napsu Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates